Donald Trump di Pusaran Kritik: Fox News hingga Kekhawatiran “Jalta 2”

Donald Trump di Pusaran Kritik: Fox News hingga Kekhawatiran "Jalta 2"
Donald Trump di Pusaran Kritik: Fox News hingga Kekhawatiran "Jalta 2"

Sorothari – 21 Oktober 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dalam sejumlah perkembangan politik terkini, mulai dari sikap kritis Fox News menjelang pemilihan sela 2026, kekhawatiran pemerintah Polandia terhadap rencana negosiasinya dengan Vladimir Putin dan Xi Jinping, hingga hasil survei yang menunjukkan mayoritas warga Polandia menilai kebijakannya merugikan kepentingan negara mereka.

Di Amerika Serikat, Fox News yang selama ini dikenal sebagai corong konservatif mulai menunjukkan sikap berbeda terhadap Donald Trump. Analis politik chief Fox News, Brit Hume, dalam acara Special Report with Bret Baier, menilai kampanye gencar yang dilakukan presiden tidak serta-merta membantu Partai Republik. Menurutnya, kampanye tersebut belum tentu membawa dampak positif bagi elektabilitas partai.

Baca juga:
KPK Rajin Menyambar Koruptor, Ternyata Ada Kaitannya dengan Retret Kepala Daerah

Hume menyoroti sejumlah langkah Trump yang dinilai tidak menguntungkan, termasuk julukan yang diberikan kepada kandidat senator dari Partai Demokrat, James Talarico, sebagai “Tala-freak-o”. Hume menegaskan Talarico bukanlah sosok aneh, melainkan politikus yang berpenampilan santun dan menyenangkan. Ia juga menyoroti kedekatan Trump dengan Vladimir Putin yang dianggap tidak populer di mata publik Amerika, mengingat banyak warga tidak menyukai Presiden Rusia tersebut.

Selain itu, Hume menyebut insiden dengan sekretaris pers Gedung Putih, Katie Zacharia, sebagai fiasco yang turut memperburuk citra. Zacharia, lulusan Pepperdine University berusia 42 tahun, hanya menjabat lima hari sebelum akhirnya diberhentikan setelah terungkap bahwa ia belum lulus ujian pengacara dan tidak memiliki lisensi sebagai advokat. Trump mengaku sempat menanyakan kesiapan Zacharia, “Katie, apakah ini untukmu? Karena kamu tidak perlu ini,” ujarnya dalam sebuah pernyataan. Sejumlah warganet di platform X memuji sikap Hume yang dinilai jujur dan tidak memihak di kanal berita konservatif tersebut.

Sementara itu, di Eropa, pemerintah Polandia menyatakan kekhawatiran atas rencana Donald Trump untuk bernegosiasi dengan Vladimir Putin dan Xi Jinping terkait perang di Ukraina. Seorang pejabat pemerintah Polandia menyebut rencana tersebut sebagai “Jalta 2”, merujuk pada konferensi Yalta 1945 yang membagi pengaruh di Eropa tanpa melibatkan negara-negara terkait. Menurut pejabat itu, Trump tampak mengakomodasi kepentingan Putin, terutama setelah Amerika Serikat menahan sanksi terhadap Rusia, menunda pengiriman rudal, dan membatasi penggunaan Starlink bagi Ukraina.

Pemerintah Polandia juga mengkhawatirkan masa depan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayahnya. Ada kekhawatiran bahwa Washington akan membatalkan proyek tersebut sebagai bagian dari konsesi kepada Rusia. “Keputusan ada di tangan Amerika. Kami telah melakukan segala persiapan untuk pembangunan pangkalan permanen,” kata seorang pejabat. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Senin (19/10/2026) mengonfirmasi bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan pertemuan Trump, Putin, dan Xi di sela-sela KTT APEC di Shenzhen pada 18-19 November sedang berlangsung. Trump sendiri menyatakan kesiapannya untuk hadir.

Baca juga:
Menag Nasaruddin Ikuti PMKNU di Gresik, Dinobatkan Jadi Peserta Paling Rajin

Di sisi lain, survei IBRiS untuk Rzeczpospolita yang dirilis Rabu (21/10/2026) menunjukkan bahwa 66,5 persen warga Polandia menilai kebijakan Donald Trump merugikan kepentingan Polandia. Hanya 19,4 persen yang menilai positif. Sebanyak 36,9 persen responden menjawab “tidak sama sekali”, 29,6 persen “cenderung tidak”, 15 persen “cenderung ya”, dan 4,4 persen “sangat ya”. Sementara 14,1 persen menjawab tidak tahu. Survei dilakukan pada 16-17 Oktober 2026 terhadap 1.068 responden dengan metode wawancara telepon.

Hasil tersebut juga menunjukkan polarisasi berdasarkan preferensi politik. Sebanyak 87,2 persen pemilih koalisi pemerintah menilai negatif, sedangkan di kalangan pemilih oposisi angkanya 49 persen. Di antara pemilih Rafał Trzaskowski, 82,6 persen menilai negatif, Sławomir Mentzen 85,1 persen, Szymon Hołownia 77,9 persen, dan Adrian Zandberg 100 persen. Sebaliknya, di kalangan pendukung Karol Nawrocki, 45,8 persen menilai positif, dan pendukung Grzegorz Braun 53,1 persen. Survei juga menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin negatif penilaian terhadap Trump, dengan dukungan terbesar berasal dari kelompok usia 60-69 tahun.

Di dalam negeri, Donald Trump menyoroti maraknya penolakan terhadap pembangunan pusat data besar di berbagai wilayah Amerika Serikat. Melalui akun Truth Social, ia menyarankan agar perusahaan pengelola pusat data membayar “dividen” kepada masyarakat setempat agar keberadaan mereka lebih diterima. Menurutnya, pusat data yang awalnya tidak populer bisa menjadi sangat populer jika perusahaan memberikan kompensasi kepada komunitas. Ia juga menegaskan bahwa pusat data besar diwajibkan menghasilkan listrik sendiri dan menjual kelebihan daya ke jaringan lokal. Penolakan warga muncul karena kekhawatiran akan penggunaan air dan listrik yang berlebihan untuk infrastruktur kecerdasan buatan.

Dalam perkembangan lain, Donald Trump menyebut Marine Le Pen sebagai “suara konservatif” di Prancis di tengah kerusuhan yang melanda negara itu, meski tidak secara resmi mendukungnya untuk pemilihan presiden 2027. Ia menilai Le Pen telah diperlakukan tidak adil dan mengaitkan kekerasan di Prancis dengan imigrasi. Le Pen sendiri sebelumnya dijatuhi hukuman larangan mencalonkan diri selama lima tahun pada Maret 2025, namun hukumannya dikurangi menjadi 15 bulan sehingga ia dapat kembali berkontestasi pada 2027.

Baca juga:
Dody Hanggodo Tantang Publik Buktikan Aisyah Zakiyyah Keponakannya, Hadiah Umrah Gratis

Berbagai perkembangan ini menunjukkan bahwa Donald Trump masih menjadi figur sentral dalam dinamika politik global, dengan dampak yang dirasakan hingga ke Eropa dan Amerika Serikat sendiri. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari Gedung Putih mengenai rencana pertemuan trilateral maupun tanggapan atas kritik Fox News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *