IHSG Rebound 1,12% ke 5.387, Energi dan Finansial Jadi Penopang

Sorothari – 23 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari tekanan pembukaan dan ditutup menguat 1,12% ke level 5.387,90 pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Kenaikan indeks sebesar 59,54 poin ini terjadi setelah IHSG sempat dibuka melemah di posisi 5.247,98, melanjutkan tren negatif yang terjadi sejak awal pekan. Sepanjang sesi, IHSG bergerak dalam rentang 5.185,53 hingga 5.422,59, mencerminkan volatilitas yang cukup tinggi di pasar saham domestik.

Meski berhasil menutup perdagangan di zona hijau, penguatan IHSG pada penutupan lebih rendah dibandingkan capaian akhir sesi pertama yang sempat melonjak 1,70% ke level 5.418,99. Hal ini menunjukkan adanya aksi ambil untung (profit taking) pada paruh kedua perdagangan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 489 saham ditutup menguat, sedangkan 216 saham melemah dan 258 saham lainnya stagnan. Volume perdagangan tercatat 34,13 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp15,79 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 2,066 juta kali. Kapitalisasi pasar saham di BEI berada di level Rp9.482 triliun.

Baca juga:
Japfa Optimalkan Manajemen Talenta Regional dengan Workday, Indonesia Jadi Pilot Project

Penguatan indeks pada hari ini ditopang oleh sektor energi, finansial, dan bahan baku. Analisis Phillip Sekuritas Indonesia mencatat sektor energi memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan IHSG dengan skor 10.337, disusul sektor finansial sebesar 8.564 dan sektor bahan baku (basic materials) sebesar 5.620. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi motor penggerak. BYAN menguat 6,08% ke level Rp10.900, sementara BREN melonjak 7,41% ke level Rp2.320. Kedua saham ini masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC) yang sebelumnya sempat menjadi perhatian pasar.

Selain itu, saham perbankan pelat merah juga turut menopang pergerakan indeks. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,43% ke level Rp3.790. Sebelumnya, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing mencatatkan penguatan 2,2% dan 1,1%. Meski demikian, tekanan jual masih membayangi mayoritas saham di BEI, terutama pada sesi pertama ketika 472 saham melemah berbanding 212 saham yang menguat.

Di jajaran top gainers, saham PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) memimpin dengan kenaikan 21,17% atau 690 poin ke level Rp3.950. Disusul PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang menguat 22,18% ke level Rp3.250, dan PT Arthavest Tbk (ARTA) naik 24,65% ke level Rp2.680. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga menguat 1,61% ke level Rp25.300, sedangkan PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) melonjak 25% ke level Rp1.800. Sementara itu, saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) mencatatkan penurunan terbesar dengan koreksi 6,93% ke level Rp4.700, diikuti PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) turun 6,92% ke level Rp2.960 dan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) melemah 5,86% ke level Rp2.090.

Baca juga:
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS Usai Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo

Meski IHSG menguat pada perdagangan hari ini, tekanan terhadap pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026 masih sangat besar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat IHSG telah melemah 38,38% secara year-to-date (YtD) hingga 21 Oktober 2026, dari posisi 8.646,94 pada akhir 2025 menjadi 5.328,36. Indeks LQ45 juga turun 36,71% sejak awal tahun. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa tekanan global seperti faktor geopolitik, inflasi tinggi, dan suku bunga yang higher for longer menjadi tantangan berat bagi perekonomian nasional. “Situasi ini tentu saja membuat suasana menjadi sangat challenging bagi seluruh negara, termasuk Indonesia,” ujarnya dalam Rakornas TPAKD 2026 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta.

Selain faktor eksternal, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan Indonesia tidak takut terhadap ancaman MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kehebohan di bursa saham imbas pernyataan MSCI hanyalah riak-riak kecil. Namun, BEI akan mengeluarkan saham-saham dalam kategori high shareholding concentration (HSC) dari penghitungan IHSG pada 2 November 2026. Keputusan ini diperkirakan akan mempengaruhi bobot indeks dan menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa pekan mendatang.

Dengan penguatan hari ini, IHSG masih berada di bawah level psikologis 5.400. Para analis memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi seiring menunggu keputusan BEI terkait saham HSC dan perkembangan global lainnya. Investor disarankan untuk mencermati saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi di tengah ketidakpastian pasar.

Baca juga:
DPR Resmi Sahkan Destry Damayanti Jadi Gubernur Bank Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *