Sorothari – 20 Oktober 2026 | Pengelolaan sampah organik di Sulawesi Selatan kini bukan sekadar upaya mengurangi limbah, tetapi juga menjadi sumber cuan baru. Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Pemerintah Inggris mengembangkan proyek pengolahan sampah terpadu yang mengubah sampah organik menjadi maggot, kompos, dan cacing. Proyek ini menjadi bagian dari kolaborasi Indonesia-Inggris dalam mendorong pembangunan rendah karbon dan ekonomi sirkular. Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, mengunjungi Unhas di Makassar pada Senin (19/10/2026) untuk meninjau langsung hasil kolaborasi tersebut.
Kunjungan Jermey dirangkaikan dengan kuliah umum bertajuk Green Economy and Low-Carbon Growth: The UK and Indonesia’s Shared Agenda for the Future. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa kolaborasi rendah karbon merupakan salah satu bidang utama dalam Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia. “Itu tentang mendukung perlindungan hutan, mendukung para pembela hutan, mendukung inisiatif rendah karbon seperti inisiatif yang baru saja kita dengar dari Pak Rektor di sini, yang semuanya tentang ekonomi sirkular,” kata Jermey.
Baca juga:Proyek yang didukung program Low Carbon Development Initiative Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) ini mengolah sampah organik menjadi berbagai produk bernilai tambah. Maggot yang dihasilkan tidak hanya menjadi kompos, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ayam Alope. Rantai produksi ini membentuk ekonomi sirkular yang mengurangi limbah sekaligus menciptakan peluang cuan bagi masyarakat. Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menyebut proyek pengolahan sampah telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan beroperasi penuh pada Februari 2027.
Bagi Inggris, pengembangan solusi pengolahan sampah merupakan bagian dari agenda kerja sama yang lebih luas dengan Indonesia. Kedua negara mendorong pembangunan rendah karbon melalui perlindungan hutan, dukungan kepada para pembela hutan, pengembangan ekonomi sirkular, dan kebijakan pengurangan emisi. Inggris menargetkan emisi nol bersih pada 2050, sedangkan Indonesia menargetkan 2060 atau lebih cepat. “Bersama kita bisa,” ujar Jermey menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara.
Baca juga:Kerja sama Inggris-Indonesia juga mencakup pelatihan digital bagi kelompok rentan serta pemberdayaan masyarakat Maros melalui mata pencaharian berkelanjutan dan ekowisata. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Sampah yang sebelumnya menjadi masalah kini menjelma menjadi sumber cuan yang mendukung pembangunan rendah karbon di Sulawesi Selatan.
Baca juga:











