Sorothari – 23 Oktober 2026 | Sejumlah peristiwa yang melibatkan figur pastor kembali menyita perhatian publik dalam beberapa hari terakhir. Mulai dari seorang pastor yang terjun ke dunia politik di Kansas, Amerika Serikat, hingga kasus-kasus hukum yang menimpa sejumlah pemimpin gereja, rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bagaimana peran pastor tidak lagi terbatas pada mimbar ibadah, tetapi juga merambah ruang publik yang lebih luas. Di Kansas, Pastor Adam Hamilton, yang memimpin sebuah jemaat dengan sekitar 25.000 umat dan sembilan lokasi ibadah, mencuri perhatian setelah memutuskan untuk menantang Senator Republik Roger Marshall dalam pemilihan Senat. Keputusan Hamilton untuk terjun ke politik praktis disebut sebagai langkah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, tetapi ia merasa terdorong oleh keprihatinan terhadap kondisi sistem kesehatan di negara bagian tersebut.
Hamilton, yang dikenal sebagai sosok moderat dan tenang, membangun kampanyenya di atas isu-isu lokal, terutama akses layanan kesehatan. Ia sering menyoroti bahwa sekitar 395.000 warga Kansas tidak memiliki akses ke Medicare, dan menuduh lawannya, yang merupakan seorang dokter kandungan veteran, telah memperburuk kondisi tersebut melalui kebijakan-kebijakannya di Kongres. Dalam sebuah debat televisi, Hamilton menegaskan bahwa dirinya tidak sepenuhnya sejalan dengan Partai Demokrat seperti yang dipersepsikan di New York atau Los Angeles. “Saya bukan seseorang yang mendukung Partai Sosialis. Saya seseorang yang berada di tengah,” ujarnya, seperti dikutip dari laporan media internasional. Kampanye Hamilton mendapat dukungan dari relawan yang tergabung dalam organisasi Boots on the Ground, yang aktif menggelar forum-forum diskusi publik. Salah satu relawan, Martha, mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta forum adalah warga lanjut usia yang ingin menyuarakan keluhan tentang layanan kesehatan. Kisah Meischa, seorang perempuan yang pernah ditangkap karena tidak mampu membayar tagihan medis sebesar 50 dolar kepada klinik milik Marshall, menjadi salah satu narasi yang sering digaungkan dalam kampanye Hamilton. Marshall sendiri sebelumnya dikenal sebagai dokter yang menempuh jalur hukum terhadap ratusan pasiennya, dengan lebih dari 80 di antaranya sempat ditahan, demi menagih utang biaya pengobatan.
Baca juga:Sementara itu, di dunia gereja, sebuah kasus serius mencuat dari Harvest Mission Community Church (HMCC) di Ann Arbor, Michigan. Pendiri gereja tersebut, Seth Sung Kim, telah diberhentikan secara permanen dari jabatan kepemimpinan setelah tuduhan pelecehan seksual terhadap dua perempuan dianggap terbukti. Kim, yang mendirikan HMCC pada 1996 dan memimpinnya selama 19 tahun sebelum meninggalkan gereja 11 tahun lalu untuk pelayanan di luar negeri, dinyatakan bersalah oleh pimpinan gereja karena menyalahgunakan otoritas spiritualnya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 15 Oktober, gereja menyebut bahwa Kim memanfaatkan pertemuan-pertemuan pribadi dengan dalih pemuridan untuk melakukan kontak seksual yang tidak diinginkan di Asia selama bertahun-tahun. “Ini bukan sekadar kegagalan moral, tetapi penyalahgunaan otoritas spiritual yang diberikan secara serius dan pelanggaran etika pelayanan,” demikian bunyi pernyataan gereja. Kim dilaporkan mengundurkan diri dari jabatannya pada awal Januari, dan gereja juga meminta afiliasinya di Austin serta Hong Kong untuk mencabut posisinya. Kasus ini menjadi pukulan bagi denominasi yang telah berdiri selama tiga dekade tersebut.
Kasus hukum lainnya datang dari Anchorage, Alaska, di mana seorang pria bernama Deshalon Bosha Jelks mengaku bersalah di pengadilan federal atas perampokan sebuah credit union pada Februari 2026. Yang membuat kasus ini menonjol adalah modus yang digunakan Jelks: ia menyerahkan catatan kepada teller yang menyatakan bahwa ia bersenjata dengan “kekuatan dan otoritas Yesus Kristus.” Setelah menerima uang sekitar 1.701 dolar, Jelks dilaporkan menelepon ibunya dan seorang pastor sebelum akhirnya ditangkap di sebuah Costco di seberang jalan. Ia kini menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara, dengan vonis dijadwalkan pada 21 Januari 2027. Sementara itu, di Cincinnati, Pastor Peter E. Matthews sedang menyelesaikan aksi jalan kaki sejauh 46 mil selama lima hari untuk menarik perhatian pada masalah tunawisma dan kemiskinan anak. Matthews mengunjungi 25 organisasi dan bertemu warga setempat, dengan harapan dapat mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada anak-anak kurang mampu. “Jika saya harus merasakan ketidaknyamanan di kaki demi menyatukan kebijakan bagi orang lain, saya akan melakukannya seumur hidup saya,” katanya. Aksi tersebut menjadi contoh bagaimana seorang pastor menggunakan pengaruhnya untuk advokasi sosial.
Baca juga:Di sisi lain, Dunamis Ministries dihadapkan pada tuduhan serius terhadap pendirinya. Seorang pria berusia dua puluhan mengaku telah mengalami tindakan pelecehan seksual berulang dari pastor tersebut pada akhir 2022. Ia mengaku sempat tidak melaporkan kejadian itu karena merasa malu dan mengira hanya dirinya yang mengalami hal tersebut. Pihak gereja menyatakan telah mengetahui proses hukum yang berjalan dan menegaskan tidak akan berprasangka terhadap hasil pengadilan. “Gereja mengakui keseriusan tuduhan dan tetap berkomitmen pada prinsip akuntabilitas, keadilan, integritas, dan penghormatan terhadap supremasi hukum,” demikian pernyataan resmi Dunamis Ministries. Gereja juga menyatakan akan mengambil langkah administratif yang diperlukan untuk memastikan kelangsungan pelayanan dan perlindungan bagi seluruh jemaat. Hingga saat ini, kasus tersebut masih dalam proses hukum, dan belum ada keputusan pengadilan mengenai guilt atau innocence sang pastor. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa figur pastor, sebagai pemimpin spiritual, tetap menjadi sorotan ketika terlibat dalam dinamika politik, hukum, dan sosial di masyarakat.
Baca juga:











