Parma vs Torino: Kekalahan 0-3 di Tardini Picu Kemarahan Tifosi dan Sorotan pada Gilardino

Parma vs Torino: Kekalahan 0-3 di Tardini Picu Kemarahan Tifosi dan Sorotan pada Gilardino
Parma vs Torino: Kekalahan 0-3 di Tardini Picu Kemarahan Tifosi dan Sorotan pada Gilardino

Sorothari – 23 Oktober 2026 | PARMA — Pertandingan parma vs torino pada pekan ketujuh Serie A 2026-27 berakhir dengan skor telak 0-3 untuk kemenangan Torino di Stadion Ennio Tardini, Senin malam waktu setempat (20/10/2026). Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Parma yang baru saja menunjuk Alberto Gilardino sebagai pelatih menggantikan posisi sebelumnya. Torino sendiri melanjutkan tren positif dengan meraih kemenangan kedua secara beruntun, setelah sebelumnya juga menang atas lawan lain. Dua gol Giovanni Simeone dan satu gol Che Adams memastikan tiga poin penuh bagi tim tamu, sementara Parma harus menelan kekalahan kandang pertama di era Gilardino dengan cara yang menyakitkan.

Hasil ini membuat Parma tertahan di posisi keempat dari bawah klasemen sementara dengan koleksi empat poin, sama seperti Fiorentina dan Genoa. Sementara Torino naik ke posisi ke-11 dengan sepuluh poin, mengoleksi tiga hasil positif beruntun. Kekalahan ini juga menjadi yang kedua bagi Gilardino setelah sebelumnya kalah 0-3 dari Inter Milan di San Siro pada pekan lalu, sehingga total kebobolan Parma dalam dua laga di bawah pelatih baru tersebut mencapai enam gol tanpa balas.

Baca juga:
Wales vs Denmark: Kesalahan Fatal Ward dan Penalti Hojlund Hantarkan Kekalahan Keempat

Dukungan suara dari tribun Tardini berubah menjadi kemarahan setelah wasit meniup peluit panjang. Tifosi Parma meluapkan kekecewaan mereka dengan siulan keras yang menggema di seluruh stadion. Puncak protes terjadi di Curva Nord, di mana kelompok ultras menyerukan agar para pemain menunjukkan performa yang lebih baik. Kapten Enrico Delprato berinisiatif mengumpulkan rekan-rekannya di tengah lapangan dan mengarahkan mereka mendekati tribun ultras sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus tanggung jawab atas hasil buruk ini.

Meskipun demikian, menurut laporan Gazzetta di Parma, tidak terjadi dialog langsung antara pemain dan ultras. Protes yang terjadi lebih merupakan ungkapan kekecewaan atas awal musim yang buruk, terlebih setelah pergantian pelatih yang diharapkan membawa perubahan. Sebelumnya, pada babak pertama ketika Parma sudah tertinggal 0-2, beberapa suara sumbang mulai terdengar, namun di babak kedua tifosi sempat memberikan dukungan agar tim bisa bangkit. Namun, harapan itu pupus setelah Torino menambah satu gol lagi dan memastikan kemenangan.

Di sisi lain, pelatih Torino Ignazio Abate tengah membangun identitas baru bagi timnya. Dalam analisisnya, Sky Sport Insider menyoroti bagaimana Abate menekankan pentingnya bermain sebagai sebuah keluarga. Filosofi itu tercermin dalam penampilan Torino yang solid dan efisien meskipun tidak mendominasi penguasaan bola. Torino hanya melepaskan sembilan tembakan sepanjang pertandingan, tetapi mampu mengonversi dua peluang besar menjadi gol. Sementara Parma mendominasi dengan 25 tembakan, 19 di antaranya dari dalam kotak penalti, namun gagal memanfaatkannya menjadi gol.

Baca juga:
Timnas Putri Indonesia Fokus Pemulihan Fisik Jelang Kualifikasi Piala Asia 2022

Statistik menunjukkan keseimbangan dalam hal expected goals (xG), dengan Parma mencatat 1,57 berbanding 1,56 milik Torino. Namun, efisiensi menjadi pembeda. Kiper Torino, Lucas Perri, tampil gemilang dengan delapan penyelamatan, dua di antaranya sangat krusial, dan mencatat 1,08 gol yang dicegah. Ini menjadi clean sheet kedua secara beruntun bagi Torino. Sebaliknya, lini belakang Parma melakukan dua kesalahan individu yang berujung pada gol. Meski unggul dalam duel darat (64%) dan udara (62%), Parma kalah dalam hal intersepsi (32 berbanding 8) dan agresivitas (16 pelanggaran berbanding 7).

Kemenangan ini membawa Torino ke posisi yang lebih baik di klasemen, sementara Parma masih berkutat di zona bawah. Bagi Gilardino, tekanan semakin besar untuk segera memperbaiki performa tim. Jadwal berikutnya akan menjadi ujian berat: Parma akan bertandang ke Stadion Olimpico untuk menghadapi Lazio, pemuncak klasemen sementara, pada Sabtu mendatang. Sementara Torino akan menjamu Monza di pekan kedelapan. Pertandingan parma vs torino ini menjadi cerminan betapa pentingnya efisiensi dan mentalitas dalam sepak bola, serta bagaimana tekanan publik bisa menjadi bumerang bagi tim yang sedang dalam masa transisi.

Dengan hasil ini, Torino menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing di papan tengah, sedangkan Parma harus segera berbenah jika tidak ingin terpuruk lebih dalam. Sorotan kini tertuju pada Gilardino untuk membuktikan bahwa pergantian pelatih yang dilakukan manajemen bukanlah keputusan yang salah. Sementara itu, Abate terus menanamkan nilai-nilai kekeluargaan di tubuh Torino, yang perlahan mulai menuai hasil positif.

Baca juga:
Kejutan US Open: Novak Djokovic Tumbang di Babak Awal Akibat Kendala Fisik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *