Sorothari – 18 Juli 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal dengan nama Gunung Pickaxe. Ancaman ini memicu pertanyaan besar di kalangan internasional: apa sebenarnya Gunung Pickaxe, situs nuklir bawah tanah yang membuat AS ketakutan hingga diincar Trump? Fasilitas ini berada di bawah pegunungan granit dekat kompleks pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya telah rusak akibat serangan AS pada Juni lalu.
Gunung Pickaxe, atau yang juga disebut Kuh-e Kolang Gaz La, terletak sekitar dua kilometer dari Natanz di pegunungan Zagros, selatan Teheran. Menurut laporan intelijen, situs ini dibangun sejak tahun 2020 dan dirancang sebagai benteng bawah tanah yang sangat sulit ditembus. Para ahli memperkirakan fasilitas tersebut berada pada kedalaman 70 hingga 100 meter di bawah permukaan, bahkan ada yang menyebut hingga 600 meter. Kedalaman ekstrem ini membuat Gunung Pickaxe kebal terhadap bom penghancur bunker (bunker-buster) tercanggih milik Pentagon.
Baca juga:Presiden Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show pada 13 Juli 2026 menyatakan, “Pickaxe adalah target potensial untuk tembakan besar yang tepat di dekat pintu depan. Kita akan menghancurkan Gunung Pickaxe. Katakan pada Iran untuk bersiap-siap.” Pernyataan ini kontradiktif dengan klaim sebelumnya bahwa seluruh infrastruktur nuklir Iran telah hancur. Sebelumnya, Trump pada pertengahan tahun lalu menyatakan semua situs pengayaan uranium Iran telah rata dengan tanah. Namun, pengumuman terbaru mengindikasikan bahwa masih ada fasilitas yang selamat dan menjadi target baru.
Citra satelit menunjukkan aktivitas konstruksi dan penguatan keamanan yang terus berlangsung di sekitar Gunung Pickaxe. Hal ini memperkuat dugaan bahwa situs tersebut masih beroperasi dan menyimpan infrastruktur pengayaan uranium. Fasilitas ini diperkirakan memiliki dua jaringan terowongan raksasa yang menjadi pusat pengayaan uranium bawah tanah.
Baca juga:Ancaman AS ini langsung mendapat reaksi dari Rusia dan China. Rusia mengirim pesawat militer Tupolev Tu-214PU yang dijuluki “pesawat kiamat” ke Teheran pada hari yang sama dengan pernyataan Trump. Pesawat tersebut mendarat di Teheran sekitar pukul 10.10 waktu setempat. Sementara itu, China menyerukan pentingnya keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama transportasi minyak dunia.
Di tengah ketegangan ini, Iran juga melakukan aksi simbolis dengan memajang poster Presiden Trump terbaring di peti mati di Lapangan Engelhab, Teheran. Poster tersebut disertai slogan “Matilah Trump! Kami akan membunuh Trump.” Aksi ini semakin memperkeruh suasana hubungan kedua negara.
Baca juga:Ketegangan baru ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai akurasi intelijen AS. Jika sebelumnya Washington mengklaim semua situs nuklir Iran telah hancur, mengapa kini muncul target baru yang dianggap lebih sulit dihancurkan? Para analis militer menilai bahwa Gunung Pickaxe merupakan tantangan terbesar bagi kemampuan militer AS karena kedalaman dan perlindungan alaminya. Dengan ancaman baru ini, eskalasi konflik di Timur Tengah tampaknya akan terus berlanjut, dan dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari pemerintahan Trump.













