Berita  

Prancis Catat Kematian Pertama Akibat Virus Shamonda pada Manusia

Prancis Catat Kematian Pertama Akibat Virus Shamonda pada Manusia
Prancis Catat Kematian Pertama Akibat Virus Shamonda pada Manusia

Sorothari – 27 Oktober 2026 | Prancis mencatat kasus kematian pertama pada manusia akibat infeksi virus Shamonda. Peristiwa ini menjadi temuan pertama di dunia yang menghubungkan virus yang biasanya menyerang hewan ternak dengan kematian pasien manusia. Pemerintah Prancis mengumumkan kasus tersebut pada Jumat, 23 Oktober 2026, setelah pasien yang terinfeksi meninggal pada awal Oktober. Otoritas kesehatan setempat menegaskan bahwa hingga kini tidak ada risiko kesehatan bagi masyarakat umum. Kasus virus Shamonda di Prancis ini melibatkan seorang pria berusia 60-an tahun yang dirawat di Hospices Civils de Lyon karena penyakit serius yang tidak berkaitan dengan infeksi virus tersebut. Pasien diketahui mengalami imunodefisiensi berat, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh melemah secara signifikan. Menurut Kementerian Pertanian Prancis, komplikasi pada otak yang dialami pasien sebelum meninggal sangat mungkin berkaitan dengan infeksi virus Shamonda. Namun, peran pasti virus dalam kematian pasien masih dalam penyelidikan.

Kepala Direktorat Kesehatan Prancis, Gregory Emery, menyatakan kasus ini memiliki karakteristik yang belum pernah ditemukan sebelumnya dari sisi ilmiah dan virologi. “Kita jelas sedang menghadapi kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya dari sudut pandang ilmiah dan virologi. Kasus ini terkait dengan sistem kekebalan tubuh pria tersebut yang sangat lemah,” ujar Emery. Ia menambahkan, “Dari sudut pandang medis dan kesehatan masyarakat, tidak ada peringatan dan tidak ada krisis.” Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah berkomunikasi dengan otoritas Prancis untuk memantau kejadian ini. WHO menilai kasus ini merupakan kasus manusia yang terisolasi dan kecil kemungkinannya menyebabkan penyebaran yang lebih luas saat ini.

Baca juga:
Pemerintah Polandia Siapkan Aturan Baru soal Tarif Cmentarz Komunal, Pertama dalam Hampir 70 Tahun

Latar Belakang Virus Shamonda

Virus Shamonda pertama kali ditemukan di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Virus ini termasuk dalam kelompok orthobunyavirus dan diketahui menginfeksi sapi di Afrika Barat, Afrika Timur, Afrika Selatan, serta Jepang. Selama puluhan tahun, virus tersebut beredar di antara hewan ternak tanpa pernah dilaporkan menginfeksi manusia. Virus Shamonda ditularkan melalui gigitan serangga kecil pengisap darah yang disebut biting midges, khususnya dari genus Culicoides. Sapi merupakan inang utama virus ini, tetapi infeksi juga pernah dilaporkan pada domba, kambing, kuda, dan alpaka. Pada hewan, virus dapat menyebabkan demam, diare, penurunan produksi susu, aborsi, dan malformasi kongenital.

Virus Shamonda pertama kali terdeteksi di Eropa pada musim panas tahun 2026. Sebuah garis keturunan baru yang disebut Shamonda-Europe ditemukan di beberapa negara, termasuk Prancis, Jerman, Swiss, Spanyol, dan Irlandia. Di Prancis, kasus infeksi pada hewan ruminansia kecil dan kuda dilaporkan pada musim panas tahun ini. Otoritas Prancis menduga pasien terinfeksi melalui gigitan serangga di wilayah Prancis bagian timur. Hingga saat ini, jenis spesies biting midges yang berperan dalam penularan pada kasus ini masih belum diketahui secara pasti. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menyatakan penyelidikan masih berlangsung.

Baca juga:
Virus Shamonda Ditemukan di Gipuzkoa, Spanyol: Kasus Pertama pada Sapi, Otoritas Serukan Ketenangan

Surveilans di Spanyol dan Negara Lain

Di Spanyol, virus Shamonda telah terdeteksi pada peternakan sapi di enam provinsi: Cordoue, Tolède, Ávila, Madrid, Gérone, dan Cantabrie. Deteksi terakhir dilaporkan pada 20 Oktober 2026 di tiga peternakan sapi perah di Provinsi Gérone, Katalonia. Kementerian Pertanian Spanyol meningkatkan pengawasan terhadap penyebaran virus, tetapi menegaskan bahwa semua infeksi yang terdeteksi sejauh ini hanya terjadi pada hewan. Tidak ada kasus manusia yang tercatat di Spanyol. Otoritas setempat mengimbau masyarakat tetap tenang karena belum ada risiko kesehatan bagi populasi umum.

Kasus di Prancis menjadi perhatian dunia karena merupakan infeksi virus Shamonda pertama yang terdokumentasi pada manusia. Sebelumnya, virus ini hanya dikenal sebagai patogen pada hewan ternak. Para ahli menekankan bahwa temuan ini tidak berarti virus mudah menular antar manusia. Belum ada laporan penularan dari sapi ke manusia maupun dari manusia ke manusia. Hingga saat ini, tidak ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk infeksi virus Shamonda. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami risiko virus ini terhadap manusia.

Baca juga:
Dinamika Bandara: Pembatalan Penerbangan Akibat Asap hingga Kasus Penganiayaan dan Pencurian GPU

Otoritas Prancis terus melakukan investigasi untuk menentukan sumber infeksi dan dampak virus terhadap pasien. Masyarakat diimbau tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah. Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh organisasi kesehatan internasional dan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *