Sorothari – 07 September 2026 | Nama Iwan Setiawan menjadi perbincangan hangat dalam berbagai dinamika nasional terkini, mencakup ranah hukum, kebijakan pangan, transformasi ekonomi perkotaan, pelestarian lingkungan, hingga kabar duka yang menyelimuti dunia sepak bola tanah air. Kehadiran figur-figur dengan nama yang sama di posisinya masing-masing mencerminkan peran krusial yang berdampak langsung pada kepentingan masyarakat luas.
Di panggung pengawasan kebijakan publik dan hukum, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, memberikan pandangan kritis terkait penegakan hukum dan implementasi program strategis nasional. Terkait dinamika ormas dan keamanan, ia menyoroti kekhawatiran akademisi Feri Amsari terhadap ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB). Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara hukum yang tidak memberikan kekebalan kepada organisasi atau individu mana pun. Berlandaskan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan, ormas dilarang keras bertindak anarkis atau mengambil alih wewenang aparat.
Baca juga:Iwan Setiawan dari IPR juga menggarisbawahi bahwa penanganan hukum harus berpijak pada alat bukti konkret seperti rekaman CCTV, keterangan saksi, rekam digital, dan visum, bukan didorong oleh narasi maupun opini publik di media sosial semata.
Kritik Tata Kelola Pangan MBG oleh Iwan Setiawan
Selain persoalan hukum, Direktur Eksekutif IPR tersebut turut melontarkan evaluasi tajam mengenai tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat diwarnai insiden keracunan di beberapa daerah, termasuk Sidoarjo, Toraja, dan Nganjuk. Ia menilai persoalan tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai kendala teknis biasa di lapangan.
Menurutnya, perombakan kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) harus diimbangi dengan perbaikan sistem menyeluruh dari hulu ke hilir. Evaluasi komprehensif diperlukan pada tahapan pengadaan bahan mentah, standardisasi dapur, proses pengolahan, hingga alur distribusi dan penyimpanan makanan demi keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat utama.
Dorongan Kepemimpinan Pemuda Menuju Kota Global
Sementara itu di sektor ekonomi dan moneter, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, berfokus memacu pertumbuhan talenta generasi muda. Bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Indonesia menginisiasi Jakarta Youth Leadership Camp (JYLC) 2026 di Putri Duyung Ancol pada 4–5 September 2026 yang melibatkan 500 pemuda lintas komunitas.
Baca juga:Kegiatan tersebut menyoroti tiga pilar utama yakni kepemimpinan, kewirausahaan, serta kepedulian lingkungan dan sosial. Iwan Setiawan memaparkan bahwa kontribusi Jakarta yang mencapai 16,32 persen terhadap perekonomian nasional memerlukan kesiapan sumber daya manusia yang adaptif terhadap sektor jasa, ekonomi digital, dan industri kreatif. Langkah ini sejalan dengan komitmen Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto untuk merealisasikan visi Jakarta masuk dalam jajaran Top 50 Global City pada 2030 mendatang.
Pencegahan Karhutla Berbasis Komunitas
Pada bidang lingkungan hidup dan kehutanan, Ketua Komisariat Daerah Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Sumatera Selatan, Iwan Setiawan, menyuarakan pentingnya keterlibatan masyarakat desa dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya ini selaras dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 yang memperketat aturan pembukaan lahan tanpa bakar.
APHI Sumsel dan Lampung menekankan bahwa keberhasilan pencegahan karhutla membutuhkan penguatan program seperti Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) dan Desa Bebas Api. Pemberdayaan masyarakat dengan sarana alternatif pembukaan lahan non-bakar menjadi langkah mendasar, terutama saat menghadapi ancaman iklim El Niño, dengan tetap mematuhi ketentuan perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
Duka Mendalam dari Lapangan Hijau
Di tengah berbagai sorotan pembangunan dan kebijakan tersebut, dunia olahraga Indonesia diselimuti kabar duka atas berpulangnya tokoh sepak bola nasional, pelatih Iwan Setiawan, pada Kamis, 3 September 2026. Kabar wafatnya juru taktik kelahiran Medan, 5 Juli 1958 ini dikonfirmasi oleh sejumlah klub yang pernah ia tangani, termasuk manajemen Sriwijaya FC.
Baca juga:Semasa aktif bermain, almarhum sempat menimba ilmu di Diklat PSSI Medan dan Diklat Ragunan serta memperkuat Timnas Indonesia U-16 dan U-19. Karier profesionalnya tercatat membela Pelita Jaya sejak 1987, Arseto Solo, hingga Persija Jakarta. Kendati sempat dihantam cedera saat masa keemasannya, dedikasinya berlanjut sebagai pelatih terkemuka di berbagai klub tanah air, meninggalkan jejak prestasi yang akan selalu dikenang dalam sejarah sepak bola nasional.







