Sorothari – 09 September 2026 | Peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia kembali memicu perhatian serius terhadap mitigasi bencana geologi, termasuk kesiapsiagaan di sekitar kawasan gunung merapi dan gunung api aktif lainnya. Berdasarkan laporan harian MAGMA Indonesia, sedikitnya empat gunung berapi di tanah air tercatat mengalami erupsi secara bersamaan sejak dini hari hingga Rabu pagi. Rangkaian aktivitas vulkanik ini mencakup Gunung Anak Krakatau, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama Badan Geologi mengimbau masyarakat maupun wisatawan agar tetap tenang namun tidak melakukan aktivitas di dalam radius bahaya yang telah ditentukan. Di Gunung Ibu, Halmahera Barat, Badan Geologi memperluas jarak rekomendasi aman menjadi 3,5 kilometer setelah terjadi erupsi susulan dengan tinggi kolom abu mencapai ratusan meter. Kendati demikian, fasilitas transportasi udara di sekitar Halmahera seperti Bandar Udara Sultan Babullah, Bandar Udara Buli, dan Bandar Udara Marimoi dilaporkan tidak terdampak dan tetap melayani penerbangan secara operasional.
Baca juga:Dinamika Erupsi Efusif dan Eksplosif pada Kawasan Gunung Merapi serta Gunung Api Aktif
Secara vulkanologis, proses keluarnya material dari perut bumi menuju permukaan dikenal sebagai erupsi. Aktivitas ini dipicu oleh akumulasi tekanan gas dan energi dari dalam dapur magma yang mendorong fluida batuan cair naik melalui saluran atau rekahan batuan. Fenomena vulkanik tersebut memiliki karakteristik berbeda yang terbagi menjadi erupsi efusif dan eksplosif. Pada karakteristik efusif, magma keluar secara perlahan dan membentuk leleran lava tanpa dentuman besar, fenomena yang kerap diamati pada kubah lava gunung merapi saat fase pertumbuhan kubah berlangsung. Sebaliknya, erupsi eksplosif disertai lontaran material piroklastik, pasir, serta kolom abu vulkanik pekat akibat pelepasan tekanan gas yang sangat kuat.
Selain material padat, erupsi juga melepaskan gas belerang dioksida (SO2) dalam volume signifikan. Berdasarkan data dari U.S. Geological Survey (USGS), pemantauan gas SO2 menjadi instrumen penting bagi para ilmuwan untuk membaca dinamika magma yang bergerak menuju kedalaman dangkal. Karakteristik sebaran dan sifat gas vulkanik tersebut memiliki parameter khusus dalam pemantauan lingkungan:
- Transformasi Atmosfer: Gas SO2 dapat bereaksi dengan kelembapan udara, oksigen, dan radiasi sinar matahari hingga berubah menjadi aerosol sulfat halus yang bertahan lama di atmosfer.
- Pembentukan Volcanic Smog (Vog): Gas yang terbawa angin dalam jarak jauh berpotensi membentuk kabut asap vulkanik atau vog yang menurunkan kualitas udara di kawasan permukiman.
- Indikator Pergerakan Magma: Fluktuasi volume SO2 dianalisis bersamaan dengan data kegempaan serta deformasi bentuk tubuh gunung untuk memetakan potensi letusan secara akurat.
Dampak Kerusakan Abu Vulkanik terhadap Sektor Pertanian
Material abu vulkanik yang dimuntahkan saat letusan membawa konsekuensi langsung bagi produktivitas sektor pertanian. Pakar Ilmu Tanah dari IPB University, Prof. Iskandar, memaparkan bahwa tingkat kerusakan pada tanaman dan lahan budidaya sangat bergantung pada ketebalan endapan abu, durasi paparan, dan jarak lahan dari kawah letusan. Paparan abu vulkanik yang berlangsung dalam hitungan hari hingga berminggu-minggu berisiko mematikan vegetasi secara luas.
Baca juga:Ketika lapisan partikel abu menutupi permukaan daun dan batang, stomata tanaman akan tersumbat sehingga proses fotosintesis terhenti total. Kondisi ini menyebabkan tanaman mengalami kegagalan pembungaan hingga gagal panen. Pada zona yang berdekatan dengan kawah, abu vulkanik yang jatuh sering kali masih bersuhu tinggi sehingga membakar jaringan daun secara fisik dan menyebabkan tanaman layu seketika.
Imbas Gangguan Penerbangan dan Pariwisata Nasional
Aktivitas vulkanik berskala luas juga memberikan dampak berantai terhadap perekonomian dan industri pariwisata nasional. Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman, mengingatkan pemerintah untuk memperkuat manajemen krisis kebencanaan geologi mengingat posisi Indonesia yang berada tepat di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Erupsi gunung berapi tidak hanya menyangkut keselamatan jiwa, melainkan juga rantai pasok ekonomi pariwisata dan konektivitas transportasi.
Sebaran abu vulkanik di koridor udara terbukti dapat melumpuhkan operasional penerbangan. Gangguan sebaran abu tercatat sempat memengaruhi operasional delapan bandara di Indonesia, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang mengakibatkan hampir 3.000 jadwal penerbangan dibatalkan atau ditunda serta berdampak pada sekitar 341.000 penumpang, termasuk 622 penerbangan rute internasional.
Baca juga:Gandung menjelaskan bahwa sektor pariwisata nasional sebenarnya sedang mengalami tren pertumbuhan positif sebelum terjadinya gangguan erupsi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara pada Mei 2026 mencapai 1,38 juta atau tumbuh 5,83 persen secara tahunan, sementara perjalanan wisatawan nusantara menembus 106,16 juta perjalanan. Namun, sektor ini sangat rentan terhadap isu keselamatan penerbangan dan aksesibilitas wilayah.
Pemerintah kini terus memperkuat alokasi anggaran mitigasi bencana serta memprioritaskan pemulihan infrastruktur. Masyarakat diimbau untuk selalu mematuhi rekomendasi jarak aman PVMBG, mengenakan masker pelindung dari partikel abu, dan memantau informasi resmi dari otoritas terkait guna meminimalkan risiko bahaya erupsi gunung berapi.







