Berita  

AS Kerahkan 10 Pesawat Kargo Militer ke Pangkalan Udara Israel, Sinyal Persiapan Serangan ke Iran?

AS Kerahkan 10 Pesawat Kargo Militer ke Pangkalan Udara Israel, Sinyal Persiapan Serangan ke Iran?
AS Kerahkan 10 Pesawat Kargo Militer ke Pangkalan Udara Israel, Sinyal Persiapan Serangan ke Iran?

Sorothari – 31 Oktober 2026 | Sebanyak 10 pesawat angkut militer Amerika Serikat dikerahkan ke sejumlah pangkalan militer di Israel selatan, tepatnya di Pangkalan Udara Ovda dan Nevatim, di wilayah Negev. Pengerahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran dan memunculkan spekulasi bahwa Washington dan Tel Aviv tengah mempersiapkan kemungkinan operasi militer baru. Informasi yang mengutip laporan penyiar publik Israel, KAN, menyebutkan bahwa pesawat-pesawat tersebut diberangkatkan dari Fort Bliss, Texas, salah satu pusat pertahanan udara terbesar militer AS yang memiliki fasilitas terkait rudal pencegat dan sistem pertahanan udara.

Selain ke Israel, pesawat militer AS juga dilaporkan dikirim ke pangkalan militer di Yordania, Arab Saudi, dan Qatar. Hingga Jumat (30/10/2026), pemerintah AS belum memberikan konfirmasi resmi mengenai pengerahan tersebut. Laporan juga tidak merinci jenis pesawat, muatan yang dibawa, maupun jumlah peralatan yang diturunkan, sehingga belum dapat dipastikan apakah seluruh pesawat mengangkut persenjataan ofensif untuk menyerang Iran.

Baca juga:
Sekjen PBB Apresiasi Peran Indonesia sebagai Pilar Multilateralisme dan Perdamaian

Menurut laporan KAN yang dikutip Anadolu Agency, pengerahan ini merupakan bagian dari pengiriman peralatan militer AS ke sejumlah lokasi strategis di Timur Tengah. Seorang pejabat Israel mengatakan bahwa negaranya dan AS tengah melakukan koordinasi militer secara intensif untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. “Israel dan Amerika Serikat berkoordinasi erat, dan meskipun belum ada keputusan mengenai hal tersebut, Amerika dan Israel bersiap menghadapi keputusan apa pun yang dibuat Presiden Donald Trump,” kata pejabat tersebut, seperti dikutip KAN.

Pengarahan Opsi Militer di Gedung Putih

Spekulasi mengenai kemungkinan serangan baru semakin kuat setelah laporan Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan bahwa Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, telah memberikan paparan kepada Presiden Donald Trump mengenai sejumlah opsi militer terhadap Iran. Pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (29/10) waktu setempat itu juga melibatkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Pemimpin Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, serta sejumlah anggota kabinet lainnya. Menurut WSJ, pertemuan tersebut menyusul diskusi pada Rabu (28/10) antara para pejabat militer dengan Wakil Presiden JD Vance.

Laporan WSJ juga menyebutkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, AS telah menambah sistem pertahanan udara, amunisi, dan berbagai pasokan lainnya di kawasan Timur Tengah. Militer AS juga dikabarkan memindahkan sejumlah pasukan menjauh dari pangkalan militer yang dianggap rentan terhadap potensi pembalasan dari Iran. Juru bicara Pentagon dan CENTCOM menolak berkomentar mengenai laporan tersebut.

Baca juga:
Iran Ancam Balas Serangan AS di PLTN Darkhovin, Tegaskan Akan Ambil Tindakan Tepat

Sebelumnya, WSJ melaporkan bahwa Washington telah memperingatkan sejumlah negara Teluk Arab untuk bersiap menghadapi kemungkinan “operasi militer singkat namun intens” terhadap Iran, yang diperkirakan akan dilancarkan setelah pemilu sela pada 3 November mendatang. Namun, menurut laporan itu, Trump belum mengambil keputusan akhir. Senator AS dari Partai Demokrat, Chris Murphy, mengaku telah menerima pengarahan mengenai kemungkinan rencana serangan tersebut dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang “gila”. Ia memperingatkan bahwa operasi semacam itu dapat memicu eskalasi yang menghancurkan.

Peringatan Iran dan Latar Belakang Konflik

Militer Iran melontarkan peringatan bahwa mereka akan melancarkan pembalasan yang lebih luas terhadap setiap serangan baru. Teheran bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur terkait AS, termasuk pusat data dan target-target lain yang terkait AI di kawasan Timur Tengah. Ancaman ini muncul di tengah sejarah konflik yang panjang antara AS dan Iran.

AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah target AS di kawasan sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai pada April. Pada Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz, namun implementasinya terhenti akibat perbedaan pandangan terkait keamanan jalur perairan tersebut.

Baca juga:
Tragedi Misterius di Myagdi: Dua Balita Terseret Arus Sungai Mistri, Satu Tewas, Satu Hilang

Selain itu, militer AS dilaporkan tengah mengisi kembali persediaan persenjataan mereka. Sebuah kapal induk tambahan beserta satu unit Korps Marinir AS diperkirakan tiba pada November dan akan bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang telah beroperasi di Timur Tengah. Sementara itu, sistem pertahanan rudal Patriot juga telah dipindahkan dari Texas untuk memperkuat pertahanan udara di kawasan Teluk.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari Washington mengenai serangan baru ke Iran. Situasi terus berkembang dan masyarakat internasional menantikan langkah diplomatik maupun militer berikutnya dari pemerintahan Trump.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *