Sorothari – 20 Juli 2026 | Iran mengancam akan membalas serangan Amerika Serikat yang menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin yang masih dalam tahap pembangunan di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran. Ancaman ini disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui unggahan di platform media sosial X pada Minggu (19/7/2026). Ia menyebut serangan AS terhadap fasilitas nuklir tersebut sebagai tindakan berbahaya yang menargetkan infrastruktur sipil dan damai Iran.
“Serangan AS terhadap PLTN Darkhovin, yang masih dalam tahap pembangunan, merupakan serangan berbahaya terhadap infrastruktur damai Iran,” tulis Gharibabadi, seperti dikutip dari Anadolu Agency. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi dari meningkatnya ketidakamanan dan ketidakstabilan di kawasan akibat serangan tersebut. “Iran mengecam keras agresi ini dan akan mengambil langkah yang tepat untuk mempertahankan kepentingan dan keamanan nasional,” tegasnya.
Baca juga:Sebelumnya, Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) mengonfirmasi bahwa PLTN Darkhovin menjadi sasaran serangan AS. Serangan ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang memanas antara kedua negara setelah AS melancarkan rangkaian serangan udara ke Iran sebagai balasan atas tewasnya personel militer AS di Yordania. Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers di Pangkalan Militer Gabungan Andrews, Maryland, menegaskan bahwa serangan tersebut adalah respons atas gugurnya tiga personel AS dalam serangan rudal balistik dan drone Iran pada Jumat (17/7) lalu.
Trump juga menekankan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menyebut serangan AS telah menimbulkan kerusakan parah di sejumlah titik di Iran. “Kami mengendalikan Selat Hormuz dan Iran tidak mengendalikan apa pun,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Iran mungkin masih memiliki rudal dan drone, tetapi jumlahnya terbatas. “Kami tak lagi membatasi langkah hanya untuk mencegah Iran memiliki kemampuan tertentu; kami akan menyelesaikan urusan ini sepenuhnya,” tegas Trump.
Iran sendiri langsung membalas serangan AS dengan menyerang sejumlah fasilitas militer yang digunakan oleh AS di kawasan, termasuk pangkalan-pangkalan di Kuwait. Militer Iran menyatakan serangan drone menghantam gudang amunisi di Camp Udairi serta radar Patriot dan sistem pengawasan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Aksi saling serang ini berlangsung meskipun kedua negara sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan pada Juni lalu untuk mengakhiri permusuhan dan mencapai perjanjian damai permanen.
Baca juga:Serangan terhadap PLTN Darkhovin menuai kecaman luas dari Iran dan beberapa pihak internasional. Pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih dalam tahap pembangunan itu dianggap sebagai proyek energi sipil yang seharusnya tidak menjadi target militer. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari AS terkait tuduhan serangan terhadap fasilitas nuklir tersebut, namun Trump dalam konferensi persnya menyebut bahwa serangan AS menyasar sasaran militer Iran, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan program rudal dan drone.
Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel memulai serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Konflik ini telah menewaskan 16 personel militer AS hingga saat ini, menurut data CENTCOM. Dengan adanya ancaman balasan dari Iran, situasi di Timur Tengah semakin tidak menentu dan dikhawatirkan akan memicu konflik yang lebih luas.
Para analis menilai bahwa langkah Iran selanjutnya akan menentukan arah eskalasi selanjutnya. Iran menegaskan akan melindungi kepentingan nasionalnya dan tidak akan tinggal diam terhadap agresi AS. Sementara itu, AS terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengerahkan jet tempur F-35 ke Timur Tengah. Masyarakat internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi.
Baca juga:












