Viral Omzet Koperasi Merah Putih Melawai Minim, Menkop: Kita Memaklumi

Viral Omzet Koperasi Merah Putih Melawai Minim, Menkop: Kita Memaklumi
Viral Omzet Koperasi Merah Putih Melawai Minim, Menkop: Kita Memaklumi

Sorothari – 16 Juli 2026 | Viral omzet Koperasi Merah Putih Melawai minim, Menkop: Kita memaklumi. Pernyataan tersebut muncul setelah beredar kabar bahwa Koperasi Kelurahan Merah Putih di Melawai, Jakarta Selatan, hanya membukukan laba bersih Rp78.000 selama enam bulan beroperasi, padahal modal yang digelontorkan mencapai Rp3 miliar. Menteri Koperasi Ferry Juliantono angkat bicara menanggapi sorotan publik dan DPR.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026), anggota Fraksi PDIP Mufti Anam melontarkan pertanyaan tajam kepada Menkop. Ia menyoroti video viral yang menyebutkan Koperasi Merah Putih Melawai hanya untung Rp78.000 dalam enam bulan. “Bayangkan, modal Rp3 miliar, untung bersihnya Rp78.000. Hanya 0,0026 persen dari Rp3 miliar, Pak Menteri,” kata Mufti. Ia menegaskan angka itu bukan keuntungan harian atau bulanan, melainkan total laba bersih sejak koperasi berdiri.

Baca juga:
BEI Masukkan Metropolitan Kentjana ke Daftar Saham Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

Menanggapi hal itu, Ferry Juliantono membenarkan adanya koperasi yang mengalami kondisi tersebut, yaitu Koperasi Kelurahan Merah Putih di Melawai. Namun, ia menjelaskan bahwa koperasi tersebut didirikan secara mandiri oleh para pengurus, bukan melalui skema yang saat ini menjadi fokus pengembangan Kementerian Koperasi. “Itu memang koperasi kelurahan Merah Putih di Melawai yang didirikan secara mandiri oleh pengurus,” ujar Ferry dalam rapat yang sama, melansir dari kanal YouTube TVR Parlemen.

Ferry menambahkan, pihaknya saat ini lebih memprioritaskan pembangunan gudang, gerai, peralatan, dan fasilitas pendukung untuk koperasi di wilayah pedesaan dengan standar luas lahan tertentu. Pemerintah mengakui belum memiliki model bisnis khusus untuk Koperasi Kelurahan Merah Putih di kawasan perkotaan, termasuk Jakarta. “Kami belum masuk ke kelurahan, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Karena itu tentu akan berkaitan dengan model bisnis dan feasibility study yang sangat bisa jadi berbeda sama sekali dengan model bisnis dan feasibility study yang ada di koperasi-koperasi yang berkarakter desa,” beber Ferry.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ferry memastikan segera menyusun model bisnis dan studi kelayakan yang dirancang khusus bagi koperasi kelurahan di kota-kota besar. Karakter usaha koperasi di perkotaan jelas berbeda dengan di pedesaan sehingga membutuhkan pendekatan tersendiri. “Jadi dalam waktu dekat, pokoknya yang di Melawai ini kita beresin dan kita akan bikin model bisnis dan feasibility study untuk kelurahan-kelurahan yang khusus khas untuk kota-kota besar,” tuturnya.

Sementara itu, Mufti Anam tetap kritis. Ia menilai laba bersih Rp78.000 sangat tidak sebanding dengan modal Rp3 miliar. Ia mendesak transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan koperasi tersebut. “Kami tidak ingin berdebat soal angka, ini betul atau tidak? Kami pingin tanya,” ujarnya.

Baca juga:
Saham RI Didepak MSCI-FTSE, BEI: Kami Ingin Masuk dengan Cara Benar

Koperasi Merah Putih merupakan program pemerintah yang digalakkan untuk mendorong perekonomian desa dan kelurahan. Namun, kasus di Melawai ini menjadi sorotan karena performanya yang jauh dari harapan. Publik pun ramai memperbincangkan efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan dana koperasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pengurus Koperasi Merah Putih Melawai. Namun, pernyataan Menkop memberikan gambaran bahwa pemerintah sedang mencari solusi agar koperasi di perkotaan dapat berjalan optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *