Konser Andrea Bocelli di Jakarta Digelar Malam Ini, Pramono Anung Ikut Arahan Pusat

Konser Andrea Bocelli di Jakarta Digelar Malam Ini, Pramono Anung Ikut Arahan Pusat
Konser Andrea Bocelli di Jakarta Digelar Malam Ini, Pramono Anung Ikut Arahan Pusat

Sorothari – 03 November 2026 | Konser penyanyi tenor legendaris asal Italia, Andrea Bocelli, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, tetap digelar pada Selasa malam, 3 November 2026, pukul 20.00 WIB. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengikuti keputusan pemerintah pusat terkait perhelatan tersebut. “Saya sendiri, terus terang, hampir enggak pernah memberikan statement tentang konser ini, sama sekali enggak pernah. Dan ketika sudah mulai muncul di ruang publik, tentunya Pemerintah DKI Jakarta mengikuti apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat,” ujar Pramono di Balai Kota, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Pramono menjelaskan bahwa promotor konser Andrea Bocelli telah mengantongi izin dari Kementerian Pariwisata, Kepolisian RI, Imigrasi, dan pengelola venue. Oleh karena itu, menurutnya, boleh atau tidaknya konser tersebut bukan menjadi wewenang Pemprov DKI. Pernyataan ini menanggapi desakan sejumlah pihak, termasuk Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta M Taufik Zoelkifli (MTZ), yang meminta gubernur mempertimbangkan kembali gelaran konser tersebut. Taufik merujuk pada informasi mengenai rekam jejak Bocelli yang dipersoalkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), khususnya dugaan keterlibatan penyanyi itu dalam kegiatan penggalangan dana yang mendukung militer Israel. Fraksi PKS pun meminta jawaban tertulis dari Pemprov DKI paling lambat 2 November 2026.

Baca juga:
Konser Kanye West di Jakarta Dipadati Puluhan Ribu Penonton, Pramono Sebut Katalis Ekonomi

Meski menuai penolakan, konser Andrea Bocelli di JIExpo tetap berlangsung. Pembukaan acara pada Selasa (3/11/2026) diawali dengan doa lintas agama. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari Inisiator Qutb Global, Hery Haryanto Azumi, yang menilai doa lintas agama sebagai pesan penting tentang komitmen merawat toleransi, kebersamaan, dan persatuan di tengah keberagaman keyakinan dan budaya masyarakat Indonesia. “Kita harus menyadari bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, justru merupakan sumber kekuatan nasional. Indonesia tidak harus seragam untuk menjadi kuat. Kita berbeda dalam keyakinan dan budaya, tetapi tetap satu dalam semangat kebangsaan dan kemanusiaan,” kata Hery dalam keterangan tertulis.

Hery menambahkan bahwa keberagaman di Indonesia tidak boleh sebatas diakui sebagai realitas sosial, tetapi wajib diwujudkan lewat sikap saling menghormati di dalam ruang perjumpaan yang setara. Kehadiran doa lintas agama pada ajang berskala internasional ini dipandang sebagai contoh nyata bagaimana identitas yang berbeda dapat saling berdampingan secara damai. Qutb Global juga menilai pagelaran seni tersebut berfungsi sebagai ruang diplomasi kebudayaan. “Dalam konteks tersebut, pertunjukan seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat membuka ruang dialog dan memperkuat hubungan antarmanusia,” ujar Hery. Ia menekankan pentingnya penguatan lima nilai universal, yaitu Perdamaian, Keadilan, Kolaborasi, Kemanusiaan, dan Persatuan.

Gelombang Penolakan dan Seruan Boikot

Di sisi lain, penolakan terhadap konser Andrea Bocelli terus mengalir. Ratusan massa menggelar aksi demonstrasi dan konvoi dari kawasan Tebet hingga Silang Monas, Jakarta, pada Selasa (3/11/2026). Mereka menuntut acara dibatalkan dan menyerukan boikot penuh terhadap pihak penyelenggara serta sponsor yang terlibat. Aksi berlangsung dengan membentangkan bendera Palestina berukuran raksasa serta jajaran poster penolakan. Aksi ini juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ustaz Bachtiar Nasir, M. Husein Gaza, dan Kang Handy Bonny.

Pembina Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bachtiar Nasir, menilai klaim kemanusiaan yang diusung dalam rangkaian konser tersebut tidak berimbang dan berpotensi menjadi kebohongan publik. Pihaknya menyayangkan tidak adanya empati nyata yang ditunjukkan bagi puluhan ribu korban di Gaza. “Menyuarakan penolakan, boikot terhadap konser yang dilaksanakan oleh Bocelli. Karena sampai hari ini, kami tidak mendengarkan satu patah kata pun bahwa dia berpihak pada kemerdekaan Palestina, tidak ada keberpihakan kepada rakyat Gaza,” tegas Bachtiar Nasir saat ditemui di kawasan Monas, Selasa (3/11). Bachtiar juga mengkritik program donasi 100 ribu pasang sepatu yang digagas pihak penyelenggara, Shoemaker Live, untuk anak-anak terdampak konflik.

Baca juga:
Marvel Resmi Umumkan Serial Thriller Mata-mata Zodiac untuk Disney+

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan beberapa ormas Islam memang telah gencar melakukan penolakan konser tersebut, termasuk saat digelar di Kawasan Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 lalu. Beberapa ormas seperti Muhammadiyah dan Front Persaudaraan Islam (FPI) juga telah menyampaikan sikap penolakan. Namun, pemerintah tampaknya tetap pada pendiriannya untuk menggelar konser tersebut.

Lea Simanjuntak Berduet dengan Andrea Bocelli

Di tengah kontroversi, kabar membanggakan datang dari penyanyi sopran Indonesia, Lea Simanjuntak. Perempuan berdarah Batak itu tampil berduet dengan Andrea Bocelli dalam konser Romanza 30th Anniversary World Tour di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu (31/10/2026). Lea membawakan lagu ikonik “The Prayer” bersama Bocelli di hadapan ribuan penonton. Momen tersebut menjadi simbol pesan kemanusiaan dan perdamaian.

Lea Angeline Simanjuntak lahir di Bukit Timah, Singapura, pada 7 Juli 1979. Darah Batak mengalir dari kedua orang tuanya, Jackson Simanjuntak dan Raphita Tobing, yang merupakan musisi gereja. Bakat menyanyinya sudah terlihat sejak usia 5 tahun sebagai solois paduan suara gereja. Setelah menetap di Indonesia, Lea menempuh pendidikan di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa Inggris. Sebelum dikenal sebagai penyanyi solo, Lea merupakan backing vocal untuk musisi besar, seperti Chrisye, Krisdayanti, Rio Febrian, hingga Erwin Gutawa. Pada 2004, ia merilis album solo perdananya berjudul “Bangun”.

Lea dikenal sebagai penyanyi dengan jangkauan vokal sopran yang mampu melintasi berbagai genre, mulai dari pop, lagu Batak, musik rohani, hingga klasik seriosa. Karakter vokal tersebut membuatnya dijuluki sebagai salah satu sopran terbaik Indonesia. Selain bersolo karier, Lea juga bergabung dalam duo vokal Bandanaira bersama Irsa Destiwi yang fokus membawakan lagu-lagu nasional dan daerah dengan aransemen modern. Penampilannya bersama Bocelli menambah daftar prestasi penyanyi kelahiran Singapura itu di kancah musik internasional.

Baca juga:
Sorotan Dunia Hiburan dan Penyiaran Tele: Inovasi Teknologi hingga Dinamika Bintang Internasional

Hingga berita ini diturunkan, konser Andrea Bocelli di JIExpo masih berlangsung. Aksi penolakan dari berbagai elemen masyarakat diperkirakan akan terus berlanjut, sementara pihak penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan boikot. Pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta belum mengeluarkan keterangan lebih lanjut mengenai sikap mereka terhadap gelaran tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *