Sorothari – 18 Juli 2026 | Jakarta – KTM melalui tim satelitnya, Tech3, secara tegas menolak wacana penggunaan satu motor saat sesi latihan bebas MotoGP mulai musim 2027. Langkah ini dinilai tidak akan memberikan penghematan biaya signifikan, justru berpotensi mengurangi daya tarik balapan. Penolakan keras dari pabrikan asal Austria itu menambah panjang daftar pihak yang tidak setuju dengan aturan satu motor MotoGP tersebut.
Manajer tim Tech3, Guenther Steiner, menjadi salah satu suara paling vokal menentang rencana tersebut. Menurut Steiner, ide pembatasan jumlah motor menjadi satu unit saat latihan hanya akan memperburuk kualitas tontonan tanpa alasan yang jelas. “Saya pikir kita mengurangi daya tarik tontonan tanpa alasan yang jelas. Saya cukup bersemangat membahas hal ini karena saya benar-benar tidak memahaminya,” ujarnya dikutip dari Crash, Jumat (17/7/2026).
Baca juga:Steiner mengakui bahwa mayoritas pabrikan sebelumnya sempat mendukung usulan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, dukungan itu mulai memudar. “Sepertinya para pabrikan mendukungnya,” ujarnya, merujuk pada sikap awal para anggota Motorcycle Sports Manufacturers Association (MSMA).
Wacana satu motor MotoGP ini sebenarnya telah bergulir sejak beberapa bulan lalu. Ide awalnya adalah untuk menekan biaya operasional tim, terutama di sesi latihan bebas yang kerap digunakan untuk menguji berbagai setelan motor. Namun, kritik muncul dari berbagai pihak, termasuk pembalap dan tim, yang menilai aturan ini justru akan membuat sesi latihan menjadi monoton dan mengurangi kesempatan pengembangan.
KTM, sebagai salah satu pabrikan utama di MotoGP, memiliki pandangan bahwa balapan harus tetap spektakuler. Dengan hanya satu motor, pembalap tidak bisa membandingkan data secara langsung antara dua motor yang berbeda setelan. Hal ini bisa menghambat proses adaptasi dan penemuan setelan optimal, yang pada akhirnya berdampak pada performa balapan.
Menurut sumber internal, MSMA diperkirakan tidak akan memberikan persetujuan bulat untuk aturan ini. Syarat utama agar regulasi baru bisa diterapkan adalah adanya konsensus dari seluruh anggota asosiasi pabrikan. Tanpa dukungan penuh, wacana tersebut dipastikan kandas.
Baca juga:KTM tolak keras aturan satu motor MotoGP, dianggap merusak tontonan, menjadi salah satu batu sandungan terbesar bagi perubahan regulasi yang direncanakan berlaku pada 2027. Penolakan ini tidak hanya datang dari Tech3, tetapi juga mencerminkan sikap resmi pabrikan. “Kami percaya bahwa MotoGP harus tetap menjadi ajang balap paling menarik di dunia. Mengurangi jumlah motor di sesi latihan sama saja dengan mengurangi keseruan,” tambah Steiner.
Di sisi lain, pihak penyelenggara MotoGP, Dorna, belum memberikan pernyataan resmi menanggapi penolakan ini. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Dorna masih membuka pintu dialog untuk mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Ada kemungkinan aturan satu motor hanya akan diterapkan pada sesi tertentu, atau bahkan diganti dengan pendekatan lain yang lebih efektif dalam menekan biaya tanpa merusak tontonan.
Sejumlah pembalap juga angkat bicara. Mereka khawatir bahwa dengan satu motor, risiko kecelakaan justru meningkat karena pembalap tidak memiliki cadangan setelah crash di sesi latihan. Saat ini, setiap pembalap biasanya memiliki dua motor yang siap digunakan selama akhir pekan balap.
Perdebatan soal aturan satu motor MotoGP ini masih jauh dari kata selesai. KTM tolak keras aturan satu motor MotoGP, dianggap merusak tontonan, dan sikap ini diyakini akan diikuti oleh pabrikan lain yang juga ragu dengan efektivitas kebijakan tersebut. Keputusan akhir harus diambil melalui voting MSMA, dan jika tidak ada kata sepakat, wacana ini bisa dihapus dari agenda perubahan regulasi 2027.
Baca juga:Steiner menegaskan bahwa dirinya akan terus menyuarakan penolakan ini hingga keputusan final. “Saya harap akal sehat akan menang. Jangan sampai kita mengorbankan kualitas balapan demi penghematan yang belum tentu besar,” pungkasnya.













