Sorothari – 09 September 2026 | Turnamen Grand Slam US Open 2026 di New York menyajikan atmosfer kompetisi yang sarat dengan dinamika sejarah, di mana pengaruh dan rekor legendaris Serena Williams kembali menjadi tolok ukur utama bagi para petenis generasi masa kini. Dari aksi di nomor ganda hingga perebutan gelar tunggal putri, bayang-bayang prestasi sang maestro tenis Amerika Serikat tersebut terus mengiringi langkah para atlet yang berlaga di Flushing Meadows.
Jejak Sejarah dan Kembalinya Serena Williams di US Open
Panggung tenis dunia kembali menyaksikan momen emosional saat Serena Williams kembali berduet dengan sang kakak, Venus Williams, di nomor ganda putri. Penampilan ini menjadi yang pertama bagi Williams bersaudara di US Open sejak 2022. Kendati harus terhenti di babak pertama setelah kalah dramatis melalui babak match tiebreaker dari pasangan Hao-Ching Chan dan Maya Joint, kehadiran mereka tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton di Billie Jean King National Tennis Center.
Baca juga:Pasangan yang mengalahkan Williams bersaudara tersebut kemudian terlibat dalam laga babak ketiga yang penuh ketegangan melawan unggulan keempat, Jelena Ostapenko dan Su-wei Hsieh. Pertandingan tersebut diwarnai perselisihan sengit ketika Ostapenko memprotes keras pelatih lawannya kepada wasit kursi. Ostapenko, juara Prancis Terbuka 2017, menuduh pelatih Chan melakukan provokasi verbal dalam bahasa Mandarin di tengah laga. Kendati tensi memanas dan Chan menolak berjabat tangan dengan Hsieh seusai laga, pasangan Ostapenko dan Hsieh sukses mengunci kemenangan dua set langsung 6-4, 6-4 untuk melaju ke babak perempat final.
Perburuan Rekor Tiga Gelar Beruntun Aryna Sabalenka
Di nomor tunggal putri, sorotan utama tertuju pada petenis peringkat teratas dunia, Aryna Sabalenka. Petenis asal Belarusia tersebut tengah berada di jalur yang tepat untuk menorehkan sejarah baru di turnamen lapangan keras ini. Sabalenka berpeluang menjadi petenis putri pertama yang mampu meraih tiga gelar juara US Open secara beruntun sejak pencapaian spektakuler yang terakhir kali dicatatkan oleh Serena Williams.
Persaingan di sektor tunggal putri semakin memanas seiring lolosnya sejumlah petenis papan atas ke babak perempat final. Elena Rybakina melangkah ke delapan besar usai menghentikan mantan juara dua kali US Open, Naomi Osaka, yang pada awal turnamen sempat mencuri perhatian publik lewat penghormatan busananya terhadap legenda bola basket Allen Iverson. Rybakina dijadwalkan saling sikut dengan petenis asal Tiongkok, Qinwen Zheng, untuk memperebutkan tiket menuju semifinal.
Baca juga:Dominasi Petenis Amerika Serikat dan Dinamika Turnamen
Petenis tuan rumah juga menciptakan sejarah tersendiri melalui pertemuan antara Jessica Pegula dan Emma Navarro di babak perempat final. Pertarungan antara unggulan ketiga Pegula melawan Navarro ini tercatat sebagai duel perempat final sesama petenis putri Amerika Serikat pertama di US Open sejak pertemuan sengit antara Serena Williams dan Venus Williams pada edisi 2015 silam.
Laga ini turut mengundang atensi luas karena latar belakang kedua atlet yang merupakan putri dari keluarga konglomerat bisnis terkemuka. Ayah Navarro, Ben Navarro, merupakan pemilik turnamen Cincinnati Open dan Charleston Open, sementara Pegula juga berstatus sebagai pewaris kerajaan bisnis ternama. Pertemuan di New York ini menjadi panggung pembuktian lanjutan setelah Pegula sebelumnya mengalahkan Navarro di Cincinnati Open.
Selain keberhasilan Coco Gauff melangkah ke babak perempat final usai menaklukkan Iva Jovic, turnamen juga menyisakan sorotan di luar lapangan. Keputusan stasiun televisi penyiaran ESPN yang tetap menayangkan sesi wawancara pascapertandingan Gauff menuai kritik luas dari penggemar tenis. Hal tersebut terjadi lantaran siaran langsung duel krusial lima set antara petenis muda Amerika Serikat, Learner Tien, melawan Karen Khachanov terlewatkan, padahal Tien berpeluang menjadi petenis putra termuda AS yang menembus perempat final sejak Andy Roddick pada tahun 2002.
Baca juga:Rangkaian pertandingan perempat final US Open 2026 dipastikan akan terus bergulir dengan intensitas tinggi, menghadirkan persaingan sengit antara dominasi para unggulan dunia dan kejutan dari para petenis muda yang berupaya mengukir sejarah baru di New York.







