Peringati 30 Tahun Kudatuli, Sekjen PDIP Sampaikan Empat Seruan Nasional untuk Jaga Demokrasi

Peringati 30 Tahun Kudatuli, Sekjen PDIP Sampaikan Empat Seruan Nasional untuk Jaga Demokrasi
Peringati 30 Tahun Kudatuli, Sekjen PDIP Sampaikan Empat Seruan Nasional untuk Jaga Demokrasi

Sorothari – 27 Juli 2026 | Peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli atau Kerusuhan 27 Juli 1996 digelar di sejumlah daerah oleh kader PDI Perjuangan. Dalam momen reflektif ini, Sekjen PDIP menyampaikan empat seruan nasional untuk menjaga demokrasi agar tidak kembali terulang praktik otoritarianisme.

Seruan pertama adalah mengingat kembali sejarah dan pengorbanan para pejuang demokrasi. Megawati Soekarnoputri, dalam Kongres VI PDIP di Bali, kembali melontarkan pertanyaan mengendap: “Sampai hari ini saya berpikir, hukum itu ada di mana?” Peristiwa 27 Juli 1996 menewaskan sedikitnya lima orang, melukai 149, dan 23 hilang, serta kerugian capai Rp100 miliar, seperti dicatat Komnas HAM.

Baca juga:
30 Tahun Kudatuli: Pengingat Kelam Perjalanan Demokrasi Indonesia

Empat Seruan Nasional Sekjen PDIP

Seruan kedua, menjaga demokrasi yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata. Ketua DPC PDIP Buleleng, Gede Supriatna, menegaskan bahwa demokrasi yang dinikmati hari ini bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan. Ia mengatakan, “Sejarah ini harus terus dikumandangkan sebagai pelajaran sekaligus pengingat agar pemerintah dan seluruh elemen bangsa tetap menjaga nilai-nilai demokrasi.”

Seruan ketiga, menolak segala bentuk otoritarianisme. Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono, dalam peringatan di Bandung menekankan, “Otoritarianisme dalam bentuk apa pun yang membatasi kebebasan berpendapat, yang menindas pihak yang berbeda pandangan, harus kita lawan.” Ia menambahkan, ketika kekuasaan tak lagi tunduk pada rakyat, maka hak berbicara dianggap sebagai kejahatan.

Baca juga:
Evaluasi Kinerja dan Dinamika Politik Pemerintahan Prabowo Bersama Wapres Gibran

Seruan keempat, melibatkan generasi muda dalam merawat demokrasi. DPC PDIP Buleleng mengundang mahasiswa dalam sarasehan bertema “Demokrasi Tidak Diberi, Tapi Direbut”. Wakil Ketua DPD PDIP Bali, dr. I Nyoman Sutjidra, mengingatkan bahwa demokrasi yang berkualitas tidak cukup diperjuangkan, tetapi harus diwujudkan melalui pelayanan publik yang baik, pemerintahan bersih, dan partisipasi aktif warga.

Di NTB, DPD PDIP setempat juga memperingati Kudatuli sebagai bukti demokrasi pernah dibayar dengan intimidasi, kekerasan, bahkan nyawa. Sementara itu, pameran foto “Tiga Dekade Kudatuli: Meretas Jalan Demokrasi” di Jakarta menampilkan dokumentasi penyintas dan makam korban yang masih menyisakan pertanyaan. Film dokumenter produksi Badan Sejarah PDIP turut diputar, menghadirkan kesaksian Petrus Hariyanto, Ribka Tjiptaning, dan Jonata Yani.

Baca juga:
AMPG Kecam Deddy Sitorus Sebut Bahlil Bolu Ketan, Desak Minta Maaf

Peringatan 30 tahun Kudatuli menjadi momentum bagi PDIP untuk memperkuat komitmen demokrasi. Empat seruan nasional yang disampaikan Sekjen PDIP menjadi pedoman bagi kader dan masyarakat untuk terus waspada terhadap ancaman demokrasi dan memastikan kebenaran pada akhirnya menang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *