Sorothari – 02 September 2026 | Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia kian semarak seiring langkah sejumlah emiten yang bersiap menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sepanjang tahun 2026. Salah satu emiten yang telah mengumumkan rincian rencana aksi korporasinya adalah PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), perusahaan yang bergerak di bidang angkutan laut dan penunjang transportasi perairan, dengan target perolehan dana mencapai Rp1,274 triliun.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), CBRE berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 11,798 miliar lembar saham baru atau setara 72,22 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah terlaksananya PMHMETD I. Nilai nominal saham baru tersebut dipatok Rp25 per saham, dengan harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp108 per lembar saham.
Baca juga:Rasio pelaksanaan yang ditetapkan manajemen menetapkan bahwa setiap pemegang 100 saham lama yang tercatat hingga batas waktu penutupan Daftar Pemegang Saham (DPS) berhak atas 260 HMETD. Setiap satu hak tersebut memberikan kewenangan kepada pemiliknya untuk menebus satu saham baru dengan harga pelaksanaan yang telah ditentukan.
Rencana Konversi Utang dan Skema Pengalihan Hak CBRE
Dari total perolehan dana emisi tersebut, CBRE akan mengalokasikan sebagian besar untuk penyelesaian kewajiban finansial. Perseroan berencana melakukan konversi utang menjadi modal disetor dengan total nilai mencapai Rp858,595 miliar, atau setara dengan 48,500 juta dolar AS mengacu pada kurs Rp17.703 per dolar AS. Kesepakatan ini telah diformalkan melalui surat pemberitahuan konversi dan pernyataan komitmen tertanggal 28 Agustus 2026.
Konversi hak tagih tersebut melibatkan empat pihak kreditor berdasarkan perjanjian pinjaman tertanggal 31 Oktober 2025, yakni:
- PT Garuda Nusantara Mineral
- PT Saga Investama Sedaya
- Yafin Tandiono Tan
- Hilong Shipping Holding Limited
Aksi korporasi ini turut mengubah peta kepemilikan saham di tubuh perseroan. Dua pemegang saham utama CBRE, yakni PT Omudas Investment Holdco (OIH) yang menguasai 61,13 persen saham dan PT Republik Capital Indonesia (RCI) dengan porsi 9,3 persen, memutuskan untuk tidak mengeksekusi haknya. OIH dan RCI secara resmi mengalihkan porsi hak mereka kepada empat kreditor tersebut untuk dieksekusi melalui skema konversi utang menjadi saham.
Baca juga:Manajemen menegaskan bahwa sisa dana bersih dari penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu tersebut, setelah dikurangi kewajiban konversi utang dan biaya-biaya emisi, akan dialokasikan penuh sebagai modal kerja demi menunjang operasional dan ekspansi bisnis pelayaran perseroan. Di sisi lain, bagi pemegang saham publik yang memilih tidak mengeksekusi haknya, potensi dilusi kepemilikan tercatat maksimal sebesar 72,22 persen.
Jadwal Pelaksanaan PMHMETD I CBRE
Bagi investor yang ingin mencermati lini masa pelaksanaan aksi korporasi CBRE, perseroan telah menetapkan indikasi jadwal penting pelaksanaan PMHMETD I sebagai berikut:
| Agenda Aksi Korporasi | Tanggal Pelaksanaan |
|---|---|
| Recording Date (Daftar Pemegang Saham yang Berhak) | 4 November 2026 (Pukul 16.00 WIB) |
| Periode Perdagangan HMETD | 6–12 November 2026 |
| Periode Pelaksanaan dan Pembayaran HMETD | 6–12 November 2026 |
| Periode Penyerahan Saham Baru Hasil HMETD | 10–16 November 2026 |
Semarak Rights Issue di Bursa Efek Indonesia
Agenda rights issue CBRE memperpanjang daftar emiten yang memanfaatkan instrumen hak memesan efek terlebih dahulu di lantai bursa sepanjang 2026. Aksi korporasi ini menjadi sarana strategis bagi emiten untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus memberi kesempatan bagi pemegang saham lama mempertahankan porsi kepemilikannya.
Di antara berbagai aksi permodalan yang tercatat di BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) mematok target emisi terbesar dengan potensi dana maksimal Rp27,10 triliun melalui penerbitan sekitar 215,09 miliar saham baru di harga Rp126 per lembar. Perdagangan HMETD FORU dijadwalkan berlangsung pada 22 September hingga 1 Oktober 2026.
Baca juga:Secara keseluruhan, akumulasi target dana maksimal dari lima aksi penawaran umum terbatas terbesar di bursa tahun ini diproyeksikan mencapai kisaran Rp42,85 triliun. Tingginya minat emiten memanfaatkan instrumen ekuitas ini mencerminkan kebutuhan industri dalam merestrukturisasi neraca keuangan, mendanai ekspansi, serta mengoptimalkan operasional bisnis di tengah dinamika ekonomi nasional.













