Berita  

Pantauan Kualitas Udara Hari Ini: Karhutla Picu Kategori Bahaya di Sumatra dan Kalimantan

Pantauan Kualitas Udara Hari Ini: Karhutla Picu Kategori Bahaya di Sumatra dan Kalimantan
Pantauan Kualitas Udara Hari Ini: Karhutla Picu Kategori Bahaya di Sumatra dan Kalimantan

Sorothari – 10 September 2026 | Kondisi kualitas udara hari ini di sejumlah wilayah Indonesia mengalami penurunan signifikan menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), aktivitas vulkanik, serta tingginya konsentrasi polusi perkotaan. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla per 9 September 2026, puluhan wilayah di Pulau Sumatra dan Kalimantan mencatatkan tingkat pencemaran udara yang masuk dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya bagi kesehatan manusia.

Dampak paling parah tercatat di Sumatra dan Kalimantan, di mana asap pekat mulai mengganggu aktivitas harian masyarakat hingga melintasi batas negara tetangga. Sebanyak 23 daerah terkonfirmasi berada dalam status udara tidak sehat, tujuh daerah masuk kategori sangat tidak sehat, dan lima daerah di Pulau Kalimantan berada pada level berbahaya.

Baca juga:
Gelombang Aspirasi Hari Buruh: Dari Desakan Regulasi Baru hingga Perlindungan Pekerja Lapangan

Penyebab Memburuknya Kualitas Udara Hari Ini dan Daerah Terdampak

Penyebaran asap tebal karhutla diperparah oleh pola pergerakan angin monsun Australia yang bergerak ke arah barat laut. Kondisi ini membawa partikel debu dan asap dari titik api menuju kawasan permukiman di sekitarnya. Sebaran tingkat pencemaran udara di berbagai wilayah terangkum dalam rincian berikut:

Kategori Kualitas Udara Wilayah di Sumatra Wilayah di Kalimantan
Bahaya Pontianak, Kubu Raya, Gunung Mas, Katingan, Kotawaringin Timur
Sangat Tidak Sehat Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Kabupaten Sekadau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Murung Raya, Kabupaten Kapuas
Tidak Sehat Bengkalis, Siak, Kampar, Padang Pariaman, Kota Padang, Indragiri Hilir, Tebo, Tanjung Jabung Timur, Kota Jambi, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Kota Palembang, Ogan Ilir, Kota Prabumulih, Lahat Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Barito Selatan, Kota Palangkaraya, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Barito Kuala, Kota Banjarbaru

Di Kota Palembang, Sumatra Selatan, pekatnya kabut asap memaksa pemerintah setempat menghentikan sementara pembelajaran tatap muka untuk tingkat TK hingga SMP dan mengalihkannya ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Konsentrasi partikel halus PM2.5 di kawasan Musi 2 Palembang tercatat sempat menembus angka di atas 400 mikrogram per meter kubik (μg/m³) pada Rabu dini hari, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi 600 μg/m³ pada awal pekan. Kendati demikian, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap disalurkan kepada siswa dengan mekanisme yang disesuaikan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa tingginya angka PM2.5 murni bersumber dari kebakaran lahan di wilayah seperti Ogan Komering Ilir (OKI), bukan akibat debu erupsi gunung berapi. Berdasarkan pemantauan BMKG dan pengecekan lapangan, tidak ditemukan debu vulkanik yang mencapai Palembang.

Otoritas pelabuhan setempat juga mengeluarkan peringatan kewaspadaan tinggi bagi aktivitas pelayaran di sepanjang Sungai Musi akibat terbatasnya jarak pandang.

Baca juga:
Pantauan Kualitas Udara Jakarta Hari Ini: Masuk Jajaran Kota Berpolusi Tinggi Dunia

Pengaruh Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Polusi Udara Jakarta

Selain ancaman karhutla, dinamika atmosfer di wilayah selatan Sumatra turut dipengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di Lampung cerah hingga cerah berawan dengan suhu berkisar 24–31 derajat Celsius. Namun, sebaran abu vulkanik yang terbawa angin berpotensi menimbulkan udara kabur serta mengurangi jarak pandang di Lampung Selatan dan area pesisir Selat Sunda.

Sementara itu, pantauan kualitas udara hari ini di DKI Jakarta masih menunjukkan konsentrasi polutan yang tinggi. Mengacu pada data IQAir per 10 September 2026, Jakarta menempati jajaran sepuluh besar kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan lebih bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk memantau indeks standar pencemar udara secara berkala. Pemantauan dapat dilakukan melalui lebih dari 100 Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) yang terintegrasi di platform daring:

  • Situs resmi DLH DKI Jakarta melalui menu indeks standar kualitas udara.
  • Aplikasi JAKI (Jakarta Kini) yang menampilkan pembaruan kondisi udara secara aktual di berbagai titik ibu kota.

Langkah Menjaga Kesehatan Saat Udara Buruk

Melihat fluktuasi kualitas udara hari ini yang belum stabil di berbagai daerah, masyarakat disarankan untuk membatasi kegiatan di luar ruangan. Aktivitas fisik atau olahraga dianjurkan beralih ke dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang tersaring dengan baik.

Baca juga:
Kabut Asap Karhutla Ganggu Operasional Bandara Udara Supadio, Sejumlah Penerbangan Dibatalkan

Beberapa jenis latihan fisik yang aman dilakukan di ruang tertutup antara lain yoga, pilates, latihan beban (strength training), jalan cepat di atas treadmill, serta senam peregangan. Latihan-latihan ini dinilai efektif menjaga kebugaran tanpa membebani kinerja saluran pernapasan secara berlebih di tengah paparan polutan dan kabut asap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *