Berita  

Kabut Asap Karhutla Ganggu Operasional Bandara Udara Supadio, Sejumlah Penerbangan Dibatalkan

bandara udara supadio
bandara udara supadio

Sorothari – 09 September 2026 | Operasional lalu lintas penerbangan di bandara udara supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami gangguan serius akibat pekatnya kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jarak pandang mendatar di area landasan pacu dilaporkan merosot tajam hingga berada di bawah standar minimum keselamatan penerbangan. Situasi ini berdampak langsung terhadap sejumlah jadwal penerbangan antarpulau yang terpaksa mengalami penundaan panjang hingga pembatalan rute secara massal.

Kondisi cuaca buruk yang menyelimuti kawasan Kubu Raya dan sekitarnya tersebut memaksa maskapai penerbangan mengambil langkah pencegahan ketat. Penurunan visibilitas yang signifikan dinilai sangat membahayakan proses lepas landas maupun pendaratan armada pesawat komersial. Dampak gangguan operasional ini dirasakan langsung oleh ratusan calon penumpang di bandara udara supadio yang jadwal perjalanannya terganggu.

Baca juga:
Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda, Citilink Kembali Buka Penerbangan

Lion Group Tetapkan Status Keadaan Kahar

Maskapai penerbangan Lion Group, yang menaungi Lion Air, Batik Air, dan Super Air Jet, menjadi salah satu operator yang terdampak paling masif. Pihak manajemen mengonfirmasi bahwa kendala visibilitas rendah mengharuskan maskapai menerapkan kebijakan pembatalan dan penundaan jadwal keberangkatan demi mengutamakan keselamatan seluruh penumpang dan kru pesawat.

Corporate Communications Strategic Lion Group, Danang Mandala Prihantoro, menyampaikan bahwa penurunan jarak pandang di sekitar bandara telah berlangsung sepanjang pekan dan memengaruhi kelayakan operasional secara langsung. Mengingat faktor cuaca buruk berada di luar kendali teknis perusahaan, pihak maskapai menetapkan kondisi ini sebagai keadaan kahar atau force majeure.

“Kondisi kabut asap dalam minggu ini menyebabkan penurunan jarak pandang di sekitar bandara sehingga mempengaruhi kelayakan operasional penerbangan,” ujar Danang. Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan penerbangan tidak dapat dikompromikan dalam kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini.

Baca juga:
Aktivitas Gunung Sinabung Masih Berfluktuasi, Penerbangan di Bandara Kualanamu Kembali Normal

Danang merinci bahwa manajemen memperlakukan penundaan dan pembatalan secara berbeda berdasarkan perkembangan di lapangan:

  • Penundaan Penerbangan: Diberlakukan apabila pesawat masih memiliki peluang diberangkatkan ketika kondisi jarak pandang membaik dalam rentang waktu toleransi operasional.
  • Pembatalan Penerbangan: Ditetapkan ketika batas waktu operasional bandara terlampaui dan visibilitas landasan pacu tetap tidak memenuhi standar aman untuk terbang.

Kompensasi dan Pemulihan Layanan Penumpang

Menanggapi pembatalan sejumlah penerbangan di bandara udara supadio, Lion Group membuka opsi penanganan bagi para calon penumpang yang terdampak. Pihak maskapai menyediakan fasilitas perubahan jadwal terbang (reschedule) ke keberangkatan berikutnya tanpa biaya tambahan, maupun opsi pengembalian dana tiket secara penuh (refund) sesuai dengan ketentuan regulasi penerbangan sipil yang berlaku.

Selain penanganan penumpang, maskapai terus berkoordinasi secara intensif dengan otoritas pemandu lalu lintas udara dan pengelola bandara. Pemantauan berkala terhadap dinamika cuaca dan sebaran asap dilakukan untuk memastikan kesiapan armada saat visibilitas dinyatakan kembali aman.

Baca juga:
Aktivitas Vulkanik Meningkat, Ancaman Abu Erupsi Meluas dari Gunung Merapi hingga Semeru

Situasi Regional dan Pemulihan Operasional

Dampak bencana karhutla di wilayah Kalimantan Barat tidak hanya memengaruhi aktivitas di bandara udara supadio, melainkan juga meluas ke negara tetangga. Peningkatan konsentrasi asap sempat memicu penetapan status darurat di Wilayah Serian, Sarawak, Malaysia, sebelum akhirnya dicabut oleh Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim seiring membaiknya Indeks Pencemaran Udara (IPU) di kawasan tersebut.

Sementara itu, PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports selaku pengelola fasilitas kebandarudaraan menyatakan bahwa aktivitas penerbangan mulai bergerak menuju titik normal seiring perbaikan jarak pandang di landasan pacu. Pihak pengelola bersama seluruh pemangku kepentingan penerbangan terus menyiagakan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan susulan selama musim kemarau berlangsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *