Berita  

Titiek Soeharto Resmikan Posyandu Lili hingga Kawal Bantuan Nelayan di Yogyakarta

Titiek Soeharto Resmikan Posyandu Lili hingga Kawal Bantuan Nelayan di Yogyakarta
Titiek Soeharto Resmikan Posyandu Lili hingga Kawal Bantuan Nelayan di Yogyakarta

Sorothari – 22 Oktober 2026 | Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, yang akrab disapa Titiek Soeharto, melakukan rangkaian kunjungan kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 20-22 Oktober 2026. Agenda tersebut mencakup peresmian Posyandu Lili dan Kebun Pangan Perempuan di Sleman, peluncuran kemasan baru beras SPHP di Bantul, penyerahan bantuan perikanan di Bantul, serta peninjauan bantuan sarana perikanan di Kulon Progo. Kegiatan ini menyoroti perhatian legislator terhadap isu stunting, ketahanan pangan, dan kesejahteraan nelayan.

Pada Rabu, 21 Oktober 2026, Titiek Soeharto meresmikan Posyandu Lili di Dusun Purworejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Peresmian ini disertai penyerahan paket pangan dan gizi tambahan. Kehadiran posyandu tersebut didukung oleh Rabu Biru Foundation, yang menurut Direktur Eksekutifnya, Toro Sudarmadi, berfokus pada ketahanan pangan, gizi, dan kesehatan. Perbaikan gizi dinilai sebagai katalis utama pembangunan manusia untuk menyongsong Visi Indonesia Emas 2045.

Baca juga:
Ancaman Cuaca Windy Ekstrem: Badai Lowell Dekati Hawaii dan Sistem Tekanan Rendah Landa Amerika

Dalam kesempatan yang sama, Titiek juga meresmikan Kebun Pangan Perempuan yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT). Ia menekankan pentingnya masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode krusial untuk mencegah stunting. “Pada masa ini kebutuhan gizi dan kesehatan harus benar-benar diperhatikan. Ibu hamil perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup dan setelah lahir anak perlu mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, makanan pendamping ASI yang bergizi, imunisasi serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin,” ujarnya.

Secara nasional, angka stunting tercatat turun menjadi 19,8 persen pada tahun 2024. Pemerintah menargetkan penurunan hingga 14,2 persen pada tahun 2029 melalui kolaborasi lintas sektor. Titiek menegaskan bahwa pencapaian target tersebut memerlukan kerja sama erat mulai dari tingkat keluarga, desa, hingga masyarakat. Ia juga memberikan apresiasi kepada para kader posyandu yang menjadi kunci keberhasilan pelayanan kesehatan dasar dan pemantauan tumbuh kembang anak di desa.

Pengelolaan Kebun Pangan Perempuan oleh KWT dinilai sebagai langkah strategis untuk mewujudkan pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga. “Pemanfaatan pekarangan dan lahan desa secara produktif dapat menyediakan sumber pangan bergizi yang terjangkau, sekaligus menyuplai kebutuhan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu,” kata Titiek. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan yang turut hadir menyatakan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan pangan keluarga sekaligus memastikan kecukupan gizi ibu dan anak.

Sehari sebelumnya, Selasa, 20 Oktober 2026, Titiek Soeharto menghadiri peluncuran kemasan baru beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Medium dengan identitas “Beras Kita Medium” di Balai Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul. Peluncuran ini bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Acara tersebut juga dihadiri Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Pemasaran Perum Bulog Rahmanto Amin Jatmiko, serta jajaran Forkopimda Bantul.

Titiek menyampaikan apresiasi atas komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan. “Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kita melihat komitmen yang kuat untuk terus memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. Saya mengapresiasi langkah Bulog yang terus menghadirkan inovasi, termasuk melalui peluncuran kemasan baru beras SPHP dengan identitas Beras Kita Medium. Ini menjadi langkah positif agar produk beras pemerintah semakin dikenal, dipercaya, dan dekat dengan masyarakat,” ujarnya. Ia menilai kemasan baru tersebut tidak hanya memperbarui identitas produk, tetapi juga membawa pesan penting mengenai penghargaan terhadap hasil pertanian dalam negeri dan keberpihakan terhadap kebutuhan masyarakat.

Baca juga:
Iran Hentikan Dua Kapal Tanpa Izin di Selat Hormuz, Tegaskan Kendali Penuh

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, Titiek Soeharto mendampingi penyaluran bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul. Bantuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bakti KKP untuk memperingati hari ulang tahun ke-27 kementerian itu. Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha Donny Oktopura menyatakan bahwa program ini diharapkan langsung memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dalam kegiatan itu, KKP menyalurkan 50.000 ekor benih ikan budi daya untuk lima kelompok nelayan, 100 bibit cemara, serta 100 paket peralatan sekolah bagi keluarga nelayan. KKP juga menyerahkan sertifikat mutu dan keamanan hasil perikanan yang meliputi Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB), dan sertifikat Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) untuk kapal perikanan. Selain itu, KKP memfasilitasi pendaftaran jaminan sosial ketenagakerjaan bagi 83 nelayan Poncosari serta menyalurkan 50 paket perlengkapan keselamatan melaut berupa rompi dan alat komunikasi handy talky (HT).

Rangkaian Bulan Bakti KKP juga mencakup khitanan massal gratis, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, bazar produk perikanan, serta kegiatan bersih pantai dan penanaman vegetasi pantai. Titiek Soeharto mengapresiasi penyaluran bantuan tersebut karena dinilai memperkuat usaha perikanan dan meningkatkan nilai tambah hasil laut.

Masih pada hari yang sama, Titiek melakukan peninjauan bantuan prasarana dan sarana perikanan di Dusun Nepi, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo. Bantuan disalurkan melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (DJPDSPKP) KKP untuk mendukung hilirisasi produk perikanan, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan.

Dalam peninjauan itu, Titiek berpesan agar alat-alat yang diberikan dirawat dan digunakan sebaik mungkin. “Saya pesan supaya alat-alat ini dirawat, supaya bisa bermanfaat buat ibu-ibu semuanya dan warga di lingkungan sini. Yang penting dijaga kebersihan makanannya. Ini kan untuk konsumen, untuk dimakan sendiri. Kebersihan tolong diperhatikan ya ibu-ibu semuanya,” katanya. Ia berharap program bantuan ini mendorong kemandirian serta meningkatkan taraf ekonomi dan pendapatan masyarakat setempat.

Baca juga:
DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Serikat Pekerja Soroti Ketidaktransparanan Naskah

Titiek juga menegaskan komitmen Komisi IV DPR RI untuk terus mengawal program strategis di sektor kelautan dan perikanan, khususnya di wilayah Yogyakarta. Program tersebut meliputi pengadaan Kampung Nelayan Merah Putih, bantuan sistem budidaya bioflok untuk komoditas nila dan lele, hingga penyaluran sekitar 2 juta bibit ikan bagi masyarakat Yogyakarta. Pada kesempatan itu, bantuan prasarana dan sarana pascapanen diserahkan kepada tiga Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), yaitu Poklahsar Pattimurni Andani, Poklahsar Mekar Sari, dan Poklahsar Sari Progo, serta satu unit Kendaraan Alih Teknologi dan Informasi (ATI) kepada Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Mina Binangun.

Rangkaian kunjungan Titiek Soeharto di Yogyakarta menunjukkan sinergi antara legislatif dan eksekutif dalam mengawal program prioritas nasional. Mulai dari penanganan stunting melalui posyandu dan kebun pangan, penguatan ketahanan pangan melalui beras SPHP, hingga peningkatan kesejahteraan nelayan melalui bantuan sarana dan sertifikasi. Ke depan, Komisi IV DPR RI diharapkan terus mengawasi pelaksanaan program agar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *