Berita  

Kementerian Luar Negeri Filipina Panggil Dubes China Usai Ancaman Perang

Kementerian Luar Negeri Filipina Panggil Dubes China Usai Ancaman Perang
Kementerian Luar Negeri Filipina Panggil Dubes China Usai Ancaman Perang

Sorothari – 22 Oktober 2026 | Kementerian Luar Negeri Filipina resmi memanggil Duta Besar China untuk Manila, Jing Quan, menyusul pernyataannya yang menyebut Beijing dapat memenangkan perang terbuka dengan mudah. Langkah diplomatik ini diambil untuk menegaskan bahwa ucapan sang duta besar dinilai sebagai ancaman militer dan pelanggaran terhadap tata krama diplomasi internasional. Pemanggilan tersebut menjadi peringatan resmi agar pihak asing tidak melontarkan ancaman terhadap kedaulatan Filipina.

Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro menyampaikan protes keras atas pernyataan Jing Quan. Menurut Lazaro, klaim keunggulan militer itu bukan sekadar retorika, melainkan bentuk ancaman bersenjata yang bertentangan dengan norma hubungan antarnegara. Ia menilai pernyataan tersebut merusak upaya pembicaraan damai yang sedang dirintis kedua pihak. “Pernyataan tersebut sangat memancing ketegangan, tidak dapat diterima, dan sama sekali tidak membantu menciptakan rasa saling memahami,” ujar Lazaro, seperti dikutip Channel News Asia.

Baca juga:
ASEAN 2026: Vietnam Pimpin Pertumbuhan Ekonomi, Singapura Jadi Negara Terbaik untuk Ditinggali

Kementerian Luar Negeri Filipina juga mengecam Kedutaan Besar China yang sempat menyindir anggota parlemen pengkritik Jing Quan. Manila menegaskan kesiapan mengambil tindakan diplomatik lanjutan bila diperlukan. Langkah pemanggilan duta besar ini disebut sebagai bentuk perlindungan terhadap kehormatan serta keamanan wilayah nasional Filipina.

Kronologi Pernyataan Kontroversial

Kontroversi bermula ketika Jing Quan membantah pernyataan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. yang menuding Beijing kerap memicu masalah di kawasan. Dalam sebuah forum sekolah di Manila, Jing menyatakan bahwa China bisa menang dengan mudah jika mengerahkan kekuatan tentara. Ucapan itu memicu gelombang kemarahan, termasuk dari kalangan legislatif.

Teodoro menilai pernyataan Jing bukan sekadar salah bicara, melainkan ancaman nyata yang memperlihatkan niat sesungguhnya pemerintah Beijing. Sementara itu, Wakil Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Erwin Tulfo mengajukan usulan resmi agar Jing dinyatakan sebagai persona non grata atau orang yang tidak lagi diterima di Filipina. Senator Risa Hontiveros turut menuntut permohonan maaf tertulis dari sang duta besar.

Baca juga:
Houthi Serang Dua Kapal Tanker Saudi di Laut Merah, AS Tuding Iran di Balik Aksi

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning membela Jing Quan dan meminta politisi Filipina tidak memperkeruh hubungan kedua negara. Di tengah desakan tersebut, Presiden Ferdinand Marcos Jr. memilih bersikap hati-hati dan tetap mengedepankan jalur perundingan melalui kementerian luar negeri.

Akar Sengketa Laut China Selatan

Ketegangan diplomatik ini berakar dari sengketa perebutan wilayah di Laut China Selatan yang kian memanas. Meski pengadilan arbitrase internasional pada 2016 telah membatalkan klaim peta sepihak Beijing, China tetap bersikeras menguasai hampir seluruh kawasan perairan tersebut. Gesekan di wilayah laut Filipina kerap terjadi, mulai dari penyemprotan meriam air, benturan kapal patroli di Beting Sabina dan Beting Ayungin, hingga manuver berbahaya jet tempur di Beting Scarborough.

Juru Bicara Penjaga Pantai Filipina Jay Tarriela menilai pernyataan duta besar China sebagai bentuk intimidasi nyata di tengah ancaman maritim yang dihadapi setiap hari. Pemerintah Manila menegaskan bahwa kedaulatan negara serta aturan hukum laut internasional tidak akan pernah tunduk pada tekanan militer pihak asing. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai langkah lanjutan dari pemerintah China menyusul pemanggilan tersebut.

Baca juga:
BKN Imbau ASN Cek Keaslian SK Lewat QR Code, Waspadai Pemalsuan Dokumen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *