Sorothari – 21 Oktober 2026 | Badan Meteorologi Jepang (JMA) menyampaikan permohonan maaf setelah sistem peringatan dini japan earthquakes keliru mengirimkan alarm gempa berkekuatan 9,9 magnitudo ke jutaan ponsel di seluruh negeri pada Jumat, 16 Oktober 2026. Peringatan yang memicu kepanikan singkat itu dicabut hanya beberapa menit kemudian setelah diketahui terjadi kesalahan fatal dalam perhitungan pusat gempa. Insiden ini menjadi sorotan karena Jepang dikenal memiliki salah satu sistem peringatan dini gempa paling canggih di dunia, yang selama ini menjadi tulang punggung keselamatan warga di negara rawan seismik tersebut.
Menurut keterangan JMA, alarm darurat pertama kali berbunyi sekitar pukul 12.40 waktu setempat, mencakup wilayah luas dari Jepang utara hingga tengah. Sistem sempat memprediksi guncangan hingga level 7, tingkat tertinggi pada skala intensitas seismik Jepang. Namun, delapan menit berselang, JMA menerbitkan pemberitahuan lanjutan yang membatalkan peringatan tersebut. Hasil verifikasi menunjukkan gempa sesungguhnya berkekuatan 6,9 magnitudo dan berpusat di Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada kedalaman sekitar 160 kilometer, tepatnya sekitar pukul 12.38 waktu setempat.
Baca juga:Pejabat JMA, Shinya Tsukada, dalam konferensi pers di Tokyo mengaku pihaknya telah menyebabkan keresahan di tengah masyarakat. “Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan dan kecemasan yang ditimbulkan kepada publik,” ujarnya kepada wartawan. Meski tidak memicu kepanikan massal, peringatan keliru itu sempat mengganggu layanan transportasi publik di sejumlah wilayah. Guncangan sebenarnya yang tercatat hanya mencapai intensitas 1 di Kota Hakodate, Prefektur Hokkaido, jauh di bawah prediksi awal sistem.
Kesalahan Perhitungan Pusat Gempa
JMA menjelaskan bahwa kekeliruan berasal dari anomali dalam perhitungan pusat gempa. Sistem awalnya mengasumsikan episentrum berada sekitar 680 kilometer lebih jauh dari Jepang dibandingkan lokasi sebenarnya. Asumsi yang salah itu membuat estimasi magnitudo melonjak hingga 9,9, angka yang setara dengan gempa megathrust paling dahsyat. Hingga saat ini, JMA masih menyelidiki penyebab pasti kesalahan proyeksi tersebut dan belum merinci langkah perbaikan teknis yang akan dilakukan.
Sistem peringatan dini gempa JMA bekerja dengan mendeteksi getaran awal yang sangat lemah pada detik-detik pertama gempa, lalu secara otomatis memperkirakan lokasi fokus, magnitudo, dan intensitas guncangan menggunakan data gelombang dari seismograf di dekat episentrum. Peringatan otomatis dikirim ketika sistem memprediksi guncangan berkekuatan lower 5 atau lebih pada skala intensitas seismik Jepang. Mekanisme inilah yang menjadi andalan dalam mengurangi korban jiwa, terutama sejak bencana besar 2011.
Baca juga:Bayang-Bayang Gempa Besar 2011
Insiden ini membangkitkan kembali ingatan publik Jepang terhadap bencana 11 Maret 2011, ketika gempa bawah laut berkekuatan 9,0 magnitudo memicu tsunami raksasa dan krisis nuklir Fukushima. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam, termasuk bagi hewan peliharaan yang terpaksa ditinggalkan saat keluarga mengungsi. Sebuah studi tahun 2012 dalam jurnal Scientific Reports oleh Miho Nagasawa, Kazutaka Mogi, dan Takefumi Kikusui dari Universitas Azabu menemukan bahwa 17 anjing yang diselamatkan dari Fukushima memiliki kadar hormon stres kortisol dalam urine lima hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan anjing terlantar dari Prefektur Kanagawa.
Kadar kortisol tertinggi tercatat pada hari kedatangan dan tetap tinggi meski anjing-anjing tersebut telah menjalani perawatan selama 10 minggu. Pada bulan pertama, anjing dari Fukushima menunjukkan sikap kurang agresif terhadap orang asing, lebih sulit dilatih, dan kurang lekat dengan pengasuhnya. Meski penelitian itu berskala kecil dan tidak dapat menggambarkan perasaan individu anjing secara pasti, para peneliti menyimpulkan bahwa manusia dan hewan pendamping sama-sama membutuhkan perawatan jangka panjang pascabencana.
Uji Coba Teknologi Komunikasi Darurat
Di sisi lain, Jepang terus mengembangkan teknologi mitigasi bencana. Pada Agustus 2026, perusahaan kedirgantaraan asal New Mexico, Sceye, bersama operator seluler Jepang SoftBank Corp. menguji armada kapal udara stratosfer bertenaga surya dalam misi Service Test 1 (ST1). Kapal tanpa awak itu terbang dari gurun New Mexico menuju Jepang dan kembali dalam waktu sekitar satu bulan, menempuh jarak hampir 30.000 kilometer. Selama sepekan di atas perairan lepas Cape Muroto, Prefektur Kochi, kapal tersebut berfungsi sebagai menara seluler di ketinggian 16,5 hingga 17 kilometer, atau sekitar 54.100 hingga 55.800 kaki.
Baca juga:Dalam uji coba itu, ponsel biasa di darat berhasil melakukan panggilan suara, mengirim pesan teks, mengakses media sosial, dan menerima peringatan simulasi gempa serta tsunami. Tim juga menguji panggilan ke nomor darurat maritim 118 bersama Penjaga Pantai Jepang. SoftBank memilih lokasi tersebut untuk mensimulasikan bencana besar, seperti gempa di Palung Nankai di lepas pantai barat daya Jepang. Presiden dan CEO SoftBank Corp., Junichi Miyakawa, menyatakan bahwa kombinasi teknologi kedua perusahaan memberi pihaknya “keyakinan untuk mewujudkan jaringan komunikasi tiga dimensi dengan HAPS.”
Hingga saat ini, JMA belum mengumumkan sanksi atau perubahan prosedur operasional menyusul kesalahan peringatan 9,9 magnitudo tersebut. Publik Jepang menanti hasil investigasi internal, sementara diskusi mengenai keandalan sistem peringatan dini japan earthquakes kembali mengemuka di tengah meningkatnya aktivitas seismik di kawasan Pasifik.












