Sorothari – 24 Oktober 2026 | Rumor yang menyebut Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninggal dunia dibantah oleh Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan. Dalam laporan tertutup kepada Komisi Intelijen Majelis Nasional pada Jumat, 23 Oktober 2026, NIS menegaskan bahwa kabar yang beredar luas di media sosial dalam dan luar negeri tersebut tidak benar. Laporan itu disampaikan kepada anggota parlemen dari partai berkuasa maupun oposisi, seperti dikutip dari kantor berita Yonhap.
Isu kematian Kim Jong-un mencuat setelah Xie Wanjun, seorang dissiden politik China yang tinggal di Amerika Serikat, mengklaim pada 18 Oktober bahwa pemimpin Korea Utara itu mengalami pendarahan otak dan meninggal. Klaim tersebut dengan cepat menyebar di platform media sosial dan memunculkan berbagai teori liar, mulai dari persiapan pemakaman hingga peti mati kaca. Namun, tidak satu pun dari klaim itu disertai bukti yang dapat diverifikasi.
Baca juga:Sebelum spekulasi merebak, Kim Jong-un memang sempat beberapa hari tidak tampil di media resmi Korea Utara. Pola ini berulang setiap kali ia menghilang dari publikasi negara, memicu spekulasi di luar negeri. Meski demikian, media pemerintah Korea Utara belakangan ini menayangkan foto-foto Kim Jong-un saat mengunjungi pameran busana dan alas kaki di Pyongyang bersama putrinya, Kim Ju-ae. Foto-foto itu dipublikasikan pada Senin, 20 Oktober 2026, dan disebut sebagai bukti bahwa sang pemimpin dalam keadaan sehat.
Pernyataan Intelijen dan Kondisi Kesehatan
Dalam laporan sebelumnya pada 30 September 2026, NIS menyampaikan bahwa status kesehatan Kim Jong-un berada dalam kategori obesitas berat dengan berat badan sekitar 140 kilogram. Kondisi itu menempatkannya dalam kelompok berisiko tinggi penyakit kardiovaskular. Namun, NIS menilai tidak ada tanda-tanda kelainan kesehatan yang berarti. “Ia melakukan gerakan tanpa kesulitan, seperti berlari menaiki tangga saat inspeksi kapal perusak, dan staf medis khususnya memantau kondisinya secara ketat,” demikian pernyataan NIS seperti dilansir kantor berita Yonhap.
Laporan pada 23 Oktober juga mencakup aktivitas Kim Yo-jong, adik Kim Jong-un yang menjabat sebagai direktur departemen Komite Sentral Partai Pekerja Korea. Pada 20 Oktober, Kim Yo-jong melakukan inspeksi ke lokasi pembangunan benteng di perbatasan selatan bersama penasihat Kementerian Pertahanan Pak Jong-chon. Namun, NIS tidak memberikan keterangan mengenai prospek dialog Amerika Serikat–Korea Utara maupun persiapan kunjungan Kim Jong-un ke China.
Mengapa Rumor Cepat Berkembang
Korea Utara dikenal sebagai salah satu negara paling tertutup di dunia dalam hal informasi. Organisasi Reporters Without Borders menempatkan Korea Utara di peringkat 179 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2026. Pemerintah negara itu mengendalikan secara ketat produksi dan distribusi berita serta melarang praktik jurnalisme independen. Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) menjadi sumber informasi resmi utama, sementara media asing yang beroperasi di sana menghadapi pembatasan berat.
Baca juga:Tingkat isolasi itu juga membatasi akses warga Korea Utara terhadap informasi dari luar. Human Rights Watch menyatakan bahwa pemerintah Korea Utara memberlakukan pembatasan ketat terhadap kebebasan berekspresi dan akses terhadap konten asing. Setiap kali Kim Jong-un tidak muncul di media resmi selama beberapa hari, spekulasi pun muncul. Pola serupa pernah terjadi sebelumnya, dan kini terulang kembali.
Rumor yang beredar pekan ini bahkan menyebut Kim Jong-un telah dilarikan ke rumah sakit di Beijing setelah mengalami keadaan darurat medis. Namun, tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Media pemerintah Korea Utara tidak menanggapi spekulasi yang dipicu oleh Xie Wanjun secara langsung. Sebagai gantinya, mereka merilis foto-foto kunjungan Kim Jong-un ke pameran busana dan alas kaki di Pyongyang. Dalam foto-foto itu, putrinya, Kim Ju-ae, tampak ikut mendampingi.
Dampak terhadap Isu Diplomasi
Sementara itu, peluang pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kim Jong-un tahun ini dinilai semakin kecil. Menurut penilaian pejabat Amerika dan Korea Selatan seperti dikutip Reuters, pertemuan tersebut hampir mustahil terwujud. Trump, yang merupakan satu-satunya presiden Amerika Serikat yang pernah bertemu pemimpin Korea Utara, sebelumnya menyatakan minat besar untuk bertemu lagi. Namun, pihak Korea Utara belum merespons positif, dan waktu terus berjalan.
“Saya sangat akrab dengannya, tetapi saya tidak yakin ada yang meminta pertemuan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Duta Besar Korea Utara untuk PBB juga membantah adanya rencana pertemuan. Di tengah ketidakpastian diplomasi itu, isu kesehatan Kim Jong-un menjadi perhatian karena menyangkut stabilitas kepemimpinan di Pyongyang.
Baca juga:NIS dijadwalkan menjalani audit Komisi Intelijen Majelis Nasional pada 29 Oktober 2026. Berbagai isu keamanan, termasuk perkembangan di Korea Utara, diperkirakan akan dibahas secara rinci dalam audit tersebut. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak Korea Utara mengenai rumor kematian Kim Jong-un, dan publik menantikan hasil audit untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas.












