Sorothari – 19 Oktober 2026 | Sejumlah sumber intelijen Mesir membantah bahwa Kepala Badan Intelijen Umum (GIS) Abbas Kamel berada di dalam pesawat pribadi Mesir yang mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, pada 26 September 2023. Bantahan ini muncul di tengah laporan yang menyebut Kamel datang ke Yerusalem untuk memperingatkan para pemimpin Israel mengenai rencana serangan besar Hamas, yang kemudian terjadi pada 7 Oktober 2023. Informasi tersebut disampaikan oleh pejabat intelijen senior kepada lembaga penyiaran publik Israel, KAN, dan Channel 12, seperti dikutip The Times of Israel.
Menurut para pejabat tersebut, pesawat yang mendarat pada 26 September 2023 itu membawa dua pengusaha Mesir, bukan Kamel. Pesawat milik perusahaan penerbangan sewaan Mesir, Smart Aviation, tiba di Terminal Fattal pada pukul 09.50 waktu setempat dan menerima layanan darat dari QAS. Pesawat itu kemudian kembali ke Kairo tanpa penumpang pada pukul 10.57. KAN mencatat bahwa penerbangan tersebut tidak terdaftar sebagai penerbangan resmi maupun penerbangan yang berkaitan dengan keamanan. Kementerian Transportasi, Terminal Fattal, Otoritas Kependudukan dan Imigrasi, serta Smart Aviation mengetahui identitas kedua pengusaha itu, tetapi pihak-pihak terkait menolak memublikasikan nama mereka sesuai praktik privasi yang berlaku.
Baca juga:Bantahan ini bertentangan dengan laporan The Atlantic yang menyebut Kamel datang ke Israel pada tanggal tersebut untuk memperingatkan para pemimpin Israel tentang ancaman serangan besar Hamas. Saat itu, para pemimpin Israel berkumpul di Yerusalem untuk memperingati 50 tahun Perang Yom Kippur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya menggambarkan serangan mendadak oleh Suriah dan Mesir dalam perang tersebut sebagai pelajaran tentang peringatan intelijen yang terabaikan dan keyakinan diri yang keliru. Sekitar dua jam sebelum Netanyahu berpidato, sebuah jet Cessna sewaan mendarat di Bandara Ben Gurion dan berhenti di area terisolasi bandara yang digunakan untuk misi diplomatik dan keamanan sensitif.
Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat Israel, Mesir, negara-negara Arab, Amerika Serikat, dan Eropa yang menerima informasi soal kunjungan tersebut setelah serangan 7 Oktober, Kamel disebut menyampaikan bahwa Hamas tampaknya sedang bersiap melancarkan serangan besar. Ia memperingatkan bahwa waktu untuk mencegah bencana kian menipis dan menyarankan pemerintah Israel memberikan konsesi ekonomi kepada Hamas guna menghindari konflik. Namun, Netanyahu membantah menerima peringatan tersebut. Ia juga mengaku tidak bertemu Kamel pada kunjungan itu, meskipun pernyataannya bertentangan dengan catatan Kantor Perdana Menteri (PMO) tahun 2021. Netanyahu pun menolak pembentukan komisi penyelidikan negara terkait serangan 7 Oktober.
Isu Yerusalem dan dinamika keamanan di kawasan memang tak pernah lepas dari sorotan. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada Agustus 2013, Yerusalem menjadi lokasi dimulainya kembali pembicaraan damai antara Israel dan Palestina setelah tiga tahun vakum. Menjelang pertemuan itu, Israel mengumumkan akan membebaskan 26 tahanan veteran Palestina sebagai bagian dari total 104 tahanan yang akan dibebaskan dalam empat tahap. Namun, di saat yang sama, Israel juga mengumumkan tender pembangunan 793 unit rumah pemukiman di Yerusalem timur dan 394 unit di Tepi Barat, yang memicu kemarahan Palestina. Kepala negosiator Palestina Saeb Erakat menegaskan pentingnya pembebasan tahanan bagi keberlanjutan pembicaraan, seraya mengingatkan bahwa setiap perubahan akan membatalkan perjanjian. Sementara itu, Menteri Perumahan Israel Uri Ariel dari sayap kanan justru mempertanyakan manfaat pembebasan tahanan bagi perdamaian.
Baca juga:Di sisi lain, Yerusalem juga menjadi pusat perhatian diplomatik ketika Mesir memprotes keras keputusan Kolombia membuka kedutaan besar di kota itu. Kementerian Luar Negeri Mesir memanggil kuasa usaha Kolombia di Kairo untuk menyampaikan penolakan resmi. Mesir menilai langkah tersebut sebagai tindakan sepihak yang bertentangan dengan status hukum dan sejarah Yerusalem serta melanggar resolusi internasional. Sumber diplomatik Mesir menyebut keputusan itu batal demi hukum dan tidak memiliki dampak hukum apa pun. Mesir juga memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengganggu upaya perdamaian dan stabilitas di kawasan serta memicu ketegangan. Pemanggilan itu merupakan tindak lanjut dari resolusi Dewan Liga Arab yang mendesak negara-negara anggota Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk memanggil duta besar Kolombia.
Ketegangan di lapangan juga masih terjadi. Pada Oktober 2024, seorang diplomat Eropa yang menjadi bagian dari delegasi yang diserang pemukim Israel di Tepi Barat membantah keraguan Netanyahu mengenai insiden tersebut. Diplomat yang tidak disebutkan namanya itu menegaskan, “Faktanya jelas. Kami diserang,” seperti dikutip KAN. Ia menanggapi kritik Netanyahu yang menilai delegasi tidak mengoordinasikan kunjungan dengan militer Israel. Diplomat tersebut menegaskan bahwa Israel tetap bertanggung jawab atas keamanan di Area B, wilayah Tepi Barat yang diduduki, dan mempertanyakan mengapa para diplomat serta warga yang sedang memanen zaitun harus menghadapi serangan. Kantor Netanyahu menyatakan bahwa tuduhan serius membutuhkan bukti serius, meski mengakui rekaman video memperlihatkan orang bertopeng menghadang kendaraan diplomatik. Militer Israel menyatakan telah meluncurkan penyelidikan bersama kepolisian. Serangan itu terjadi di dekat Taybeh, sebelah timur Ramallah, dan melibatkan konsul Prancis dan Belgia, seorang perwakilan Polandia, serta pejabat Gereja Katolik.
Hingga saat ini, kontroversi seputar kunjungan Abbas Kamel ke Yerusalem pada September 2023 masih menjadi perdebatan. Bantahan dari sumber intelijen Mesir menambah lapisan kompleksitas dalam upaya memahami peristiwa menjelang serangan 7 Oktober. Sementara itu, isu Yerusalem terus menjadi titik sensitif dalam hubungan internasional, baik terkait status kota, pembangunan pemukiman, maupun insiden kekerasan di lapangan. Berbagai pihak masih menunggu klarifikasi resmi dan hasil penyelidikan yang transparan atas sejumlah peristiwa yang belum sepenuhnya terungkap.
Baca juga:











