Sorothari – 02 November 2026 | Pertanyaan mengenai apakah hari ini ada demo di Jakarta kembali mencuat seiring beredarnya kabar aksi massa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026). Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi tersebut bukan demonstrasi mahasiswa murni, melainkan kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda yang diduga melibatkan massa bayaran berkedok mahasiswa. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan resmi mengenai demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada hari ini, Senin (2/11/2026), namun jejak aksi di HI masih menjadi sorotan publik dan pakar hukum.
Fenomena munculnya massa yang mengatasnamakan mahasiswa dalam acara deklarasi di Bundaran HI menuai kecurigaan. Aksi tersebut disertai dugaan pencatutan almamater sejumlah perguruan tinggi. Pakar Hukum Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menyebut praktik ini sebagai fenomena “mahasewa”, yakni mahasiswa sewaan yang dikerahkan untuk kepentingan tertentu. Menurut Trubus, pengerahan massa berkedok mahasiswa bukanlah hal baru dan kerap muncul saat demonstrasi mahasiswa berlangsung.
Baca juga:“Praktik-praktik mahasiswa atau mahasewa ini sebenarnya hampir terjadi berkali-kali. Sejak lama itu sudah ada. Seringkali setiap ada demo mahasiswa, di situ pasti ada orang yang disusupkan, atau membuat demo tandingan,” kata Trubus kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (30/10/2026). Ia menilai pengerahan massa bayaran berpotensi memecah belah masyarakat dengan membenturkan mahasiswa dan kelompok lain. Dampaknya, kepercayaan publik terhadap gerakan demonstrasi mahasiswa bisa terkikis.
Trubus menduga pola pengerahan massa tandingan sengaja dilakukan untuk mengadu domba, memprovokasi, sekaligus menciptakan kesan negatif terhadap aksi demonstrasi. “Ini sebetulnya sudah pernah terlihat dan ketahuan kok cara-cara lama yang selalu digunakan, yang memang tujuannya untuk istilahnya mengadu domba, memprovokasi, mengacaukan situasi,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa aksi di HI bukan sekadar deklarasi biasa, melainkan bagian dari dinamika politik yang lebih luas.
Meski tidak ada demo besar di Jakarta hari ini, gelombang protes mahasiswa dan masyarakat sipil sebenarnya tengah berlangsung di berbagai daerah. Pada 28 Oktober 2026, aksi peringatan Hari Sumpah Pemuda di Malioboro, Yogyakarta, berujung rusuh. Kepolisian menahan 36 orang, dan dua peserta sempat dilaporkan hilang kontak sebelum akhirnya dipastikan pulang dengan selamat. Direktur LBH Jogja, Kharisma Wardhatul Khusniah, menyatakan seluruh peserta yang diamankan telah dipulangkan secara bertahap. “Semuanya kemarin sudah dipulangkan, ada yang siang ada yang malam,” katanya, Jumat (30/10). LBH Jogja juga mencatat adanya aduan kehilangan barang berharga dan kerusakan kendaraan akibat kericuhan.
Baca juga:Di Jakarta, gaung protes juga terlihat dari aksi yang membawa simbol salib merah ke Bundaran HI pada 28 Oktober 2026. Kader PMKRI memikul salib setinggi sekitar lima meter ke tengah ribuan mahasiswa yang sejak siang dihadang aparat. Simbol ini merupakan kelanjutan dari perlawanan masyarakat adat di Papua yang menolak perampasan tanah ulayat. Salib merah di Jakarta menggugat negara yang dinilai abai terhadap rakyatnya, sejalan dengan tuntutan perbaikan sistem pendidikan dan penolakan kenaikan harga.
Latar belakang aksi di Jakarta tidak lepas dari gelombang protes nasional yang dipicu kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar, dan pendanaan pendidikan. Aksi serupa di Prancis bahkan berujung ricuh dengan 64 demonstran terluka, meski itu terjadi di luar negeri. Di dalam negeri, isu-isu tersebut menjadi pemicu utama mahasiswa turun ke jalan. Namun, pertanyaan apakah hari ini ada demo di Jakarta perlu dijawab dengan cermat: tidak ada jadwal demo resmi yang terkonfirmasi untuk hari ini, tetapi potensi aksi susulan masih terbuka mengingat dinamika yang berkembang.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri tengah menggencarkan program Namu Balai Kota, yang digelar setiap dua minggu sekali pada hari Sabtu. Pada Sabtu, 31 Oktober 2026, warga diajak melihat langsung ruang kerja Gubernur Pramono Anung dan pusat Jakarta Smart City. Program ini menjadi upaya transparansi di tengah meningkatnya suhu politik. Namun, kegiatan tersebut tidak serta-merta meredam aksi protes yang menuntut perbaikan ekonomi dan pendidikan.
Baca juga:Hingga saat ini, aparat kepolisian belum mengeluarkan keterangan resmi terkait potensi demo di Jakarta pada hari ini. Masyarakat diimbau tetap waspada dan memantau informasi dari sumber terpercaya. Jika ada perkembangan baru mengenai apakah hari ini ada demo di Jakarta, redaksi akan memperbarui laporan ini. Yang jelas, fenomena massa bayaran dan aksi tandingan menjadi catatan penting bagi kualitas demokrasi, sebagaimana diingatkan Trubus Rahadiansyah bahwa cara-cara lama untuk merusak citra demo masih saja digunakan.












