Sorothari – 30 Oktober 2026 | Nilai tukar dollar ke rupiah ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Rupiah berakhir di level Rp18.137 per dolar Amerika Serikat (AS), naik 47 poin atau sekitar 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.184 per USD. Penguatan ini terjadi meski pasar saham domestik mengalami tekanan cukup dalam.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sebenarnya sempat dibuka pada posisi Rp18.170 per USD. Namun, sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bergerak perkasa hingga akhirnya ditutup di level Rp18.137. Penguatan ini menjadi sinyal positif di tengah berbagai sentimen yang mewarnai pasar keuangan.
Baca juga:Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai pelemahan dolar AS pasca-pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan rupiah. The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75-4 persen. Keputusan tersebut sesuai ekspektasi pasar, namun sinyal mengenai arah kebijakan moneter ke depan masih membuat investor mencermati perkembangan data inflasi AS.
“Rupiah diperkirakan menguat seiring pelemahan dolar AS pasca-FOMC,” ujar Lukman kepada wartawan.
Selain faktor eksternal, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada aktivitas investor asing di pasar saham Indonesia. Lukman menyebut pembelian bersih atau net buy saham oleh investor asing dapat memberikan dukungan tambahan bagi rupiah. Net buy terjadi ketika nilai pembelian saham melebihi nilai penjualan, yang mencerminkan arus dana masuk ke pasar domestik.
Meski rupiah menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami koreksi tajam. Pada penutupan sesi pertama, IHSG anjlok 2,64 persen ke level 5.142,82. Indeks LQ45 juga tergelincir 2,94 persen menjadi 523,63. Seluruh indeks saham acuan tertekan, dengan sektor infrastruktur mencatat koreksi terbesar mencapai 3,78 persen.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pelemahan IHSG masih sejalan dengan laporan teknikal pagi hari. Menurutnya, tekanan outflow masih berlangsung di IHSG dengan aliran dana investor asing keluar sebesar Rp5,5 triliun selama lima hari terakhir. “Kami perkirakan tekanan outflow masih berlangsung di IHSG. Strategi buy on weakness atau menunggu sinyal pembalikan arah,” kata Herditya.
Baca juga:Herditya menambahkan bahwa keputusan The Fed menahan suku bunga acuan turut berdampak pada tekanan outflow tersebut. Meski begitu, ia menilai sektor saham energi dan keuangan dapat dicermati karena bobot terbesar IHSG berada di sektor keuangan, sementara sektor energi dipengaruhi harga komoditas yang sedang menguat.
Di sisi lain, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa penguatan rupiah hari ini justru dipicu oleh beberapa sentimen dalam negeri. Aksi protes mahasiswa yang semakin marak dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian politik dan mendorong investor bersikap lebih hati-hati. Namun, aksi tersebut juga menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyuarakan keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan dua tahun. Kritik dan tuntutan yang disampaikan selama ini dinilai belum mendapat tanggapan memadai dari pemerintah.
Tekanan terhadap perekonomian juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang berada di atas US$100 per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban subsidi BBM dan energi, sehingga menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Jika ketidakpastian politik dan tingginya harga minyak berlanjut, tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan stabilitas ekonomi Indonesia berpotensi semakin besar,” kata Ibrahim.
Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman data inflasi Oktober yang dijadwalkan pada pekan depan. Sebelumnya, inflasi pada September tercatat meningkat menjadi 3,28 persen, mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. “Apabila inflasi Oktober kembali meningkat, daya beli masyarakat berpotensi tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari,” jelas Ibrahim.
Bank Indonesia disebut dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk menjaga stabilitas harga. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dan keputusan investasi, seiring pelaku pasar yang cenderung menunggu kejelasan arah perekonomian sebelum mengambil keputusan.
Baca juga:Secara teknikal, pergerakan dollar ke rupiah hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Rupiah sempat menyentuh level Rp18.128 pada awal perdagangan, sebelum akhirnya ditutup di Rp18.137. Sementara itu, dolar AS terpantau melemah tipis 0,06 persen ke level 102.130 terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Di pasar global, euro melemah 0,15 persen terhadap dolar AS menjadi US$1,1134 pada awal perdagangan sesi Asia. Yen Jepang menguat 0,14 persen ke level 158,045 per dolar AS. Dolar Selandia Baru stabil di angka 0,5621 per dolar AS setelah sempat anjlok 1,7 persen akibat keputusan tak terduga Reserve Bank of New Zealand yang mempertahankan suku bunga di level 2,75 persen. Adapun dolar Australia berada di posisi 0,705 per dolar AS, bergerak di dekat level tertinggi dalam satu bulan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Oktober serta perkembangan kebijakan The Fed. Penguatan rupiah hari ini menjadi modal awal, namun tantangan dari dalam negeri seperti ketidakpastian politik dan tingginya harga minyak masih membayangi. Pergerakan dollar ke rupiah diperkirakan tetap dinamis seiring sentimen global dan domestik yang saling memengaruhi.












