IHSG Anjlok 3,49%, Saham BBRI dan Bank Jumbo Kompak Melemah Diterpa Aksi Jual Asing

IHSG Anjlok 3,49%, Saham BBRI dan Bank Jumbo Kompak Melemah Diterpa Aksi Jual Asing
IHSG Anjlok 3,49%, Saham BBRI dan Bank Jumbo Kompak Melemah Diterpa Aksi Jual Asing

Sorothari – 30 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Pelemahan indeks tidak terlepas dari tekanan jual yang menghantam saham perbankan berkapitalisasi besar, termasuk saham BBRI. IHSG ambles 184,26 poin atau setara 3,49% dan berakhir di level 5.098,06. Koreksi ini terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat tipis di level 5.305,20 dan menyentuh kisaran 5.320-an pada awal perdagangan.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, tekanan jual mulai terasa sejak pagi dan membawa IHSG turun tajam sebelum pukul 10.00 WIB. Memasuki sesi siang hingga sore, indeks bergerak di rentang 5.125–5.175. IHSG sempat mencoba bangkit ke kisaran 5.120-an menjelang penutupan, namun penguatan itu tidak bertahan lama sehingga indeks kembali merosot dan mengakhiri perdagangan di dekat level terendah hari itu.

Baca juga:
IHSG Ditutup Menguat ke 6.667, Katalis Positif Topang Pergerakan Pasar Modal IDX

Volume transaksi tercatat mencapai 217,69 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp10,13 triliun. Dari data tersebut, sebanyak 98 saham ditutup naik, 624 saham turun, dan 70 saham lainnya tidak bergerak. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp8.987 triliun dengan total nilai transaksi sebesar Rp11,29 triliun.

Empat Bank Jumbo Kompak Merah

Tekanan paling dalam dialami PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang anjlok 6,35% ke level Rp4.940 per saham. Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar BCA tercatat sekitar Rp602,8 triliun. Saham BBCA juga menjadi yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai jual bersih atau net sell mencapai Rp503,49 miliar.

Di sisi lain, saham BBRI milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melemah 3,77% ke level Rp2.810 per saham. Aksi jual asing terhadap saham BBRI tercatat sebesar Rp164,50 miliar. Angka itu menempatkan BBRI sebagai bank jumbo dengan net sell asing terbesar kedua setelah BBCA.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga tidak luput dari tekanan. Saham BMRI turun 3,12% ke level Rp3.720 per saham dengan net sell asing senilai Rp155,86 miliar. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 3,28% ke level Rp3.240 per saham, dengan penjualan bersih investor asing sebesar Rp36,68 miliar.

Baca juga:
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Picu Lonjakan Konsumsi Biosolar dan Pertalite, Nelayan Khawatir Kuota Subsidi Tergerus

Secara total, net sell asing pada perdagangan hari itu mencapai Rp1,52 triliun. Aksi jual ini mempertegas bahwa tekanan terhadap saham BBRI dan bank jumbo lainnya tidak hanya bersumber dari sentimen domestik, tetapi juga dari aliran dana keluar oleh investor asing.

Beban IHSG dan Sentimen Pasar

Selain keempat bank besar, sejumlah saham lain turut membebani pergerakan IHSG. Saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), serta saham-saham terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu juga berguguran. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) anjlok 6,88% ke level Rp1.150, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merosot 6,76% ke level Rp1.930, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) jeblok 6,74% ke level Rp2.490.

Pelemahan IHSG senada dengan pergerakan bursa di kawasan Asia yang ditutup bervariasi. Indeks Nikkei Jepang naik 1% ke level 64.594, sementara Shanghai Composite turun 0,82% ke level 3.651. Adapun Hang Seng terkoreksi 0,59% ke level 22.958 dan Kospi Korea terkoreksi 1,24% ke level 5.937.

Sejauh ini belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti koreksi saham perbankan. Namun, pola perdagangan menunjukkan bahwa tekanan jual asing menjadi faktor utama yang menyeret saham BBRI dan bank jumbo lainnya. Investor tampaknya mencermati perkembangan pasar global dan domestik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

Baca juga:
Bank Mandiri Beberkan Alasan Kucurkan Kredit Jumbo ke Haji Isam, Saham JARR dan PGUN Jadi Agunan

Bagi pelaku pasar, koreksi tajam ini menjadi pengingat akan tingginya volatilitas di sektor perbankan. Saham BBRI dan bank besar lain masih akan menjadi perhatian utama pada perdagangan berikutnya, terutama jika arus keluar dana asing berlanjut. Hingga saat ini, belum ada indikasi intervensi atau kebijakan baru dari otoritas pasar modal terkait pelemahan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *