Sorothari – 13 September 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia akademik dan diskursus politik Indonesia menyusul berpulangnya salah satu intelektual publik terkemuka, Airlangga Pribadi Kusman. Pengajar Departemen Ilmu Politik Universitas Airlangga tersebut mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 13.35 WIB pada usia 49 tahun.
Kabar kepergian akademisi yang akrab disapa Mas Angga ini telah dikonfirmasi oleh rekan sejawatnya di Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ia berpulang setelah mengalami serangan tekanan darah tinggi mendadak.
Baca juga:Kiprah dan Jejak Akademik Airlangga Pribadi
Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 23 November 1976, Airlangga menempuh jenjang pendidikan sarjana di program studi Ilmu Politik Universitas Airlangga. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia, sebelum akhirnya menuntaskan gelar doktoral (Ph.D) di bidang ilmu politik dari Murdoch University, Australia, pada 2016.
Karier akademiknya di almamaternya, Universitas Airlangga, dirintis sejak tahun 2004. Selain mengajar, ia pernah memimpin Centre for Governance and Citizenship Studies (CGCS) dan mengemban amanah sebagai Kepala Pascasarjana Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga. Minat kajian utamanya mencakup ekonomi-politik kritis, demokratisasi, politik lokal, relasi agama dan politik, serta dinamika masyarakat sipil.
Sumbangan Pemikiran Kritis dan Karya Intelektual
Sebagai ilmuwan politik, Airlangga Pribadi dikenal produktif menyuarakan analisis kritis mengenai relasi kekuasaan dan demokrasi di Indonesia. Salah satu karya akademik terpentingnya bertajuk The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era, diterbitkan oleh penerbit internasional Palgrave Macmillan pada 2019.
Baca juga:Dalam riset doktoral tersebut, ia membedah bagaimana runtuhnya Orde Baru tidak otomatis memutus rantai kekuasaan oligarki lama. Ia memaparkan bahwa struktur kekuasaan mampu bertransformasi ke dalam lanskap demokrasi elektoral dan kerap menyerap peran para intelektual ke dalam reproduksi kekuasaan baru.
Selain buku akademik tersebut, ia juga melahirkan sejumlah karya tulisan penting, antara lain:
- Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (GDN, 2022)
- Marhanisme: Dalil Baru untuk Gen Z (GDN, 2026)
- Buku biografi Puan Maharani Digembleng oleh Keadaan, yang ditulis bersama Yohan Wahyu
Secara genealogis, pembentukan karakter pemikirannya berakar kuat dari pengalaman di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian dipertemukan secara dialektis dengan gagasan Soekarnoisme. Ia senantiasa menegaskan pentingnya kalangan cendekiawan menjaga jarak kritis dari lingkar kekuasaan demi mengawal kepentingan publik dan demokrasi yang emansipatoris.
Baca juga:Hingga akhir hayatnya, jejak gagasan serta kontribusi pemikiran yang ditinggalkan oleh Airlangga Pribadi menjadi warisan berharga bagi generasi akademisi, aktivis gerakan sosial, serta perkembangan ilmu politik di Indonesia.







