Saham RI Didepak MSCI-FTSE, BEI: Kami Ingin Masuk dengan Cara Benar

Saham RI Didepak MSCI-FTSE, BEI: Kami Ingin Masuk dengan Cara Benar
Saham RI Didepak MSCI-FTSE, BEI: Kami Ingin Masuk dengan Cara Benar

Sorothari – 16 Juli 2026 | Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa sejumlah saham domestik yang dikeluarkan dari indeks global MSCI dan FTSE Russell merupakan konsekuensi dari upaya meningkatkan transparansi dan integritas pasar. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya lebih memilih saham-saham Indonesia masuk ke dalam indeks global dengan cara yang benar, meskipun harus menghadapi dampak jangka pendek. “Kami tentu akan lebih senang kalau itu masuk dengan cara yang baik dan benar, yang selama ini itulah yang menjadi kritik dari global index provider dan juga global investors,” ujarnya dalam acara Investment Forum di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Pemicu utama pengeluaran saham RI dari MSCI dan FTSE adalah kategori high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi tinggi. BEI telah merevisi metodologi penentuan saham HSC dengan menambahkan kriteria price impact ratio bagi saham berkapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Jeffrey menjelaskan bahwa price impact ratio dihitung berdasarkan perubahan harga saham dibandingkan dengan velocity transaksi, yang merupakan rata-rata volume transaksi terhadap saham beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi namun perubahan harga besar, price impact ratio menjadi tinggi, sehingga saham tersebut berpotensi masuk kategori HSC.

Baca juga:
BEI Masukkan Metropolitan Kentjana ke Daftar Saham Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

Akibatnya, saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) telah dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan FTSE. Jeffrey mengakui akan ada beberapa saham lain yang menyusul, namun ia optimistis hal ini hanya bersifat sementara. “Itu yang sedang kita lakukan, tentu konsekuensi jangka pendeknya demikian, akan ada beberapa saham dari Indonesia yang akan dikeluarkan dari global index provider. Tetapi untuk jangka menengah panjangnya, kami yakin ke depannya akan jauh lebih banyak saham-saham Indonesia yang masuk ke MSCI, FTSE, dan S&P,” terangnya.

Langkah BEI ini terjadi di tengah tren keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia. Sejak awal 2024 hingga pertengahan 2026, investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp 161 triliun di BEI. Sepanjang 2026 saja, hingga 10 Juli, aksi jual bersih telah mencapai Rp 76 triliun, menjadi yang terbesar sejak pandemi Covid-19. Arus modal keluar ini turut menekan kapitalisasi pasar, yang anjlok dari Rp 15.849 triliun pada 2025 menjadi Rp 9.897 triliun pada 2026, atau turun 37,6 persen.

Jeffrey menambahkan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan para penyedia indeks global dan investor institusional untuk menjaga market transparency dan market integrity. “Kita sama-sama sepakat bahwa kita harus sama-sama jaga market transparency dan market integrity kita. Itu yang menjadi dua pokok bahasan kalau kita berdiskusi dengan seluruh index provider maupun global investors. Kami tentu akan sangat senang kalau semakin banyak perusahaan tercatat di bursa ini bisa masuk ke global index,” pungkasnya.

Baca juga:
Viral Omzet Koperasi Merah Putih Melawai Minim, Menkop: Kita Memaklumi

Ke depan, BEI akan terus melakukan screening terhadap saham-saham dengan price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi HSC. Dengan demikian, diharapkan saham-saham Indonesia yang masuk ke indeks global benar-benar memenuhi standar likuiditas dan transparansi yang diharapkan investor internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *