Sorothari – 19 Oktober 2026 | Di tengah tekanan hebat yang menimpa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) justru mencatatkan pembelian bersih oleh investor asing. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), investor asing membukukan net buy di goto saham sebesar Rp 288 miliar, meskipun harga saham GOTO turun 7,41% ke level Rp 25. Aksi beli ini menjadi sorotan karena terjadi saat IHSG anjlok dan investor asing secara keseluruhan mencatat net sell Rp 3,3 triliun di pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, GOTO menjadi saham paling aktif diperdagangkan dari sisi volume, mencapai 42,68 miliar lembar atau lebih dari 60% dari total saham yang diperdagangkan pada hari itu. Nilai transaksinya juga masuk dalam 10 besar, yakni Rp 1,03 triliun. Transaksi tersebut didominasi oleh investor asing dengan nilai beli Rp 537 miliar dan jual Rp 238,9 miliar.
Baca juga:Sepanjang tahun ini, investor asing telah mencatat net sell hingga Rp 88 triliun, sementara IHSG sudah anjlok 40%. Saham perbankan besar menjadi yang paling banyak dilepas, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp 2,3 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 1,15 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 868 miliar. Namun, di tengah gelombang jual tersebut, beberapa saham masih diburu asing, termasuk GOTO.
Selain GOTO, investor asing juga mencatat net buy di saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 75,66 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 58,6 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp 57,83 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp 57,7 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 56,42 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 54,44 miliar.
Latar Belakang Penurunan Harga GOTO
Harga saham GOTO telah turun 50% sejak berlakunya aturan batas minimal harga saham yang diubah dari Rp 50 menjadi Rp 1 pada 28 September 2026. Saat aturan itu berlaku, saham GOTO langsung tersungkur hingga masuk ke level auto reject bawah (ARB) selama tiga hari berturut-turut. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, sebelumnya menilai investor tidak perlu panik melihat pergerakan saham GOTO di bawah Rp 50. Menurutnya, penurunan tersebut sudah sesuai ekspektasi sejak perubahan aturan perdagangan diumumkan, dan ia justru melihat penghapusan batas harga Rp 50 sebagai perkembangan positif bagi goto saham dalam jangka panjang karena harga dapat bergerak mengikuti permintaan dan penawaran secara lebih terbuka.
Baca juga:Di sisi lain, aksi korporasi juga terjadi di tubuh GOTO. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (14/10/2026), pemegang saham menyetujui pembatalan 32 miliar saham treasuri atau setara 2,7% saham beredar, serta menyetujui pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Wakil Direktur Utama. Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa persetujuan seluruh agenda RUPSLB mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap arah GOTO. “Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan tersebut dengan terus memberikan nilai tambah jangka panjang,” ujarnya. Sementara Komisaris Utama GoTo, Agus Martowardojo, menambahkan bahwa pembatalan saham treasuri akan meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham secara proporsional.
Meski demikian, saham GOTO masih menjadi primadona di kalangan investor ritel. Komika sekaligus financial content creator, Yudha Keling, mengaku masih mengalami floating loss di saham GOTO namun memilih bertahan. “Kalau setiap hari harganya turun ya pasti sedih, saya sama seperti bapak Garibaldi ‘Boy’ Thohir, loss-nya udah kedaleman jadi didiemin aja,” kata Yudha kepada Katadata di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10). Ia menyarankan investor untuk mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham. Jika penurunan hanya karena sentimen pasar dan fundamental tidak berubah, wait and see atau bahkan menambah posisi bisa menjadi pilihan. Namun, jika tesis awal untuk trading, cut loss perlu dipertimbangkan.
Di sisi lain, Morgan Stanley and Co International PLC tercatat melakukan transaksi jual-beli saham GOTO pada Senin (12/10/2026). Berdasarkan laporan kepemilikan saham melalui KSEI, Morgan Stanley menjual saham GOTO pada harga Rp 29 dan membeli pada harga Rp 27 pada hari yang sama. Selisih Rp 2 per saham atau setara 7,41% itu menghasilkan keuntungan sekitar Rp 303,55 juta dari volume yang saling berpasangan. Namun, secara keseluruhan Morgan Stanley mencatat net sell 1.597.424.700 saham GOTO dengan kas bersih diterima Rp 46,63 miliar, sehingga kepemilikannya turun dari 70.267.481.384 saham menjadi 68.670.056.684 saham, dan porsi hak suaranya menyusut dari 6,103% menjadi 5,9642%.
Baca juga:Hingga saat ini, goto saham masih menjadi salah satu saham yang paling banyak diperdagangkan di bursa. Meski harga terus tertekan, minat investor asing untuk membeli di tengah kejatuhan IHSG menunjukkan adanya optimisme terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Namun, investor tetap diimbau untuk mencermati perkembangan fundamental dan kebijakan pasar modal yang dapat memengaruhi pergerakan saham GOTO ke depan.












