Sorothari – 27 Oktober 2026 | Cesc Fàbregas kini lebih dikenal sebagai salah satu pelatih muda paling menarik di Eropa bersama Como, tetapi jejak arsitek lapangan tengah itu tidak lepas dari momen ketika ia salah membaca peta persaingan Ballon d’Or. Pada 2022, sebelum final Liga Champions antara Real Madrid dan Liverpool di Paris, Fàbregas melalui media sosial menyebut tiga nama penyerang sebagai kandidat utama: Sadio Mané, Mohamed Salah, dan Karim Benzema. Namun, ia kemudian mengubah pandangannya dan menjagokan kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, sebagai favorit peraih Ballon d’Or. Kenyataannya, Courtois hanya finis di peringkat ketujuh dalam pemungutan suara bergengsi tersebut.
Ramalan itu lahir dalam konteks laga final yang berlangsung sengit. Real Madrid menang 1-0 atas Liverpool, dan Courtois menjadi pahlawan utama lewat serangkaian penyelamatan yang menggagalkan peluang demi peluang Liverpool. Kiper asal Belgia itu juga telah mengantarkan Madrid meraih gelar juara Spanyol pada musim yang sama. Meski demikian, prediksi Fàbregas tak sejalan dengan hasil akhir Ballon d’Or. Bagi publik sepak bola, kisah ini menjadi pengingat bahwa bola tidak selalu berputar sesuai perhitungan, bahkan ketika datang dari mantan pemain kelas dunia.
Baca juga:Saat ini, fokus Cesc Fàbregas justru tertuju pada proyek jangka panjang di Como. Klub Lombardia tersebut terus membangun fondasi di bawah arahan sang pelatih asal Spanyol. Langkah terbaru adalah perpanjangan kontrak striker Yunani, Anastasios “Tasos” Douvikas, hingga 2031. Douvikas, yang berusia 27 tahun, tiba dari Celta Vigo pada bursa transfer musim dingin 2025 dan langsung menjadi andalan lini depan. Dalam 68 pertandingan resmi bersama Como, ia mencatatkan 27 gol dan lima assist, angka yang menegaskan posisinya sebagai ujung tombak utama.
Kepercayaan manajemen Como kepada Douvikas tidak datang tanpa alasan. Pada awal musim ini, ia mencetak gol dalam tiga laga pertama fase liga Liga Champions, kompetisi yang baru pertama kali diikuti oleh Como maupun dirinya. Di Serie A, Douvikas juga tampil tajam dengan lima gol, termasuk kontribusi penting dalam kemenangan atas Sassuolo, Fiorentina, Napoli, dan Udinese. “Saya merasa nyaman sejak hari pertama dan langsung merasakan ambisi klub ini,” ujar Douvikas seperti dikutip dari laporan media Spanyol, MARCA. Ia juga menyoroti peran Fàbregas dalam perkembangan permainannya. “Saya berkembang pesat berkat pelatih dan stafnya. Bagi saya, kelompok ini seperti keluarga besar.”
Pujian itu dibalas oleh Fàbregas dengan penilaian yang tak kalah positif. Ia menekankan profesionalisme Douvikas sebagai salah satu alasan utama di balik keputusan Como mengikat sang pemain dalam jangka panjang. Menurutnya, striker asal Yunani itu selalu haus informasi dan perbaikan, sebuah sikap yang membuatnya terus berkembang. “Tasos selalu ingin bicara, selalu ingin meningkatkan diri, dan sekarang ia mencetak gol,” kata Fàbregas dalam kesempatan terpisah. “Saya tahu kerja keras di baliknya. Ia tumbuh dengan cara yang bisa menjadikannya striker yang sangat, sangat penting.”
Kepercayaan diri di dalam skuad Como juga terlihat dari hasil-hasil besar yang mereka raih belakangan ini. Pada pekan ketiga Liga Champions 2026/2027, tepatnya 21 Oktober 2026, Como menjamu Manchester United di Stadio Giuseppe Sinigaglia dan menang telak 4-1. Nico Paz membuka keunggulan pada menit kedua dan menambah satu gol lagi pada menit ke-57. Douvikas ikut menyumbang gol pada menit ke-49, disusul gol keempat Jacobo Ramón pada menit ke-76. Manchester United hanya mampu memperkecil kedudukan melalui Joshua Zirkzee pada menit ke-90+1. Kemenangan ini menjadi pertemuan pertama kedua klub sepanjang sejarah dan menjadi salah satu hasil paling mencolok Como di pentas Eropa.
Baca juga:Sejarah pertemuan Como dengan klub-klub Inggris sebenarnya sudah dimulai sejak pramusim. Pada 12 Agustus 2026, Como menghadapi Arsenal di Emirates Stadium. Laga itu berakhir imbang 1-1 dalam waktu normal setelah Myles Lewis-Skelly membawa Arsenal unggul pada menit ke-33 dan Martin Baturina menyamakan kedudukan satu menit berselang. Arsenal akhirnya menang 4-3 melalui adu penalti. Empat hari kemudian, 16 Agustus 2026, Como memainkan dua pertandingan melawan Liverpool dalam satu hari. Laga tertutup di AXA Training Centre berlangsung dua babak masing-masing 35 menit dan berakhir 0-0. Sementara itu, pertemuan kedua di Anfield berakhir dengan kemenangan Liverpool 2-0 lewat gol Cody Gakpo pada menit ke-23 dan Jérémy Jacquet pada menit ke-44.
Dari empat laga melawan klub Inggris yang tercatat hingga Oktober 2026, Como mencatatkan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan. Namun, hasil-hasil tersebut tidak serta-merta mencerminkan kualitas sebenarnya. Kemenangan 4-1 atas Manchester United menjadi bukti bahwa Cesc Fàbregas mampu merancang strategi yang efektif melawan tim sekelas Liga Primer. Gol cepat Nico Paz pada menit kedua memaksa Manchester United mengubah rencana permainan, sementara Como justru tampil percaya diri dan tidak memilih bertahan total setelah unggul. Pendekatan itu menjadi salah satu kunci di balik kemenangan bersejarah tersebut.
Setelah laga melawan Manchester United, Como kembali menunjukkan ketangguhannya di Serie A. Pada 24 Oktober 2026, mereka mengalahkan Sassuolo 2-0 lewat dua gol Douvikas. Kemenangan itu menjadi kemenangan ketiga beruntun bagi Como dan memperlihatkan kedalaman skuad yang mulai diperhitungkan. Fàbregas mengakui bahwa jadwal padat menjadi tantangan tersendiri. “Kadang beratnya berbeda. Hari ini beban fisik lebih terasa; laga melawan Manchester United dan Fiorentina menguras energi,” ujarnya kepada TUTTOmercatoWEB. Ia menambahkan bahwa kemenangan atas Sassuolo diraih berkat kontribusi pemain yang sebelumnya jarang mendapat menit bermain, seperti Kambwala, Ricci, dan Lahdo yang menjalani debut.
Bagi Fàbregas, kemampuan pemain pelapis untuk tampil maksimal adalah kunci menghadapi kompetisi yang padat. “Tim lain datang setelah delapan hari bersiap. Kemenangan memberi energi tambahan, apalagi jika menang dengan cara seperti ini,” katanya. Ia juga menyoroti pertahanan Como yang tampil solid meski diperkuat formasi baru. “Ini pertama kalinya mereka bermain bersama. Kami tidak bisa melupakannya. Ada kerja keras di baliknya,” tambahnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa proyek Como tidak hanya soal kualitas individu, tetapi juga soal proses dan kepercayaan yang dibangun sang pelatih.
Baca juga:Perjalanan Cesc Fàbregas dari ruang ganti pemain menjadi bangku pelatih memang menyita perhatian. Sebagai mantan gelandang Arsenal dan Chelsea, ia membawa pengalaman bertahun-tahun bermain di level tertinggi ke dalam pendekatannya sebagai pelatih. Di Como, ia tidak hanya menangani taktik, tetapi juga membangun mentalitas dan identitas permainan. Keputusan memperpanjang kontrak Douvikas hingga 2031 menjadi sinyal bahwa klub serius membangun fondasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil instan. Dengan proyek yang terus tumbuh, Como di bawah asuhan Fàbregas layak dinantikan kiprahnya di Serie A maupun kompetisi Eropa musim ini.












