Berita  

Hunter’s Moon 2026: Bulan Purnama Pemburu Hiasi Langit Indonesia Malam Ini

Hunter's Moon 2026: Bulan Purnama Pemburu Hiasi Langit Indonesia Malam Ini
Hunter's Moon 2026: Bulan Purnama Pemburu Hiasi Langit Indonesia Malam Ini

Sorothari – 27 Oktober 2026 | Fenomena bulan purnama yang dikenal sebagai Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu menghiasi langit Indonesia pada Senin malam, 26 Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan masyarakat dapat menyaksikan fenomena tersebut secara langsung selama kondisi cuaca mendukung, tanpa memerlukan peralatan khusus. Meski memiliki nama khusus, BMKG menegaskan Hunter’s Moon tidak menunjukkan perbedaan fisik yang signifikan dibandingkan bulan purnama pada umumnya.

Hunter’s Moon merupakan sebutan tradisional untuk bulan purnama pertama yang muncul setelah Harvest Moon atau Bulan Panen. Nama ini lahir dari kebiasaan masyarakat di belahan bumi utara yang memanfaatkan cahaya purnama akhir Oktober untuk berburu dan mengumpulkan bahan makanan sebelum musim dingin tiba. Karena itu, fenomena ini dikenal sebagai Bulan Pemburu.

Baca juga:
Polda Jambi Perkuat Sinergi Lintas Instansi: Pantau Karhutla TNBS hingga Jalin Koordinasi dengan Kejati

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa Hunter’s Moon umumnya dikaitkan dengan bulan purnama pada Oktober. Namun, kemunculannya dapat bergeser ke November sekitar tiga tahun sekali, bergantung pada waktu terjadinya Harvest Moon yang bisa jatuh pada awal Oktober.

“Istilah Hunter’s Moon lebih merujuk pada tradisi dan urutan kemunculan bulan purnama setelah Harvest Moon, bukan pada perubahan bentuk atau sifat fisik Bulan,” ujar Teguh seperti dikutip dari situs resmi BMKG.

Kaitan dengan Siklus Panen dan Tradisi Berburu

Untuk memahami asal-usul Hunter’s Moon, penting melihat siklus musim di wilayah beriklim empat musim. Harvest Moon sendiri adalah purnama yang paling dekat dengan ekuinoks musim gugur, yaitu sekitar 22 atau 23 September. Karena posisinya selalu mengikuti Harvest Moon, Hunter’s Moon biasanya jatuh pada Oktober. Namun, jika purnama terdekat dengan ekuinoks terjadi di awal Oktober, maka September disebut Corn Moon, Oktober menjadi Harvest Moon, dan Hunter’s Moon bergeser ke November.

Pada Oktober, panen di belahan bumi utara umumnya telah selesai dan ladang mulai kosong. Hewan buruan seperti rusa telah menggemukkan diri sepanjang musim panas dan awal musim gugur, sementara ladang yang telah dipanen membuat hewan lebih mudah terlihat. Cahaya purnama yang terang membantu para pemburu bekerja di malam hari. Berburu pada masa itu bukan hobi, melainkan kebutuhan. Daging yang diawetkan, misalnya dengan diasap atau dikeringkan, menjadi cadangan pangan untuk melewati musim dingin yang panjang.

Baca juga:
Kemensos dan Pertamina Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Padang

Banyak sumber mengaitkan nama ini dengan tradisi penduduk asli Amerika, termasuk suku Algonquin, serta para pemukim Eropa awal. Meski begitu, catatan tertulis tertua dalam bahasa Inggris berasal dari Inggris. Kamus Oxford English Dictionary mengutip terbitan The British Apollo tahun 1710 yang menghubungkan istilah ini dengan orang-orang pedesaan. Bukti sejarah menunjukkan istilah ini sudah lama hidup dalam budaya agraris, tetapi asal pastinya tidak sepenuhnya jelas.

Karakteristik Kemunculan dan Waktu Pengamatan

Secara umum, bulan terbit sekitar 50 menit lebih lambat setiap hari. Namun, di lintang tengah-utara, terbitnya Harvest Moon dan Hunter’s Moon hanya terlambat sekitar 30 menit per hari. Penyebabnya adalah sudut antara lintasan bulan dan horizon pada musim gugur yang cukup landai. Karakteristik ini membuat cahaya purnama tampak lebih lama menyinari langit pada beberapa malam berturut-turut.

Pada 2026, Harvest Moon terjadi pada 26 September, sehingga Hunter’s Moon muncul satu siklus bulan kemudian, yaitu pada 26 Oktober 2026. Bagi masyarakat Indonesia, waktu terbaik mengamati fenomena ini adalah saat bulan berada cukup tinggi di langit dan kondisi cuaca cerah. BMKG mengajak masyarakat menikmati fenomena tersebut sekaligus memperhatikan waktu pengamatan yang tepat.

Hunter’s Moon tidak memerlukan teleskop atau peralatan optik khusus. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang dari lokasi yang minim polusi cahaya. Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa visibilitas tetap bergantung pada kondisi cuaca di masing-masing daerah.

Baca juga:
Rumor Kim Jong Un Meninggal Bikin Saham Pertahanan Korsel Melonjak, Ini Faktanya

Fenomena ini menjadi bagian dari penamaan bulan purnama yang berkembang dalam tradisi masyarakat sejak dahulu. Nama-nama seperti Harvest Moon dan Hunter’s Moon tidak hanya merujuk pada peristiwa astronomi, tetapi juga mencerminkan hubungan erat antara manusia dan siklus alam, terutama dalam menyiapkan persediaan makanan menjelang musim dingin.

Bagi pembaca yang melewatkan pengamatan pada Senin malam, BMKG menyarankan memantau informasi cuaca resmi untuk mengetahui kondisi langit pada malam-malam berikutnya. Purnama masih akan tampak hampir penuh pada beberapa hari setelah puncaknya, sehingga kesempatan mengamati bulan tetap terbuka selama langit tidak tertutup awan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *