Obama Bikin Gebrakan Jelang Pemilu Tengah Masa: Panggung Penuh, Investigasi Omar Kembali Disorot

Obama Bikin Gebrakan Jelang Pemilu Tengah Masa: Panggung Penuh, Investigasi Omar Kembali Disorot
Obama Bikin Gebrakan Jelang Pemilu Tengah Masa: Panggung Penuh, Investigasi Omar Kembali Disorot

Sorothari – 30 Oktober 2026 | Mantan Presiden Barack Obama menjadi sorotan utama menjelang pemilihan tengah masa (midterms) di Amerika Serikat. Pada Rabu malam waktu setempat, Obama menghadiri kampanye akbar bagi calon dari Partai Demokrat di The Arena at Southlake, Morrow, Georgia. Arena berkapasitas 8.000 kursi itu dilaporkan terisi penuh hingga baris paling atas, sementara di waktu yang hampir bersamaan, Presiden Donald Trump menggelar rapat umum di Chillicothe, Ohio, dengan jumlah hadirin yang jauh lebih sedikit.

Perbandingan jumlah massa kedua tokoh politik itu langsung menjadi perbincangan publik. Foto dan video yang beredar di media sosial menunjukkan tribun arena di Georgia dipenuhi ribuan pendukung. Menurut laporan The Daily Beast, jumlah hadirin kampanye Obama mencapai lebih dari tiga kali lipat jumlah yang hadir dalam acara Trump. Ribuan orang bahkan rela mengantre berjam-jam di luar gedung sebelum Obama naik panggung dengan lagu khasnya, “City of Blinding Lights” dari U2.

Baca juga:
Jelang Pemilu Israel, Benjamin Netanyahu Hadapi Tekanan Politik dan Gelombang Kritik Global

Dalam pidatonya, Obama menyapa pendukung dengan penuh semangat. “Kalian bisa merasakan ketika pemilu tiba, rasanya sedikit berbeda,” kata Obama seperti dikutip dari pidatonya. “Pemilu di mana orang-orang begitu siap untuk sesuatu yang baru… ke mana pun Anda pergi, rasanya seperti perubahan ada di udara.”

Kampanye di Georgia itu digelar untuk mendukung Senator Jon Ossoff yang kembali mencalonkan diri dan calon gubernur dari Partai Demokrat, Keisha Lance Bottoms. Sementara itu, Trump berada di Ohio untuk menggalang suara bagi calon senator dari Partai Republik, Jon Husted, dan calon gubernur Vivek Ramaswamy. Perbedaan skala acara ini dinilai mencerminkan strategi dan antusiasme basis massa masing-masing partai menjelang pemungutan suara pada 3 November mendatang.

Investigasi Ilhan Omar dan Kritik Obama

Di tengah panasnya kampanye, Obama juga menanggapi investigasi baru terhadap anggota Kongres dari Minnesota, Ilhan Omar. Obama menilai penyelidikan yang dilakukan pemerintahan Trump atas dugaan penipuan imigrasi dan kewarganegaraan Omar sebagai tindakan yang memprihatinkan. Ia menyebut penggerebekan rumah Omar oleh agen federal sebagai upaya mencari bukti yang tidak ada kaitannya dengan pelanggaran hukum.

“Seluruh kekuatan pemerintah federal diturunkan kepada pejabat terpilih yang taat hukum hanya karena dia berani mengkritik presiden,” tulis Obama dalam unggahannya di platform X, seperti dikutip Fox News Digital. “Fakta bahwa presiden mana pun, atau pemerintahan mana pun, bersedia melakukan upaya transparan untuk mengintimidasi seseorang seharusnya membuat marah semua orang Amerika.”

Namun, pernyataan Obama itu justru memicu kritik balik. Sejumlah pihak mengingatkan bahwa penyelidikan awal terhadap Omar sebenarnya telah dimulai pada 2016, saat Obama masih menjabat sebagai presiden. Menurut laporan Fox News Digital, penyelidikan dugaan pernikahan palsu Omar pada 2009 untuk tujuan imigrasi dimulai oleh FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri pada musim panas 2016. Sumber yang dikutip menyebutkan bahwa penyelidikan itu sempat menemukan beberapa bukti dugaan kecurangan, meski tidak dijelaskan secara rinci.

Baca juga:
Polisi India Tangkap Puluhan Demonstran Jelang Aksi Protes Besar di New Delhi

Kasus tersebut kemudian dihentikan pada 2021 oleh seorang Jaksa Amerika Serikat di Minnesota yang ditunjuk oleh Presiden Joe Biden saat itu. Kini, pemerintahan Trump menghidupkan kembali penyelidikan tersebut, termasuk mendalami dugaan penipuan imigrasi pada aplikasi kewarganegaraan Omar atau ayahnya. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut mengenai hasil penyelidikan terbaru.

Rekor Partisipasi Pemilih Awal di Georgia

Antusiasme kampanye Obama di Georgia berbanding lurus dengan lonjakan partisipasi pemilih awal (early voting) di negara bagian tersebut. Kantor Sekretaris Negara Bagian Georgia mencatat sebanyak 2.294.275 pemilih telah memberikan suara secara langsung pada Kamis sore, melampaui rekor sebelumnya pada 2022 yang mencapai 2.289.951 suara. Angka ini belum termasuk surat suara melalui pos yang juga terus bertambah.

“Warga Georgia terus mendatangi tempat pemungutan suara dalam jumlah rekor karena mereka percaya pada sistem,” kata Sekretaris Negara Bagian Brad Raffensperger dalam siaran persnya, Kamis. Ia menambahkan bahwa rekor ini tidak terlepas dari kerja keras petugas pemilu di tingkat kabupaten.

Data resmi menunjukkan hingga Kamis pukul 16.35 waktu setempat, sebanyak 2.359.330 suara awal telah diterima. Kabupaten Fulton mencatat angka tertinggi dengan 285.482 surat suara, diikuti oleh Kabupaten Cobb dan DeKalb. Profesor ilmu politik dari Columbia University, Robert Y. Shapiro, menilai lonjakan ini sebagai kabar baik bagi Partai Demokrat. “Model statistik yang dijalankan menunjukkan keunggulan besar dalam suara ini untuk kandidat Demokrat,” ujarnya kepada Newsweek.

Shapiro juga menyoroti peran Obama dalam membangkitkan semangat pemilih. Menurutnya, kerumunan besar dan antusiasme yang terlihat di kampanye Obama menjadi cerminan dorongan bagi warga untuk datang ke bilik suara. Obama sendiri dalam pidatonya di Morrow sempat melontarkan sindiran terhadap Trump terkait isu keterjangkauan dan perang di Iran. “Dia menghabiskan waktu merekatkan medali emas ke mantel di Ruang Oval,” kata Obama. “Dia benar-benar melakukan kerajinan tangan sementara kita berperang dan mencoba mengatasi harga yang tidak terkendali.”

Baca juga:
AHY Minta Kader Demokrat Siapkan Diri Hadapi Pemilu 2029 dan Dekati Pemilih Muda

Pernyataan itu dibalas Trump saat berkampanye di Perry, Georgia, akhir pekan lalu. Trump mengeklaim acara Obama di Michigan sepi penonton. “Saya melihat Barack Hussein Obama berada di Michigan dan tempat itu kosong,” kata Trump di depan pendukungnya. Ia juga menuding media jarang membahas besarnya massa pendukungnya sendiri.

Pemilihan tengah masa kali ini memang menjadi ujian politik bagi Partai Republik yang menguasai Gedung Putih. Sejarah menunjukkan partai presiden biasanya kehilangan kursi. Sejumlah survei terbaru menunjukkan persaingan ketat di Georgia. Polling Quantus Insights menempatkan Bottoms dengan 46,6 persen berbanding Jackson 48,2 persen, sementara Ossoff unggul jauh dengan 51,8 persen atas Collins 44,9 persen. Pasar prediksi Kalshi dan Polymarket bahkan menempatkan Ossoff dan Bottoms sebagai favorit kuat.

Dengan sisa waktu kurang dari sepekan, Obama dan tokoh senior Demokrat lainnya seperti Kamala Harris terus bergerak di lapangan. Harris dijadwalkan berkampanye di Macon bersama Ossoff pada Kamis, menandai babak akhir perebutan suara. Sementara itu, Trump dijadwalkan terus berkeliling ke sejumlah negara bagian untuk mendongkrak elektabilitas kandidat partainya. Publik kini menantikan apakah gelombang antusiasme yang ditunjukkan dalam kampanye Obama akan berbuah kemenangan bagi Demokrat pada 3 November nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *