Sorothari – 06 November 2026 | Como 1907 menorehkan sejarah baru dalam dunia sepak bola Eropa setelah menghancurkan Lens dengan skor telak 9-1 pada matchday keempat fase liga Liga Champions 2026/2027 di Stadion Bollaert-Delelis, Prancis, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB. Kemenangan besar ini tidak hanya membawa tim asuhan Cesc Fabregas ke peringkat keempat klasemen sementara dengan koleksi sembilan poin, tetapi juga menempatkan mereka dalam buku sejarah kompetisi sebagai tim kedua dalam satu dekade terakhir yang mampu mencetak delapan gol atau lebih dalam satu pertandingan Liga Champions, menyusul Bayern Munich yang pernah mengalahkan Barcelona 8-2 pada 2020 dan Dinamo Zagreb 9-2 pada 2024.
Anastasios Douvikas menjadi bintang utama dalam pesta gol tersebut setelah mencetak tiga gol atau hattrick. Penyerang asal Yunani itu membuka keunggulan Como pada menit ketujuh melalui sundulan Maximo Perrone yang membelokkan bola ke tiang jauh, lalu menambah gol keduanya pada menit ke-32 setelah menyelesaikan serangan yang dibangun dari lini belakang. Gol ketiga Douvikas tercipta pada babak kedua, melengkapi penampilan gemilangnya malam itu.
Baca juga:Selain Douvikas, enam gol lainnya dicetak oleh Nico Paz pada menit ke-40, Lucas da Cunha pada menit ke-47, Marc-Oliver Kempf pada menit ke-53, serta Mattia Liberali, Martin Baturina, dan Matteo Papaccioli yang masing-masing menyumbang gol di babak kedua. Lens hanya mampu membalas satu gol melalui Ruben Aguilar, sehingga pertandingan berakhir dengan kemenangan 9-1 untuk Como 1907.
Sejak awal pertandingan, Como 1907 yang tampil sebagai tim tamu justru langsung menunjukkan permainan menyerang. Tekanan demi tekanan dilancarkan ke gawang Lens yang dijaga Robin Risser. Keunggulan cepat pada menit ketujuh membuat pasukan Cesc Fabregas semakin percaya diri mengendalikan jalannya pertandingan. Memasuki babak kedua, intensitas serangan tidak menurun. Como justru semakin agresif dan menambah enam gol tambahan, sementara Lens hanya bisa memperkecil kedudukan melalui Aguilar.
Kemenangan ini menjadi pencapaian penting bagi klub asal Italia tersebut yang menjalani musim debutnya di kompetisi Liga Champions. Dengan sembilan poin dari empat pertandingan, Como 1907 untuk sementara menempati posisi keempat klasemen fase liga, sebuah posisi yang sangat membanggakan bagi tim yang baru kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia.
Strategi Como 1907 Amankan Pemain Bintang
Di balik performa gemilang di lapangan, manajemen Como 1907 disebut tengah menyusun strategi jangka panjang untuk mempertahankan para pemain bintangnya dari incaran klub-klub raksasa Eropa. Menurut laporan yang beredar, manajemen klub menyadari bahwa untuk bersaing dengan tim-tim mapan di Serie A, mereka tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan. Diperlukan perencanaan matang, baik dari sisi teknis maupun finansial, untuk membangun skuad yang mampu menahan gempuran tawaran dari klub-klub elit.
Baca juga:Salah satu inti dari strategi tersebut adalah penawaran proyek jangka panjang kepada para pemain. Pemain bintang masa kini tidak lagi hanya melihat besaran gaji, melainkan juga stabilitas klub dan peran yang akan mereka ambil dalam tim. Manajemen Como berusaha menciptakan lingkungan di mana pemain merasa menjadi bagian dari sebuah revolusi. “Kami tidak hanya membangun tim untuk musim ini, kami membangun fondasi untuk dekade mendatang,” ungkap visi strategis manajemen klub dalam pertemuan internal, seperti dikutip dari laporan tersebut.
Selain itu, pendekatan negosiasi yang sangat personal juga menjadi senjata utama. Manajemen klub seringkali melakukan pendekatan langsung kepada pemain dan agen mereka untuk menegaskan komitmen klub. Mereka memberikan jaminan waktu bermain yang lebih konsisten dibandingkan jika pemain tersebut pindah ke klub raksasa yang memiliki persaingan internal sangat ketat. Faktor psikologis dan teknis inilah yang membuat para pemain bintang tetap memilih bertahan di Como meskipun ada tawaran lebih besar dari klub lain.
Dengan memadukan kekuatan finansial, daya tarik lokasi, dan visi sepak bola yang jelas, Como 1907 berhasil menciptakan ekosistem yang mampu membentengi pemain bintang mereka dari godaan klub raksasa. Jika strategi ini terus berjalan konsisten, bukan tidak mungkin Como 1907 akan menjadi kekuatan baru yang disegani di Serie A.
Keputusan Mirwan Suwarso dan Identitas Lokal
Di sisi manajemen, Presiden klub Mirwan Suwarso dikenal dengan sejumlah keputusan menarik yang memperkuat identitas lokal Como 1907. Salah satunya adalah penggunaan dialek Semm Cumasch yang berarti ‘kami orang Como’ pada berbagai atribut klub, mulai dari spanduk di tribun Stadion Giuseppe Sinigaglia hingga kaus, topi, dan suvenir yang dikirim sampai ke Jepang dan Amerika Serikat. Manajemen bahkan membagikan pakaian terusan bertuliskan Semm Cumasch kepada bayi-bayi yang lahir di dua rumah sakit di Kota Como, serta merekrut warga setempat sebagai model untuk kampanye kaus terbaru.
Baca juga:Keputusan lain yang tak kalah menarik adalah kebijakan harga tiket. Meskipun tiket musiman Como 1907 termasuk yang termahal keenam di Serie A, para pemegang tiket musiman lama justru membayar harga terendah kedua di liga yang sama. Mirwan Suwarso menyebut sikap itu sebagai cara memahami batas antara hal yang boleh diubah dan yang harus dijaga. Pada Juli 2025, ia bahkan menyatakan harapannya untuk menggratiskan tiket tribun curva terlebih dahulu sebelum tribun distinti, dengan alasan sepak bola adalah milik orang banyak. Gagasan itu muncul saat Como 1907 menjadi salah satu klub dengan belanja transfer terbesar di Eropa, yang pada musim panas 2025 melewati 100 juta euro atau sekitar Rp2,03 triliun.
Menjelang debut Como 1907 di Liga Champions pada September 2026, Mirwan Suwarso dan sejumlah direktur melepas kursi dalam pertandingan melawan RB Leipzig. Karena permintaan tiket jauh melebihi pasokan, sementara kapasitas Stadion Giuseppe Sinigaglia berkurang sekitar 1.000 kursi akibat aturan penyiaran dan operasional UEFA, klub mengalokasikan kursi para direktur kepada suporter yang lahir pada 1950 atau lebih awal. Mirwan Suwarso beralasan bahwa kapasitas yang menyusut membuat stadion tidak bisa menampung semua orang yang ingin hadir, sehingga ia memilih suporter yang paling lama menunggu, yakni mereka yang mengikuti Como di setiap divisi dan setiap era.
Dengan kombinasi performa impresif di lapangan dan manajemen yang visioner, Como 1907 kini menjadi sorotan. Kemenangan 9-1 atas Lens menjadi bukti ambisi klub yang tidak hanya ingin bertahan di Serie A, tetapi juga bersaing di level Eropa. Sementara itu, langkah manajemen dalam mengamankan pemain bintang dan memperkuat identitas lokal akan menjadi kunci keberlanjutan klub di masa depan. Publik sepak bola Italia pun menantikan apakah Como 1907 mampu mempertahankan konsistensi performa dan strategi mereka hingga akhir musim.












