Sorothari – 01 November 2026 | Hasil akhir israel election atau pemilihan umum Israel 2026 menunjukkan kebuntuan politik. Tidak ada satu pun blok yang mencapai 61 kursi dari total 120 kursi Knesset, syarat minimum untuk membentuk pemerintahan. Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meraih 53 kursi bersama sekutunya, sementara blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot mengantongi 48 kursi. Partai-partai Arab, termasuk Joint List dan Ra’am, menguasai 19 kursi dan kini menjadi penentu arah koalisi.
Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel mencatat Likud sebagai partai terbesar dengan 27 kursi, disusul partai Yashar milik Eisenkot dengan 21 kursi. Angka ini menegaskan bahwa israel election kali ini tidak menghasilkan pemenang mutlak. Dengan konfigurasi tersebut, Netanyahu dan Eisenkot sama-sama harus bernegosiasi untuk membangun koalisi yang stabil, atau Israel terancam kembali ke bilik suara.
Baca juga:Empat Jalan Keluar dari Kebuntuan
Analisis yang dirangkum dari berbagai laporan menyebut setidaknya ada empat kemungkinan yang bisa ditempuh untuk membentuk pemerintahan berikutnya. Pertama, Netanyahu dapat merayu partai-partai sayap kanan dari kubu oposisi untuk bergabung. Dua nama yang disebut-sebut adalah Naftali Bennett, yang memimpin aliansi B’Yachad bersama Yair Lapid, serta Avigdor Lieberman dari Yisrael Beiteinu. Keduanya memiliki posisi kanan dalam isu keamanan dan pernah berbagi panggung politik dengan Netanyahu.
Namun, jalan ini tidak mulus. Bennett dan Lieberman justru berkampanye untuk menyingkirkan Netanyahu dari kursi perdana menteri. Mereka juga menuntut perubahan aturan wajib militer bagi komunitas ultra-Ortodoks, yang berseberangan dengan dua partai ultra-Ortodoks yang saat ini menjadi mitra Netanyahu. Sejumlah pengamat menilai partai Bennett dan Lieberman bisa menggantikan partai ultra-Ortodoks, tetapi hitungan kursi yang ada belum tentu cukup untuk mencapai mayoritas.
Kedua, Eisenkot bisa mencari dukungan dari partai-partai Arab. Blok oposisi hanya bisa memaksa Netanyahu keluar jika mau mempertimbangkan kembali penolakan mereka untuk bernegosiasi dengan partai Arab. Surat kabar El Periódico de Catalunya dari Spanyol berpendapat bahwa hasil paling signifikan dalam israel election ini adalah lonjakan suara partai Arab. Menurut mereka, oposisi harus mengakui partai Arab sebagai mitra negosiasi yang sah agar dapat membentuk pemerintahan yang stabil. Namun, pilihan ini berisiko memecah blok oposisi yang selama ini berhaluan Zionis.
Baca juga:Ketiga, Netanyahu dan Eisenkot bisa membentuk pemerintahan persatuan nasional. Meski secara ideologis keduanya bersaing, situasi darurat keamanan dan tekanan internasional bisa memaksa mereka berkompromi. Namun, hingga saat ini belum ada sinyal kuat ke arah tersebut. Keempat, jika semua negosiasi gagal, Israel harus menggelar pemilihan ulang. Opsi ini menjadi momok karena biaya politik dan ekonomi yang tinggi, serta ketidakpastian yang berkepanjangan.
Faktor Arab dan Tekanan Amerika
Kemenangan mengejutkan Likud tidak lepas dari strategi kampanye Netanyahu yang menempatkan isu Palestina sebagai pusat perhatian. Ilmuwan politik Abbas Gallyamov, dalam analisisnya yang dikutip Echo (Rusia), menilai taktik intimidasi terhadap pemilih Arab berhasil. Slogan ‘The Right or Palestine’ menjadi seruan resmi Likud. Menurut Gallyamov, Netanyahu meyakinkan publik bahwa hanya dia yang bisa menjamin tidak akan lahir negara Palestina independen di samping Israel.
Di sisi lain, hubungan Israel dengan Amerika Serikat menjadi sorotan. Kolumnis Amit Segal dalam New York Post menulis bahwa pemerintahan berikutnya di Yerusalem akan menghadapi tantangan terbesar dalam hubungan AS-Israel abad ini. Ia menilai Netanyahu bukan diktator karena telah mengikuti 12 pemilihan dan tidak pernah merebut kekuasaan dengan paksa. Segal juga menyoroti bahwa oposisi justru dipaksa mengadopsi pendekatan keamanan Netanyahu, bahkan menuduhnya kurang hawkish. Menurutnya, benturan antara pemerintahan Demokrat di AS dan pemerintahan Israel apa pun hampir tidak terhindarkan menjelang siklus pemilihan presiden AS 2028.
Baca juga:Peta politik Israel saat ini juga menunjukkan pergeseran. Partai-partai Arab yang selama ini berada di pinggiran kini memegang kunci. Tanpa melibatkan mereka, blok mana pun akan sulit mencapai 61 kursi. El Periódico de Catalunya menegaskan bahwa mengecualikan sebagian pemilih tidak lagi kompatibel dengan upaya membentuk mayoritas parlemen yang stabil. Oleh karena itu, israel election 2026 menjadi ujian bagi para pemimpin Israel untuk merangkul semua elemen masyarakat atau menghadapi kebuntuan berkepanjangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jadwal negosiasi koalisi. Namun, tekanan publik dan kebutuhan akan pemerintahan yang berfungsi mendorong para pemimpin partai untuk segera bergerak. Jika dalam beberapa pekan ke depan tidak ada kesepakatan, Israel kemungkinan besar akan menuju pemilihan ulang, sebuah skenario yang semakin tidak populer di kalangan warga.












