NASA Ungkap Deretan Temuan Terbaru, dari Rekor Perseverance hingga Bulan yang Menyusut

NASA Ungkap Deretan Temuan Terbaru, dari Rekor Perseverance hingga Bulan yang Menyusut
NASA Ungkap Deretan Temuan Terbaru, dari Rekor Perseverance hingga Bulan yang Menyusut

Sorothari – 19 Oktober 2026 | Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, kembali menjadi sorotan melalui sejumlah temuan dan pencapaian terbaru yang mencakup eksplorasi Mars, pemantauan iklim Bumi, pengamatan objek antariksa, hingga kondisi permukaan Bulan. Deretan laporan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas riset lembaga ini tidak hanya berfokus pada satu misi, tetapi tersebar di berbagai bidang sains dan teknologi antariksa.

Salah satu kabar datang dari rover Perseverance yang diklaim telah memecahkan rekor jarak tempuh di permukaan Mars. Menurut laporan, rover beroda enam itu telah menempuh 45,22 kilometer, melampaui capaian Opportunity yang menempuh 45,16 kilometer selama 2004 hingga 2018. Selisihnya memang hanya sekitar 60 meter, tetapi waktu yang dibutuhkan kedua kendaraan untuk mencapai jarak tersebut sangat berbeda.

Baca juga:
Panduan Mudah Membuat Video Vertikal AI untuk TikTok dan Reels

Opportunity memerlukan hampir 15 tahun untuk menempuh jarak itu, sementara Perseverance mencapainya dalam waktu sekitar lima setengah tahun. Sistem misi mencatat rekor baru tersebut pada 11 Oktober, ketika robot sedang bergerak menuju kawasan bernama Idubi, dekat tepi barat kawah yang dikenal sebagai Lac de Charmes.

Perseverance bukan satu-satunya penjelajah yang aktif di Mars. Curiosity, misi lain milik NASA, dilaporkan telah mengumpulkan jarak 38,15 kilometer sejak tiba pada 2012. Kemajuan itu tidak lepas dari perangkat lunak bernama AutoNav yang mampu menafsirkan medan Mars tanpa bergantung pada perintah terus-menerus dari Bumi. Dengan kamera bawaannya, sistem ini mengidentifikasi hambatan, menyusun peta tiga dimensi, dan memilih jalur yang paling rendah risiko bagi roda kendaraan.

Kemampuan otonom itu memungkinkan kendaraan bergerak hingga 412 meter dalam satu hari Mars yang berlangsung sekitar 24 jam 39 menit. Tanpa tingkat kemandirian teknologi tersebut, setiap pergerakan harus menunggu instruksi yang dikirim dari jarak ratusan juta kilometer. Rencana awal Laboratorium Propulsi Jet bahkan hanya memperkirakan jarak maksimum 20 kilometer untuk seluruh misi.

Steven Lee, penanggung jawab proyek Curiosity dan Perseverance di laboratorium tersebut, berharap Perseverance terus memecahkan rekor selama bertahun-tahun ke depan. Menurutnya, kondisi mekanisme mobilitas yang masih baik dan hasil positif dari uji ketahanan mendukung keyakinan itu. Kendaraan tersebut dinilai masih dalam kondisi mekanis yang baik meski telah lama berada di medan yang keras.

Rekor jarak itu tidak mengubah tujuan ilmiah utama misi, yaitu mendeteksi kemungkinan tanda kehidupan mikroba dari miliaran tahun lalu. Kawah Jezero menjadi pusat pencarian tersebut karena di sana pernah terdapat danau.

Sementara itu, satelit-satelit NASA juga digunakan untuk memantau perkembangan El Niño di Samudra Pasifik ekuator. Lembaga itu mendeteksi perubahan mendalam pada perairan, termasuk kenaikan suhu sekitar 1,7 derajat Celsius dan perbedaan tinggi muka laut hingga 40 sentimeter.

Pada Oktober, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan peluang sebesar 83 persen bahwa fenomena El Niño sedang berlangsung. El Niño merupakan fenomena iklim alami yang biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan ditandai oleh suhu air di atas normal di sejumlah bagian Pasifik ekuator. Dampaknya merambah ke angin pasat, distribusi panas laut, pola hujan, dan tinggi muka laut di berbagai wilayah Pasifik.

Pengamatan satelit memungkinkan proses itu dipantau dari pusatnya di samudra. Bagi ilmuwan, perilaku tinggi muka laut, perluasan air hangat, dan perubahan fitoplankton memberikan sinyal tentang transformasi yang dapat memengaruhi iklim global. Salah satu sinyal awal muncul pada Januari 2026 ketika citra satelit mendeteksi massa air hangat bernama gelombang Kelvin di dekat Mikronesia, Pasifik barat.

Baca juga:
Menghilangkan Iklan Pop-Up di Browser HP Saat Streaming: Panduan Lengkap dan Praktis

Gelombang Kelvin adalah pulsa air yang bergerak lambat dan membentang ribuan kilometer, membawa panas dari barat ke timur melintasi Pasifik. Air hangat menaikkan suhu udara di atasnya sehingga udara itu naik. Perubahan tekanan tersebut dapat melemahkan bahkan membalikkan angin pasat yang biasanya bertiup dari Amerika menuju Asia. Dari sana, tinggi muka laut di Pasifik timur meningkat dan air semakin menghangat, reaksi berantai yang menandai awal El Niño.

Pada awal April, gelombang Kelvin telah mencapai Pasifik timur dan suhu permukaan laut mulai naik. Saat memuai, air hangat menaikkan tinggi muka laut di beberapa area antara 30 dan 40 sentimeter. Peta satelit menunjukkan perpindahan air di atas level normal menuju Amerika Selatan dan kemudian menyusuri pantai hingga California. Sementara itu, Indonesia dan Australia utara mencatat tinggi muka laut antara 15 dan 20 sentimeter di bawah normal.

Sejak 1993, ilmuwan menggunakan altimetri satelit untuk mengukur tinggi laut secara presisi. Rangkaian data berkelanjutan itu dilanjutkan oleh satelit Sentinel-6 yang altimeter radarnya mampu mencakup jutaan mil persegi samudra dalam sehari. Instrumen tersebut melengkapi armada sensor dan pelampung laut NOAA yang bergerak dan menyelam ke kedalaman laut.

Kenaikan suhu permukaan laut menjadi salah satu indikator El Niño yang paling dikenal. Menurut Willis, Pasifik timur sudah mencatat suhu mendekati 1,7 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang. Dalam beberapa bulan ke depan, suhu itu diperkirakan masih bisa naik sedikit lagi.

Di sisi lain, teleskop SPHEREx milik NASA menemukan air dan metana di atmosfer katai cokelat yang terisolasi. Katai cokelat adalah objek yang memburamkan batas antara bintang dan planet. Objek ini terbentuk dari awan gas yang runtuh seperti bintang, tetapi tidak pernah cukup masif untuk mempertahankan fusi hidrogen di intinya. Dalam hal lain, objek tersebut menyerupai Jupiter dan Saturnus. Namun, berbeda dari kebanyakan planet, katai cokelat melayang di ruang angkasa tanpa bintang yang menghangatkannya sehingga seluruh panasnya berasal dari dalam.

Zafar Rustamkulov, ilmuwan di IPAC, pusat sains dan data Caltech di Pasadena, California, memimpin studi tersebut. Ia menyebut objek itu sebagai benda langit yang mandiri dan akan memudar selamanya dalam kesendirian. Menurutnya, pemahaman tentang kompleksitas katai cokelat masih terus berkembang.

Baru beberapa lusin objek semacam itu yang dipelajari secara rinci dengan teleskop antariksa. Sebagian besar anggapan astronom tentang komposisi, badai, dan perkembangan objek tersebut berasal dari teori. Teleskop SPHEREx diluncurkan pada Maret 2025 dan dikelola oleh Laboratorium Propulsi Jet NASA di California Selatan. Tugas utamanya memetakan langit dengan sekitar 3.600 citra per hari. Peta itu akan membantu ilmuwan memahami peristiwa pada sepersekian detik setelah dentuman besar. Teleskop tersebut juga mencari bahan-bahan kehidupan, termasuk es di antara bintang yang suatu hari bisa berakhir di samudra dunia lain. Katai cokelat hanyalah proyek sampingan.

Topik lain yang juga dilaporkan adalah kondisi permukaan Bulan. Para ilmuwan yang mempelajari citra kamera Lunar Reconnaissance Orbiter (LROC) menemukan lebih dari 10.000 patahan yang berpotensi memicu gempa bulan. Studi tersebut diterbitkan dalam The Planetary Science Journal. Menurut para ilmuwan, bagian dalam Bulan perlahan mendingin sehingga ukurannya menyusut. Dalam sekitar 400 juta tahun terakhir, radius Bulan diperkirakan berkurang sekitar 45 meter.

Baca juga:
Dinamika Pasar iPhone: Dari Baterai Liquid Cooling hingga Perebutan di Selat Hormuz

Temuan itu membuat pemilihan lokasi aman bagi misi Artemis yang tengah dipersiapkan NASA menjadi semakin penting. Para ilmuwan meneliti struktur panjang dan menonjol di permukaan Bulan yang disebut lobate scarp dan mare ridge. Struktur tersebut terbentuk akibat penyusutan Bulan. Ketika ukuran Bulan mengecil, permukaannya mengalami tekanan yang memicu pembentukan patahan. Pergerakan pada patahan itu dapat menimbulkan gempa bulan.

Dari analisis citra LROC, ilmuwan menemukan lebih dari 8.900 lobate scarp dan lebih dari 2.000 mare ridge kecil. Keduanya terkait dengan perubahan permukaan akibat penyusutan Bulan. Studi memperkirakan bahwa jika penyusutan berlangsung dengan laju konstan, radius Bulan dapat berkurang sekitar 6 hingga 11 sentimeter setiap satu juta tahun. Artinya, perubahan di dalam Bulan masih berlangsung hingga kini.

Pada 2019, ilmuwan Tom Watters dan timnya juga memberikan bukti hubungan antara patahan dan gempa di permukaan Bulan. Seismometer yang dipasang selama misi Apollo mencatat gempa dengan pusat yang cukup dekat dengan patahan. Dari situ ilmuwan mengetahui bahwa struktur yang tampak di permukaan Bulan dapat berkaitan dengan gempa.

Berbeda dengan Bumi yang kerak batuannya terbagi menjadi lebih dari 15 lempeng besar, Bulan terdiri dari satu lempeng kontinu. Pergerakan lempeng di Bulan mencerminkan penyusutan tubuhnya. Karena itu, gempa bulan dapat terjadi di berbagai bagian permukaannya. Kerak Bulan yang sangat retak, tebal, dan berpori juga mengisolasi bagian dalam dan memperlambat pendinginan serta penyusutan hingga waktu yang relatif baru.

Sejumlah laporan tersebut menunjukkan bahwa NASA terus menjalankan berbagai misi yang saling melengkapi, mulai dari penjelajahan permukaan planet, pemantauan iklim Bumi, pengamatan objek antariksa, hingga pemetaan risiko di Bulan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada kelanjutan analisis data dan hasil misi-misi yang masih berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *