Sorothari – 20 Oktober 2026 | Perusahaan treasury Bitcoin Strategy kembali menambah kepemilikan aset digitalnya dengan membeli 267 BTC senilai USD22,1 juta atau sekitar Rp22 miliar pada pekan lalu. Berdasarkan laporan pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC), pembelian tersebut dilakukan pada rentang 12 hingga 18 Oktober 2026 dengan harga rata-rata USD82.900 per koin, termasuk biaya transaksi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengelola eksposur terhadap pergerakan harga btc usd di pasar global.
Dengan tambahan tersebut, Strategy kini menguasai 848.517 BTC yang diakumulasi dengan total biaya USD64,02 miliar, atau setara harga rata-rata USD75.446 per koin. Jumlah ini menempatkan perusahaan yang didirikan oleh Michael Saylor itu sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia korporasi. Adapun harga btc usd pada periode yang sama tercatat di kisaran USD81.939, naik 1,02 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Baca juga:Pembelian terbaru ini terbilang lebih kecil dibandingkan pekan sebelumnya, ketika Strategy membeli 250 BTC dengan harga rata-rata USD86.194 per koin. Bahkan, jumlahnya hanya sebagian kecil dari pembelian senilai USD142,7 juta yang dilakukan pada pekan terakhir September 2026. Meski demikian, langkah ini konsisten dengan pola akumulasi bertahap yang dijalankan perusahaan selama ini.
Pendiri sekaligus Executive Chairman Strategy, Michael Saylor, sempat memberi sinyal mengenai pembelian tersebut melalui unggahan di media sosial pada Minggu lalu. Ia menulis, “Kami menemukan ruang untuk menambah warna oranye,” merujuk pada identitas warna Bitcoin. Unggahan itu muncul sehari sebelum pengumuman resmi kepada publik.
Pendanaan Pembelian dan Buyback Saham Preferen
Untuk membiayai pembelian Bitcoin, Strategy sebagian besar mengandalkan penjualan saham biasa MSTR melalui program penawaran pasar atau at-the-market offering. Perusahaan menjual 140.872 lembar saham MSTR dan memperoleh sekitar USD22 juta, ditambah USD0,1 juta dari kas internal. Sepanjang pekan tersebut, Strategy tidak menjual satu pun saham preferennya.
Selain membeli Bitcoin, perusahaan juga melakukan pembelian kembali atau buyback 1.938.780 lembar saham preferen variabel-rate STRC senilai USD193,1 juta. Dana buyback tersebut berasal dari apa yang disebut perusahaan sebagai USD Cash, yaitu kas yang dialokasikan untuk keperluan umum termasuk pembelian Bitcoin. Langkah ini menunjukkan upaya Strategy menyeimbangkan struktur permodalan di tengah volatilitas harga btc usd.
Dewan direksi Strategy juga menaikkan plafon program pembelian kembali surat berharga kredit digital atau digital credit securities repurchase program dari USD2 miliar menjadi USD3 miliar. Program ini mencakup saham preferen perusahaan. Setelah buyback pekan lalu, tersisa USD354,8 juta dalam program tersebut. Dengan tambahan plafon dan pembelian terbaru, dana yang masih tersedia per 18 Oktober 2026 mencapai USD1,16 miliar. Sementara itu, program terpisah untuk buyback saham biasa MSTR masih menyisakan USD1 miliar.
Baca juga:Pergerakan Whale dan Isu Keamanan Lightning Network
Di sisi lain, pasar btc usd juga diwarnai oleh aktivitas dompet besar atau whale yang kembali aktif setelah 13 tahun tidak bergerak. Sebuah alamat lama memindahkan sekitar USD34 juta dalam bentuk BTC ke alamat SegWit, format Bitcoin yang lebih baru dan dapat menekan biaya transaksi lanjutan. Transaksi tersebut terpantau di blockchain explorer, meski identitas pemilik dan tujuan penjualan belum dapat dipastikan.
Transfer itu menyusul transaksi pada 17 Oktober yang melibatkan dua alamat berisi Bitcoin hasil penerimaan pada 2013. Keduanya membelanjakan sekitar 416,69 BTC dalam satu transaksi. Jika digabungkan dengan transfer 411,45 BTC pada Minggu, tiga alamat tersebut memindahkan sekitar 828,14 BTC dalam dua transaksi. Namun, catatan blockchain tidak membuktikan bahwa ketiganya dimiliki oleh entitas yang sama. Arkham Intelligence menandai beberapa alamat pengirim sebagai terkait phishing, meski transfer utama tidak diarahkan ke alamat phishing yang dilabeli.
Analis menegaskan bahwa pemindahan koin ke alamat privat tidak serta-merta menunjukkan niat menjual. Seperti halnya transfer whale 2013 lain yang dilaporkan pada Mei, perpindahan aset ke dompet pribadi bisa saja merupakan langkah pengamanan atau konsolidasi. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai tujuan akhir dari transaksi tersebut.
Sementara itu, komunitas pengembang Lightning Network tengah menyoroti dua celah keamanan yang ditemukan dalam waktu berdekatan pada awal Oktober 2026. Lightning Dev Kit (LDK) merilis pembaruan v0.2.7 dan v0.1.13 pada 1 Oktober untuk menutup celah yang dilacak sebagai pull request #5057. Menurut catatan rilis LDK, versi 0.2.7 memperbaiki kerentanan pencurian dana yang dapat dieksploitasi oleh pihak lawan channel yang jahat.
Mekanisme serangan itu melibatkan skenario ketika mitra channel mengakui pembaruan status channel melalui pesan revoke_and_ack, lalu memutus koneksi, dan kembali dengan klaim palsu melalui channel_reestablish bahwa ia tidak pernah menerima pembaruan tersebut. Sebelum perbaikan, perangkat lunak LDK yang rentan dapat menerima kebohongan itu dan menandatangani transaksi komitmen baru pada indeks yang sama tanpa mencatat perubahan pada ChannelMonitor. Dampaknya paling serius ketika node korban meneruskan pembayaran melalui channel tersebut.
Baca juga:Celah kedua ditemukan pada implementasi Core Lightning, dengan masalah penalti yang berbeda. Meski demikian, tidak ada pengguna yang dilaporkan kehilangan satoshi akibat kedua bug tersebut. Kapasitas publik Lightning Network saat ini diperkirakan berada di antara 2.530 hingga 4.900 BTC, atau bernilai sekitar USD200 juta hingga hampir USD400 juta pada harga btc usd 18 Oktober 2026 yang tercatat USD80.771. Reaksi pasar terhadap isu keamanan ini relatif minim, dengan harga Bitcoin nyaris tidak bergerak.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati kelanjutan akumulasi Strategy serta dampak pergerakan whale terhadap psikologi pasar. Pengembang Lightning Network juga diimbau segera menerapkan patch pada node masing-masing untuk meminimalkan risiko eksploitasi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai rencana pembelian atau penjualan lanjutan dari pihak Strategy maupun pemilik dompet whale tersebut.












