Berita  

KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Kharismatik ‘Singa Podium’ Pendiri Ponpes Daarul Rahman

KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Kharismatik 'Singa Podium' Pendiri Ponpes Daarul Rahman
KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Kharismatik 'Singa Podium' Pendiri Ponpes Daarul Rahman

Sorothari – 22 Oktober 2026 | Dunia pesantren dan umat Islam Indonesia kembali diliputi duka. Ulama kharismatik yang dijuluki “Singa Podium”, KH Syukron Makmun, wafat pada Ahad, 18 Oktober 2026, di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta, setelah menjalani perawatan akibat gangguan jantung. Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini mengembuskan napas terakhir pada usia 84 tahun.

Kabar kepergian KH Syukron Makmun meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar pesantren, para ulama, dan warga Nahdliyin. Jenazah almarhum dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Informasi wafatnya juga disampaikan melalui akun media sosial NU Online, yang segera menuai ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan.

Baca juga:
Kepala BKN Dorong ASN Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas demi Pelayanan Publik

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengenang almarhum sebagai sosok ulama yang tegas dan konsisten dalam berjuang. “Beliau dikenal sebagai sosok yang memiliki keteguhan prinsip dalam berjuang dan dikenal ketegasannya,” ujar Cholil Nafis, seperti dikutip dari laman MUI, Rabu (21/10/2026).

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, juga menyampaikan duka cita mendalam. Saat menghadiri takziah malam ke-3 di kediaman almarhum, Selasa (20/10/2026), Gus Kikin mengaku kehilangan sosok guru yang telah lama menjadi teladan dalam syiar Islam. “Atas nama pribadi dan pengurus pusat PBNU saya mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya guru kita Bapak Kiai Haji Syukron Ma’mun. Seluruh ulama dan umat Islam khususnya di Indonesia merasakan kehilangan besar,” ucapnya.

Gus Kikin mengenang KH Syukron Makmun sebagai ulama besar yang sangat konsisten menyuarakan kebenaran dalam kondisi apa pun. Ia menuturkan, dari cerita orang tuanya, ia banyak mendengar rekam jejak perjuangan almarhum pada masa-masa sulit era tahun 70-an. Meski berbeda generasi, Gus Kikin bersyukur pernah membersamai almarhum dalam berbagai kegiatan dakwah. Ia masih ingat ketika almarhum hendak menghadiri acara di Gresik tiga tahun silam, saat usia beliau 82 tahun. Di tengah perjalanan yang hampir tengah malam, semangatnya tetap membara. “Saya kalau disuruh bicara saya masih kuat sampai subuh,” kenang Gus Kikin menirukan ucapan almarhum.

KH Syukron Makmun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga religius yang lekat dengan tradisi pesantren. Ayah, ibu, dan kakeknya berperan besar membentuk kehidupan keagamaannya sejak kecil. Kakeknya dikenal sebagai kiai sekaligus guru mengaji di kampung halamannya. Latar belakang inilah yang membentuk karakter kokoh dan pengetahuan luas pada diri almarhum.

Julukan “Singa Podium” bukanlah gelar tanpa makna. Siapa pun yang pernah menghadiri majelisnya pasti merasakan bagaimana untaian kalimatnya mampu membakar semangat, menegakkan barisan, namun tetap sarat kedalaman ilmu, retorika berkelas, dan diksi yang elegan. Pada era 1980-an, KH Syukron Makmun kerap memenuhi undangan para kiai di berbagai pelosok daerah. Kehadirannya selalu dinanti. Khotbah dan pidatonya laksana air jernih yang bergolak penuh energi di tengah padang gersang: nada bicaranya berapi-api, suaranya lantang melawan kejahatan dan kedzaliman, tetapi fondasi argumentasinya selalu tegak di atas ilmu.

Baca juga:
Dinamika Pengelolaan dan Aliran Uang dalam Kasus Kriminal hingga Penyaluran Hak Publik

Ketegasan KH Syukron Makmun dalam prinsip amar makruf nahi mungkar dinilai sangat berharga. Ia tidak pernah gentar. Di tengah kepungan arus politik masa itu, ketika banyak orang memilih diam atau berkompromi demi kenyamanan, ia memilih bersuara lantang dan lurus. Ia berbicara demi kebenaran, tanpa peduli seberapa deras badai tekanan yang menerjang.

Khidmah Panjang di NU dan Dunia Pendidikan

Perjalanan hidup KH Syukron Makmun adalah narasi panjang tentang khidmah tanpa batas bagi umat. Sebagai ulama senior, kontribusinya di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) telah menorehkan tinta emas sejarah. Kiprah dan prinsip keteguhannya senantiasa menjadi teladan bagi generasi penerus.

Visi besarnya untuk mencetak generasi tafaqquh fiddin yang tangguh diwujudkan melalui jalur pendidikan. Ia mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta dan memimpinnya sejak tahun 1975. Artinya, lebih dari lima dekade ia mengabdi, melewati berbagai zaman, dari masa Orde Baru hingga era reformasi, dari masa sebelum internet hingga era kecerdasan buatan. Di tengah arus urbanisasi yang deras dan godaan modernitas, ia memilih bertahan pada jalur pendidikan pesantren. Pilihan itu bukan pilihan populer, tetapi dijalaninya dengan konsisten.

Lembaga pendidikan Islam yang diasuhnya dengan penuh kasih sayang dan disiplin ini kini bertransformasi menjadi oase ilmu di tengah riuhnya metropolitan Jakarta. Melalui rahim Daarul Rahman, ribuan alumni dan generasi santri telah lahir dan tersebar ke seluruh pelosok Nusantara, membawa nilai-nilai Islam yang ramah sekaligus tegas dalam memegang prinsip dasar syariat. Yang ditinggalkan KH Syukron Makmun bukan hanya bangunan, tetapi juga sistem, kader, dan nilai. Di situlah letak kebesaran seorang pemimpin: ia tidak diukur dari berapa lama memimpin, tetapi dari seberapa dalam nilai yang ditanamkan tetap hidup setelah ia pergi.

Jangkauan dakwahnya tidak pernah terkurung batas wilayah Jakarta. KH Syukron Makmun mengarungi samudra dakwah ke Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga melintasi batas negara menuju kawasan ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Ia adalah aset dunia Islam yang tak tergantikan.

Baca juga:
Masih Menjadi Misteri: Di Mana Aung San Suu Kyi? Tiga Tahun Tidak Terlihat

Nama “Syukron Makmun” sendiri menyimpan makna mendalam. Syukran berarti syukur, pengakuan atas karunia dan kerendahan hati di hadapan pemberi nikmat. Ma’mun berarti yang diberi keamanan, yang terpercaya, yang amanah. Dua kata itu tidak membentuk frasa Arab yang baku, tetapi justru menyimpan ruang tafsir luas: sebuah program hidup, bukan sekadar rangkaian kata. Sepanjang hidupnya, KH Syukron Makmun tampaknya menghidupi nama itu dengan cara yang tidak banyak orang sadari. Ia tidak sibuk menghitung apa yang belum dimiliki; ia sibuk memikirkan bagaimana memanfaatkan apa yang telah dititipkan.

Ucapan terima kasih disampaikan putra almarhum, KH Muhammad Faiz atau Gus Faiz, kepada masyarakat dan semua pihak, terutama para ulama sahabat orang tuanya, yang telah hadir mulai dari prosesi pemakaman hingga pelaksanaan tahlilan. Kehadiran mereka menjadi penghormatan terakhir bagi seorang ulama yang telah mendedikasikan hidupnya untuk umat.

Hingga saat ini, suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren Daarul Rahman. Ribuan jamaah dan santri terus berdatangan untuk mendoakan almarhum. KH Syukron Makmun telah pergi, tetapi warisan nilai, ketegasan, dan khidmahnya akan tetap hidup di tengah umat. Semoga Allah menerima seluruh amal shalihnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *