Dolar Singapura di Tengah Dinamika Ekonomi: Dari Safe Haven hingga Perampokan dan Kenaikan Upah

Dolar Singapura di Tengah Dinamika Ekonomi: Dari Safe Haven hingga Perampokan dan Kenaikan Upah
Dolar Singapura di Tengah Dinamika Ekonomi: Dari Safe Haven hingga Perampokan dan Kenaikan Upah

Sorothari – 25 Oktober 2026 | Dolar Singapura (SGD) kembali menjadi sorotan dalam sejumlah peristiwa ekonomi dan kriminal di kawasan Asia Tenggara. Mulai dari perannya sebagai mata uang safe haven yang stabil, keterkaitannya dengan pasokan gas Indonesia, hingga kasus perampokan toko emas di Jember yang melibatkan mata uang ini. Stabilitas dolar Singapura tidak lepas dari kebijakan moneter yang unik, di mana Monetary Authority of Singapore (MAS) menggunakan nilai tukar sebagai instrumen utama, bukan suku bunga. Kebijakan ini tercermin melalui Singapore dollar Nominal Effective Exchange Rate (S$NEER), yang mengelola nilai tukar terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama. Pendekatan ini membantu menekan harga barang impor, tetapi juga membawa konsekuensi bagi daya saing ekspor dan pasar properti.

Di sisi lain, Singapura baru-baru ini menghadapi pengurangan pasokan gas dari Indonesia sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari atau setara 17 miliar British Thermal Unit per Day (BBTUD) selama 18 hari. Juru bicara Energy Market Authority (EMA) menyatakan bahwa jumlah tersebut tidak sampai 2% dari total kebutuhan gas harian Singapura yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD. “EMA memahami bahwa para importir kami akan menempuh seluruh langkah yang tersedia dalam kontrak terkait gangguan pasokan gas tersebut,” kata juru bicara EMA. Singapura pun telah menyiapkan langkah antisipasi, dan pasokan energi masih mencukupi. Sekitar 95% kebutuhan listrik Singapura dipenuhi dari gas alam yang berasal dari pipa Indonesia dan Malaysia, serta LNG impor. Singapore GasCo disebut siap meningkatkan impor jika diperlukan.

Baca juga:
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.600 per Dolar AS

Sementara itu, di Jember, Jawa Timur, dua pelaku perampokan toko emas Murni di Jalan Sultan Agung Nomor 91, Kecamatan Kaliwates, membawa kabur uang dolar Singapura pecahan seratus dolar dengan total kerugian mencapai Rp300 juta. Aksi tersebut dilakukan pada Kamis (22/10/2026) pagi untuk melunasi utang judi online sebesar Rp80 juta. Pelaku, DBM dan DS, melukai pemilik toko Tan Liok Tun (72) dan anaknya Adi Kusuma (50) sebelum kabur. Polisi menangkap mereka dalam waktu kurang dari 24 jam saat hendak kabur ke Bali. “Mereka ditangkap dengan membawa uang dolar Singapura itu saat hendak kabur ke Bali,” ujar Kapolres Jember AKBP Alaiddin. Kasus ini bukan yang pertama terjadi di toko tersebut; perampokan serupa pernah terjadi pada 2022, namun tidak terkait.

Di ranah ketenagakerjaan, Dewan Pengupahan Nasional Singapura (NWC) merekomendasikan kenaikan gaji sebesar 6% hingga 8% bagi pekerja berpenghasilan rendah dengan gaji bulanan hingga 2.800 dolar Singapura atau sekitar Rp39 juta (kurs 1 dolar Singapura setara Rp14.147). Rekomendasi ini berlaku untuk periode Desember 2026 hingga November 2027 dan telah disetujui pemerintah, meski penerapannya bersifat imbauan. Presiden Federasi Pengusaha Nasional Singapura, Kuah Boon Wee, mengungkapkan bahwa sebagian perusahaan kesulitan memenuhi rekomendasi tahun sebelumnya. “Karena itulah kami membuat kategori yang diharapkan dapat meningkatkan tingkat penerapan rekomendasi ini,” kata Kuah. Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan hanya sekitar seperempat perusahaan yang menerapkan pedoman NWC secara penuh pada 2025, sementara sekitar 60% memberikan kenaikan gaji meski belum sesuai rekomendasi.

Baca juga:
Trade Expo Indonesia 2026: Target Transaksi Rp313 Triliun, Hilirisasi Jadi Kunci

Kembali ke dolar Singapura, mata uang ini memang dikenal stabil karena disiplin kebijakan moneter dan kredibilitas institusi. Namun, kekuatan SGD juga membawa risiko carry trade, gejolak global, dan tekanan terhadap eksportir. Sebagai ekonomi terbuka, Singapura rentan terhadap perlambatan global, ketegangan geopolitik, dan perubahan arus modal. MAS terus menjaga nilai tukar dalam rentang kebijakan yang ditetapkan. Bagi investor, stabilitas ini menawarkan peluang, tetapi juga perlu mewaspadai potensi pembalikan arus modal jika kondisi global berubah. Hingga saat ini, dolar Singapura tetap menjadi salah satu mata uang acuan penting di Asia, dengan segala keunggulan dan tantangannya.

Baca juga:
OJK Denda Rp2,1 Triliun Kasus Saham BREN, CUAN, dan DSSA, Rekor Terbesar Pasar Modal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *