Ekspor RI Digenjot lewat Hilirisasi Kratom dan LNG, Pemerintah Tegaskan Bukan Bahan Mentah

Ekspor RI Digenjot lewat Hilirisasi Kratom dan LNG, Pemerintah Tegaskan Bukan Bahan Mentah
Ekspor RI Digenjot lewat Hilirisasi Kratom dan LNG, Pemerintah Tegaskan Bukan Bahan Mentah

Sorothari – 28 Oktober 2026 | Kinerja ekspor Indonesia terus menjadi sorotan seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi dan penguatan nilai tambah komoditas. PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) memperkuat pengembangan bisnis obat berbahan alam melalui hilirisasi tanaman obat, dengan kratom sebagai salah satu fokus untuk pasar ekspor. Langkah itu diambil dengan mengoptimalkan fasilitas manufaktur yang dimiliki serta memperluas kolaborasi riset guna menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, mengatakan pengembangan obat berbahan alam membutuhkan sinergi antara industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah. Menurutnya, potensi biodiversitas Indonesia harus diolah menjadi produk yang memenuhi standar mutu dan berdaya saing di pasar global. Hal itu disampaikan Sahat dalam kegiatan Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Baca juga:
Prabowo Potong Rantai Pasok dan Efisiensi BUMN, Pupuk Indonesia Langsung Bekerja Maksimal

“Kami sebagai manufaktur yang melaksanakan hasil penelitian dan juga nanti yang mau ekspor produk itu karena izin ekspornya harus ada di Indofarma,” ujar Sahat dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Dalam forum bertema Unlocking Nature’s Code: Transforming Indonesian Biodiversity into High-Value Phytopharmaca through Technology Innovation tersebut, Indofarma menjadi salah satu penyelenggara bersama dalam diskusi mengenai hilirisasi biodiversitas. Perseroan berharap kolaborasi yang dibangun dapat segera diwujudkan menjadi kegiatan produksi.

Kratom Jadi Prioritas Hilirisasi

Sahat menjelaskan, kratom merupakan salah satu komoditas yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui teknologi pengolahan dan pemurnian. Selama ini, kratom masih banyak diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah dengan nilai jual relatif rendah. Sahat menyebut harga kratom mentah berada di kisaran US$3,5–4 per kilogram.

Melalui pengolahan dan pemurnian, nilai ekonominya berpotensi meningkat hingga berkali-kali lipat, bahkan mencapai sekitar 100 kali lipat dalam skenario yang disampaikan perseroan. Indofarma melihat peluang tersebut sebagai sumber pertumbuhan bisnis baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal, terutama yang tumbuh di sejumlah wilayah Kalimantan.

Strategi hilirisasi ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang ingin mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Menteri Perdagangan Busan disebut menyatakan bahwa kinerja ekspor RI tak lagi didominasi bahan mentah. Namun, pernyataan lengkap mengenai hal tersebut belum diuraikan dalam sumber yang tersedia.

Di sisi lain, pemerintah juga terus menata ekspor gas alam cair (LNG). Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyetujui ekspor LNG ke BP Singapore dan Shell Singapore. Persetujuan tersebut ditandatangani Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Baca juga:
Peran Morgan Stanley dalam Gebrakan AI OpenAI dan Rencana IPO Jumbo Altera

“Kemarin Bapak Menteri juga menandatangani untuk ekspor LNG-nya ke BP Singapore dan juga Shell Singapore ya,” kata Djoko dalam acara FEED Completion Ceremony INPEX di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, Selasa (27/10/2026).

Djoko menegaskan Indonesia tetap mengekspor LNG ke Singapura meskipun ada pengurangan pasokan gas pipa. “Meskipun kita mengurangi sedikit tapi kita ekspor tetap konsisten banyak ke Singapura ya,” ujarnya.

Pengurangan Gas Pipa dan Alokasi Domestik

Pemerintah memangkas sebagian ekspor gas pipa sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) ke Singapura. Jumlah itu setara sekitar 8% dari total volume ekspor sebesar 409,55 MMscfd untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan domestik serta pemeliharaan fasilitas.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan penyesuaian ekspor tersebut masih berada dalam batas minimum kontrak yang disepakati dengan negara pembeli. “31 yang kita potong sebagian itu masih dalam batas kontrak minimum. Batas kontrak minimum kita itu adalah sekitar 91 sampai 92,” ujar Bahlil dalam konferensi pers ketahanan energi di Kementerian ESDM, Senin (26/10/2026).

Bahlil juga telah menandatangani persetujuan alokasi gas untuk kebutuhan dalam negeri pada hari sebelumnya. Alokasi tersebut mencakup gas pipa untuk PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT PLN (Persero), serta LNG untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyerahkan evaluasi kebijakan ekspor gas ke Singapura kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Luhut menekankan Indonesia perlu mempertegas posisi nasionalnya di tingkat regional tanpa memicu perselisihan dengan Singapura.

Baca juga:
BSU 2026 Cair Kuartal IV, Cek Link Resmi bsu.kemnaker.go.id dan Syarat Penerima

“Enggak juga, saya kira. Pak Bahlil juga tadi saya bicara sama beliau, ya beliau menyampaikan ini saja concern-nya. Sebenarnya kita ngapain berkelahi sama Singapura, kan enggak ada juga,” ujar Luhut dalam konferensi pers di Kantor DEN, Selasa (27/10/2026).

Luhut menilai pemerintah wajib mengkaji persoalan ini secara teliti dan bijak demi mengamankan kepentingan nasional. Ia juga mengingatkan pentingnya mawas diri untuk terus membenahi berbagai sektor internal di dalam negeri. Ia berharap seluruh proses evaluasi kebijakan ekspor gas ini rampung dengan baik tanpa mencederai hubungan bilateral Indonesia dan Singapura.

Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas dijadwalkan berlangsung pada Forum Ekonomi Hulu Migas, Rabu (28/10/2026). Sementara itu, pengembangan hilirisasi kratom oleh Indofarma masih menunggu realisasi kolaborasi menjadi kegiatan produksi. Pemerintah dan pelaku usaha sama-sama menekankan pentingnya nilai tambah dalam ekspor agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *