Sorothari – 02 November 2026 | Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pandu Sjahrir, menjadi sorotan publik setelah terungkap memiliki 27,5 persen saham PT Supra Sekuritas Indonesia. Kepemilikan saham Pandu Sjahrir di perusahaan sekuritas tersebut tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui PT Asha Artha Sehati, perusahaan yang 99,99 persen sahamnya dikuasai olehnya. Kepemilikan itu tercatat sejak akhir tahun 2023. Sorotan semakin menguat karena Supra Sekuritas termasuk salah satu perusahaan sekuritas yang dikenai sanksi administratif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kasus manipulasi perdagangan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Menanggapi hal tersebut, Pandu Sjahrir memberikan klarifikasi resmi. Ia menegaskan bahwa investasinya di Supra Sekuritas bersifat pasif dan minoritas. “Investasi saya di Supra Sekuritas sepenuhnya bersifat minoritas dan pasif. Saya tidak pernah terlibat dalam jajaran direksi, komisaris, maupun manajemen harian yang mengurusi keputusan operasional perusahaan efek tersebut,” ujar Pandu dalam keterangan yang dikutip Jumat (30/10/2026). Ia juga menganalogikan kepemilikan sahamnya seperti seseorang yang memiliki saham bank melalui pasar modal, namun tidak serta-merta menjadi bagian dari manajemen bank tersebut. “Saya sama sekali tidak mengetahui, apalagi diuntungkan oleh aktivitas perdagangan ilegal yang dituduhkan,” tambahnya.
Baca juga:Pandu menyatakan dukungannya terhadap langkah penegakan hukum yang diambil OJK untuk membersihkan praktik curang di pasar keuangan domestik. Menurutnya, langkah tegas regulator sangat krusial, terlebih di tengah situasi sensitif ketika pelaku pasar modal sedang mencermati potensi evaluasi dan reklasifikasi status pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI Inc. Sebelumnya, OJK menjatuhkan sanksi kepada sejumlah pihak terkait manipulasi perdagangan saham DSSA, BREN, dan CUAN. Kepala Direktorat Komunikasi Publik OJK Sekar Putih Djarot mengungkapkan bahwa manipulasi saham DSSA dilakukan secara terencana dan terstruktur hingga menyebabkan harga saham melonjak signifikan.
Di sisi lain, Pandu Sjahrir juga menyoroti pentingnya investasi yang menyeimbangkan imbal hasil komersial dengan dampak strategis. Dalam keterangan pers yang dikutip di Jakarta, Rabu, ia menilai pengelolaan risiko berlapis dan disiplin keuangan diperlukan agar investasi berjalan berkelanjutan sekaligus mendukung agenda pembangunan ekonomi. “Setiap investasi perlu mempertimbangkan imbal hasil komersial dan dampak strategisnya, dengan tetap menerapkan pengelolaan risiko dan disiplin keuangan. Kami ingin memastikan investasi yang dijalankan dapat menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung pengembangan sektor-sektor strategis Indonesia,” ujar Pandu.
Baca juga:Pandu memaparkan sejumlah proyek strategis, salah satunya proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy) senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS. Penerbitan obligasi untuk proyek tersebut memperoleh permintaan hampir empat kali lipat dari nilai yang ditawarkan (oversubscribed), dengan sekitar 75 persen dari total permintaan berasal dari investor Amerika Serikat dan Eropa. Menurut Pandu, tingginya minat tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap proyek dan prospek pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Danantara Indonesia sendiri menargetkan investasi proyek industri strategis mencapai 20 hingga 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa menyebut Danantara menyiapkan lebih dari 40 proyek strategis dalam kerangka pengembangan lima tahun ke depan. Sejumlah proyek tersebut sedang melalui proses studi kelayakan (feasibility study/FS) dan dapat dilanjutkan ke tahap perancangan teknik awal (front-end engineering design/FEED) sesuai kebutuhan.
Sebagai informasi, Pandu Sjahrir juga pernah menyoroti masih banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki kinerja profitabilitas menarik. Dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 61 perusahaan memiliki return on equity (ROE) di atas 15 persen. Ia juga menyinggung saham perbankan dan konsumsi yang memiliki ROE sekitar 20 persen, tetapi diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) di bawah 10 kali. Hingga saat ini, OJK belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut mengenai keterkaitan Supra Sekuritas dengan kasus manipulasi saham DSSA, dan proses hukum masih berjalan.
Baca juga:











