Sorothari – 01 November 2026 | Peta kekuatan IHSG saham Indonesia akan berubah mulai perdagangan Senin, 2 November 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengeluarkan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan. Langkah ini bukan sekadar mengurangi jumlah konstituen indeks, tetapi juga menggeser komposisi bobot saham-saham besar, terutama perbankan, yang diproyeksikan semakin menentukan arah pergerakan IHSG ke depan.
Berdasarkan estimasi BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat, 30 Oktober 2026, bobot PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan meningkat dari 8,75 persen menjadi 9 persen. Bobot PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik dari 7,93 persen menjadi 9 persen, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) meningkat dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen. PT Astra International Tbk (ASII) juga diperkirakan memperoleh kenaikan bobot dari 3,35 persen menjadi 4,15 persen.
Baca juga:Dengan perubahan tersebut, bobot gabungan empat saham bank besar atau big four banks meningkat dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen. Artinya, lebih dari seperempat pergerakan IHSG akan semakin terkonsentrasi pada empat saham perbankan tersebut. Sebelumnya, saham-saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan indeks menyumbang sekitar 18 persen terhadap IHSG.
Uji Coba BEI dan Tujuan Perubahan
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG tidak akan menyebabkan lonjakan pergerakan indeks. Hal tersebut berdasarkan hasil pengujian historis atau backtest yang telah dilakukan bursa. Menurut dia, penghapusan saham-saham HSC justru berpotensi meningkatkan kredibilitas IHSG sebagai acuan investasi bagi para investor.
“Bobot saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan indeks akan didistribusikan kembali kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG,” ujar Jeffrey dalam keterangan resminya. Dengan mekanisme tersebut, penghapusan saham HSC tidak serta-merta membuat indeks mengalami penurunan tajam. Tujuan utama kebijakan ini adalah memperbaiki transparansi struktur kepemilikan saham dan meningkatkan kredibilitas pengukuran free float di pasar modal Indonesia.
Simulasi IHSG Tanpa Saham HSC
Simulasi Samuel Sekuritas Indonesia menunjukkan, secara matematis IHSG berpotensi mencapai level 6.120 apabila saham-saham HSC dikeluarkan dari perhitungan. Level tersebut lebih tinggi 21 persen dari posisi IHSG pada Jumat, 30 Oktober 2026, di level 5.057. Selain menghasilkan level IHSG yang lebih tinggi, pengeluaran saham HSC juga diperkirakan membuat valuasi IHSG menjadi lebih rendah.
Rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) IHSG berpotensi turun dari 12,4 kali menjadi 9,8 kali. Penurunan sebesar 21 persen tersebut menunjukkan bahwa IHSG secara perhitungan memiliki valuasi lebih rendah setelah saham HSC dikeluarkan dari komposisi indeks. Namun, perubahan komposisi tersebut akan meningkatkan konsentrasi bobot sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Menurut perhitungan Samuel Sekuritas, akumulasi bobot 10 saham terbesar dalam IHSG akan meningkat dari 41,1 persen menjadi 48,06 persen atau bertambah 695 basis poin. Perhitungan tersebut telah memperhitungkan batas maksimal bobot setiap saham sebesar 9 persen. Sementara itu, total bobot 45 saham terbesar diperkirakan mencapai 75,69 persen dari keseluruhan indeks. Kondisi ini menunjukkan pergerakan IHSG akan semakin dipengaruhi oleh saham-saham dengan bobot terbesar setelah penyesuaian komposisi.
Baca juga:Kendati demikian, level 6.120 merupakan hasil simulasi perubahan komposisi indeks, bukan proyeksi kenaikan IHSG melalui aktivitas perdagangan saham. Samuel Sekuritas menegaskan bahwa angka tersebut adalah gambaran matematis dari bobot baru, bukan ramalan arah pasar.
Risiko Eksternal: Status MSCI dan Arus Modal Asing
Di sisi lain, IHSG saham berpotensi menghadapi tekanan jual apabila Morgan Stanley Capital International (MSCI) benar-benar menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menuturkan, perubahan klasifikasi tersebut berisiko memicu arus keluar dana investor asing dari pasar saham domestik.
“Risiko akan semakin besar jika Indonesia benar-benar diturunkan dari klasifikasi emerging market menjadi standalone market,” kata Hendra kepada Liputan6.com, Sabtu, 31 Oktober 2026. Sejumlah estimasi yang beredar menyebut potensi penjualan terkait perubahan klasifikasi itu dapat mencapai US$ 4 miliar hingga US$ 5,5 miliar, setara sekitar Rp 72,7 triliun hingga Rp 99,9 triliun dengan asumsi kurs Rp 18.164 per dolar AS.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi, bukan kepastian dana yang akan keluar dari pasar modal Indonesia. “Angka ini tidak dapat dijumlahkan begitu saja karena cakupan perhitungannya dapat berbeda,” ujarnya. Menurut Hendra, besarnya dampak terhadap IHSG akan bergantung pada keputusan final MSCI, komposisi portofolio investor, serta waktu penyesuaian indeks yang dilakukan para pelaku pasar.
“Jika penjualan terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, tekanan terhadap indeks berpotensi signifikan,” kata Hendra. Meski demikian, perubahan klasifikasi tidak berarti seluruh investor asing akan keluar dari Indonesia karena sebagian investor tetap dapat berinvestasi berdasarkan fundamental dan valuasi.
Strategi Investor Menghadapi Dinamika IHSG
Di tengah perubahan komposisi indeks dan ketidakpastian eksternal, investor perlu mencermati sejumlah analisis sebelum membeli saham saat IHSG berada di zona merah. Penurunan harga saham tidak otomatis berarti saham tersebut murah. Investor perlu menilai apakah koreksi berasal dari sentimen sementara atau pelemahan bisnis yang mendasar.
Baca juga:Analisis fundamental menjadi langkah awal untuk mengetahui apakah perusahaan masih memiliki kondisi bisnis yang sehat ketika pasar saham mengalami tekanan. Investor dapat memperhatikan pertumbuhan pendapatan, laba bersih, margin keuntungan, serta kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja operasionalnya. Jika harga saham turun akibat sentimen pasar sementara kinerja bisnis tetap stabil, kondisi tersebut bisa menjadi peluang untuk mempertimbangkan investasi dengan lebih rasional.
Selain itu, investor perlu membandingkan harga pasar dengan nilai perusahaan melalui rasio valuasi seperti PER dan PBV. Kedua indikator tersebut memberikan gambaran mengenai seberapa tinggi pasar menghargai laba dan nilai buku perusahaan. Namun, rasio valuasi sebaiknya tidak digunakan secara terpisah karena setiap sektor memiliki karakteristik dan standar penilaian yang berbeda.
Kondisi keuangan perusahaan juga perlu diperiksa lebih dalam. Laba bersih yang positif belum tentu menunjukkan kemampuan menghasilkan kas yang kuat. Investor dapat memperhatikan arus kas operasional untuk mengetahui apakah kegiatan utama perusahaan mampu menghasilkan uang secara konsisten. Tingkat utang juga menjadi faktor penting ketika kondisi pasar sedang bergejolak. Perusahaan dengan beban bunga tinggi berpotensi menghadapi tekanan lebih besar ketika suku bunga meningkat atau pendapatan mengalami penurunan.
Faktor makro seperti kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan Federal Reserve, inflasi, nilai tukar rupiah, serta arus modal asing dapat memengaruhi minat investor terhadap pasar saham domestik. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung lebih berhati-hati sehingga tekanan jual dapat meluas ke berbagai sektor meskipun sebagian emiten masih memiliki fundamental yang baik.
Dengan keluarnya 81 saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026, pasar akan menyaksikan babak baru di mana saham-saham perbankan besar semakin mendominasi. Investor disarankan mencermati perkembangan keputusan MSCI dan dinamika arus modal asing, sambil tetap berpegang pada analisis fundamental dan valuasi dalam setiap keputusan investasi.












