Sorothari – 07 November 2026 | Miami Heat kembali menjadi sorotan setelah mantan pelatih mereka, Stan Van Gundy, melontarkan kritik tajam terhadap konsistensi tim tersebut. Menurut Van Gundy, Miami Heat tidak lagi menjadi tim yang istimewa sejak berakhirnya era Big Three pada 2014. Kritik itu disampaikan Van Gundy saat tampil dalam acara Run It Back, seperti dikutip dari berbagai sumber.
Van Gundy menilai pencapaian Miami Heat di babak playoff justru menutupi performa biasa-biasa saja di musim reguler. Ia menyoroti bagaimana tim asuhan Erik Spoelstra beberapa kali mampu membuat kejutan, tetapi tidak konsisten menjadi kekuatan utama di Wilayah Timur. “Tim ini sebenarnya pernah mencatatkan beberapa pencapaian mengejutkan di babak playoff. Namun, hal itu justru menutupi fakta bahwa sejak era Big Three berakhir, mereka merupakan tim yang terbilang biasa-biasa (medioker),” ucap Van Gundy.
Baca juga:Dalam analisisnya, Van Gundy menyinggung dua perjalanan Miami Heat hingga Final NBA. Pertama, Heat mencapai Final NBA 2020 dalam sistem gelembung di Orlando. Kedua, mereka kembali menembus Final NBA 2023 setelah memulai playoff sebagai unggulan kedelapan melalui jalur play-in. Namun, dua final tersebut tidak berakhir manis. Pada Final NBA 2020, Heat kalah dari Los Angeles Lakers dengan skor 4-1. Setelah itu, mereka kembali tumbang di Final NBA 2023 melawan Denver Nuggets dalam lima pertandingan.
“Pencapaian-pencapaian tersebut seolah menutupi kenyataan bahwa mereka sebenarnya sudah tidak menjadi tim hebat sejak cukup lama,” kata Van Gundy, yang pernah menjadi kepala pelatih Heat pada 2003-2005. Menurutnya, pencapaian itu membuat publik melupakan bahwa Heat sudah cukup lama tidak benar-benar menjadi tim dominan, terutama setelah berakhirnya era Big Three yang dipimpin LeBron James.
Statistik juga memberikan gambaran mengenai penilaian Van Gundy. Sejak kepergian LeBron pada 2014, Miami Heat hanya sekali membukukan setidaknya 50 kemenangan dalam satu musim reguler. Catatan terbaik itu terjadi pada musim 2021-2022 ketika Heat finis dengan rekor 53-29 dan menjadi unggulan pertama Wilayah Timur. Namun, setelah itu, performa mereka di musim reguler cenderung naik-turun.
Baca juga:Kritik Van Gundy muncul di tengah dinamika baru yang melanda Miami Heat pada awal musim 2026/2027. Tim ini baru saja melakukan perombakan besar dengan menukar Tyler Herro ke Milwaukee Bucks untuk mendapatkan Giannis Antetokounmpo. Menurut laporan, keputusan tersebut diambil untuk meningkatkan daya saing tim di Wilayah Timur yang semakin kompetitif. Namun, proses integrasi Antetokounmpo ke dalam sistem permainan Heat tidak berjalan mulus.
Laporan juga menyebutkan adanya insiden fisik antara Bam Adebayo dan Tyler Herro di Las Vegas yang dipicu perselisihan media sosial. Meski demikian, Adebayo tetap menjadi pusat perhatian Miami Heat. Ia mencatat 35 poin dan 10 rebound saat melawan Los Angeles Clippers, serta 25 poin dan 10 rebound ketika menghadapi Atlanta Hawks. Heat juga tengah berupaya mengintegrasikan rookie Pelle Larsson ke dalam rotasi baru mereka.
Di sisi lain, Giannis Antetokounmpo menunjukkan tanda-tanda frustrasi. Setelah kekalahan Miami Heat dari Golden State Warriors, ia memilih menghindari media dan tidak memberikan komentar. Menurut laporan jurnalis Sam Amick, sikap tersebut mencerminkan ketegangan yang mulai muncul di dalam tim. Kekalahan dari Warriors sendiri ditandai dengan penampilan gemilang Stephen Curry yang mencetak 29 poin, serta kontribusi Yaxel Lendeborg dengan 17 poin dan enam assist.
Baca juga:Meski demikian, Miami Heat masih memiliki waktu untuk memperbaiki performa. Dengan komposisi pemain yang ada, termasuk kehadiran Antetokounmpo dan Adebayo, tim ini diharapkan mampu kembali bersaing di papan atas Wilayah Timur. Namun, kritik Van Gundy menjadi pengingat bahwa konsistensi di musim reguler tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.












