Sorothari – 02 November 2026 | Harga BTC pada perdagangan Senin (2/11/2026) pagi tercatat menguat 0,75% ke level US$77.980,71 per koin atau sekitar Rp1,41 miliar dengan asumsi kurs Rp18.127 per dolar AS. Meski demikian, kenaikan tersebut belum mampu menutup kinerja negatif sepanjang Oktober 2026 yang membuat BTC gagal mengikuti pola musiman Uptober. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan pada saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) serta berlanjutnya penurunan aktivitas jaringan Bitcoin berdasarkan data on-chain terbaru.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.25 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 0,38% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,61 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar juga terkerek 0,49%. Ethereum (ETH) menanjak 0,59% ke US$2.265, sedangkan Binance Coin (BNB) menguat 0,96% menjadi US$708. Namun, penguatan harian itu tidak menghapus fakta bahwa BTC kehilangan sekitar 7% sepanjang Oktober 2026, menurut data TradingView.
Baca juga:Kegagalan BTC mencetak Uptober menjadi perhatian pasar karena pola historis sebelumnya menunjukkan bulan Oktober cenderung positif. Data historis mencatat BTC membukukan kenaikan dalam 10 dari 13 periode Oktober hingga 2025, dengan median kenaikan mendekati 15%. Akan tetapi, Oktober 2025 juga berakhir dengan penurunan. Dengan demikian, BTC kini mencatat dua kali penurunan berturut-turut pada Oktober 2025 dan Oktober 2026.
Tekanan dari Saham AI dan Korelasi yang Terputus
Tekanan terhadap BTC terjadi seiring melemahnya saham-saham teknologi berbasis AI. Kontrak berjangka minyak justru menguat ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury turun. Pergerakan tersebut memutus korelasi sekitar 80% yang terbentuk sepanjang tahun ini. Jeffrey Rosenberg, senior portfolio manager BlackRock, menilai pelemahan saham AI menjadi faktor penting di balik perubahan sentimen pasar. Saham kelompok Magnificent Seven yang berisi perusahaan-perusahaan besar AS terkait AI mengalami tekanan sepanjang Oktober.
“Dalam pandangan pasar, risiko geopolitik berada di urutan kedua setelah risiko AI,” ujar Rosenberg dalam wawancara dengan CNBC. Menurut dia, pasar kini membaca pelemahan saham AI sebagai sinyal peringatan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS. Kondisi tersebut turut menekan imbal hasil obligasi, meskipun harga minyak meningkat.
Di sisi lain, data on-chain menunjukkan aktivitas jaringan Bitcoin melemah. Analis on-chain Axel Adler Jr. menyebutkan bahwa hingga 1 November 2026, rata-rata 30 hari jumlah alamat aktif Bitcoin berada di 629.000, turun 43% dari puncak 1,1 juta pada Desember 2024. Angka itu juga sekitar 10% di bawah rata-rata tahunan sebesar 702.000. Adler mencatat pada periode yang sama 2018, indikator serupa pernah turun 50% dalam tiga bulan, sedangkan penurunan kali ini berlangsung hampir dua tahun dengan laju yang relatif lebih lambat.
Baca juga:Meski alamat aktif menyusut, volume transfer harian BTC masih relatif tinggi. Rata-rata 30 hari volume transfer harian tercatat 819.000 BTC, turun 5,4% dari Desember 2024, tetapi masih sekitar 5,5% di atas rata-rata tahunan. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun jumlah alamat aktif menurun signifikan, skala transfer on-chain tidak menyusut sebesar itu. Kedua indikator terbaru sama-sama melemah sehingga belum ada tanda pemulihan aktivitas jaringan yang berkelanjutan.
Arus Aset di Bursa dan Latar Politik
Dari sisi bursa, data proof-of-reserves Binance per 31 Oktober 2026 menunjukkan saldo BTC pengguna naik 0,52% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 692.200 BTC, atau bertambah 3.614 BTC. Sebaliknya, saldo ETH turun 3,80% menjadi sekitar 3.654.900 ETH, USDT turun 7,95% menjadi sekitar US$29,48 miliar, dan BNB turun 0,93% menjadi sekitar 42,638 juta BNB. Binance sempat menghentikan sementara penarikan pada 30 Oktober 2026 akibat insiden keamanan dan menyatakan akan memperbarui laporan proof-of-reserves setelah insiden ditangani. Pada 1 November 2026, Binance mengumumkan telah menutup sekitar 95% aset yang terdampak insiden keamanan dan mulai membuka kembali penarikan secara bertahap untuk sejumlah aset dan jaringan. Snapshot 31 Oktober 2026 belum mencerminkan perubahan saldo setelah penarikan dibuka kembali.
Sentimen pasar juga dipengaruhi agenda politik Amerika Serikat. Pemilihan tengah periode (midterm) dijadwalkan pada 3 November 2026. Kajian HTX menunjukkan pola historis bahwa BTC cenderung lemah pada tahun pemilihan dan kembali menguat pada 12 bulan setelahnya. Pada tiga midterm sebelumnya, BTC tercatat naik sekitar 24,5% (2014), 44,9% (2018), dan 92,3% (2022) dalam 12 bulan setelah pemilihan. Namun, pada tahun pemilihan itu sendiri, BTC mengalami penurunan tahunan sekitar 56% (2014), 73% (2018), dan 64% (2022). Kinerja kuartal keempat tahun pemilihan juga negatif, masing-masing sekitar -16,7%, -42%, dan -14,8%.
Menurut kajian yang sama, titik terendah pasar sering muncul di sekitar periode pemilihan, yakni sekitar 71 hari setelah midterm 2014, 38 hari setelah 2018, dan 13 hari setelah 2022. Volatilitas jangka pendek bisa lebih tajam, seperti pada 2018 ketika BTC anjlok sekitar 45,5% dalam sebulan setelah pemilihan sebelum akhirnya berangsur pulih. Kajian itu juga mengingatkan bahwa siklus midterm berimpit dengan siklus empat tahunan BTC, sehingga faktor likuiditas makro dan posisi siklus dinilai lebih berpengaruh dibandingkan peristiwa pemilihan itu sendiri. Dengan sampel historis yang terbatas, pola tersebut tidak disarankan untuk diekstrapolasi secara linear.
Baca juga:Pada midterm 2026, seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan 35 kursi Senat diperebutkan, ditambah sejumlah posisi gubernur. Partai Republik saat ini menguasai kedua kamar dengan selisih tipis, sekitar 218-214 di DPR dan 53-47 di Senat. Namun, tingkat dukungan terhadap Presiden Donald Trump dilaporkan berada di kisaran 32%, level terendah dalam sejarah, seiring ketidakpuasan pemilih terhadap inflasi, perang Iran, dan kebijakan tarif. Survei umumnya menunjukkan Partai Demokrat unggul secara nasional, dengan model prediksi menempatkan peluang besar bagi Demokrat untuk merebut DPR, sementara Senat masih kompetitif. Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas, meski pola historis menunjukkan partai penguasa sering kehilangan kursi pada midterm.
Hingga saat ini, pasar masih mencermati kombinasi antara tekanan eksternal dari saham AI, pelemahan indikator on-chain BTC, dan ketidakpastian politik menjelang midterm. Perkembangan lanjutan akan bergantung pada reaksi pasar terhadap hasil pemilihan serta apakah aktivitas jaringan Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah periode penurunan yang panjang.












