Sorothari – 08 November 2026 | Harga bitcoin kembali menjadi sorotan pasar aset kripto setelah anjlok ke level US$76.000 pada perdagangan Jumat, 6 November 2026. Pelemahan tersebut terjadi di tengah gelombang aksi jual saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di Wall Street, yang menekan minat investor terhadap aset berisiko. Di sisi lain, langkah dua perusahaan besar Amerika Serikat, Strategy dan Coinbase, yang menambah kepemilikan bitcoin menunjukkan bahwa aset digital ini masih diperhitungkan dalam strategi keuangan korporasi.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.45 WIB, harga bitcoin ambrol 5,35 persen menjadi US$76.278,67 per koin, setara sekitar Rp1,38 miliar dengan asumsi kurs Rp18.103 per dolar AS. Kapitalisasi pasar kripto global ikut ambles 5,23 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,55 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar jeblok 5,8 persen.
Baca juga:Tekanan tidak hanya dialami bitcoin. Ethereum (ETH) ambrol 7,54 persen ke US$2.244, sedangkan Binance Coin (BNB) turun 3,52 persen menjadi US$694. Penurunan ini memperlihatkan sentimen negatif yang menyebar ke hampir seluruh pasar aset digital.
Pemicu: Aksi Jual Saham Teknologi dan AI
Mengutip laporan CoinTelegraph, tekanan terhadap bitcoin terjadi bersamaan dengan aksi jual tajam saham-saham teknologi dan AI di bursa AS. Reli pasar setelah pemilu paruh waktu AS dengan cepat berbalik arah ketika investor kembali mengkhawatirkan prospek belanja infrastruktur AI.
Bursa AS mengalami salah satu sesi perdagangan terburuk sejak pengumuman tarif Presiden AS Donald Trump pada April 2025. Indeks Nasdaq anjlok 5,5 persen, S&P 500 merosot 4,3 persen, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 3,4 persen. Tekanan paling besar terjadi pada saham teknologi. Nasdaq 100 yang memiliki konsentrasi saham teknologi lebih tinggi jatuh 6,4 persen, sementara Philadelphia Semiconductor Index (SOX) terjun 12 persen, menjadi penurunan terburuk sejak Maret 2020.
Investor mencermati potensi melambatnya pembangunan pusat data yang menopang industri AI. Kekhawatiran itu meningkat setelah hasil pemilu paruh waktu AS memberikan kendali atas kedua kamar Kongres kepada Partai Demokrat, sehingga muncul kekhawatiran bahwa oposisi politik dapat menghambat ekspansi pusat data. Kondisi tersebut turut memengaruhi perusahaan penambang bitcoin yang semakin bergantung pada bisnis infrastruktur pusat data.
Kepala Bersama Pasar Global FalconX Joshua Lim mengatakan tekanan jual kembali muncul seiring meningkatnya perhatian investor terhadap dampak perlambatan pembangunan pusat data.
Strategy dan Coinbase Tetap Menambah Kepemilikan
Di tengah tekanan pasar, dua perusahaan asal Amerika Serikat, Strategy dan Coinbase, tercatat menambah kepemilikan bitcoin sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset mereka. Mengutip laporan Bareksa pada Sabtu, 7 November 2026, Strategy membeli 811 bitcoin senilai sekitar US$65,5 juta dengan harga rata-rata US$80.846 per koin pada Rabu, 4 November 2026. Setelah transaksi tersebut, total kepemilikan bitcoin Strategy mencapai 849.327 BTC.
Baca juga:Sementara itu, Coinbase meningkatkan cadangan bitcoin hingga mencapai 18.000 BTC. Penambahan kepemilikan oleh kedua perusahaan ini memperlihatkan besarnya perhatian korporasi terhadap aset digital tersebut.
Strategi menyimpan bitcoin sebagai bagian dari aset perusahaan dikenal dengan istilah Bitcoin Treasury. Dalam praktiknya, perusahaan mengalokasikan sebagian modal untuk membeli dan menyimpan bitcoin sebagai salah satu bentuk pengelolaan aset. Strategy menjadi salah satu perusahaan yang dikenal menerapkan pendekatan tersebut dan menjadikan bitcoin sebagai bagian utama dari strategi pengelolaan modalnya. Adapun Coinbase merupakan perusahaan yang bergerak di bidang layanan aset kripto dan memiliki cadangan bitcoin sebagai bagian dari pengelolaan aset perusahaan.
Salah satu alasan bitcoin menarik perhatian perusahaan adalah jumlah pasokannya yang terbatas. Berdasarkan protokolnya, jumlah bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin. Keterbatasan tersebut membuat sebagian investor melihat bitcoin sebagai aset digital yang berpotensi memiliki nilai dalam jangka panjang. Selain itu, kepemilikan bitcoin juga dapat menjadi bentuk diversifikasi aset, sehingga perusahaan tidak hanya mengandalkan uang tunai atau instrumen keuangan konvensional.
Pemulihan Sempat Terjadi Sebelum Koreksi
Sebelum koreksi pada Jumat, harga bitcoin sempat menembus level US$80 ribu. Berdasarkan data CoinMarketCap pada 5 November 2026, aset kripto terbesar tersebut diperdagangkan di kisaran US$80.500 hingga US$80.700, atau menguat lebih dari enam persen dalam 24 jam. Penguatan itu menjadi sinyal pemulihan sentimen pasar kripto di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai kenaikan harga bitcoin saat itu menunjukkan mulai membaiknya minat pelaku pasar setelah melewati periode ketidakpastian. “Penguatan ini menjadi perkembangan positif karena menunjukkan pasar mulai merespons kejelasan situasi global. Kami melihat adanya momentum pemulihan, tetapi kenaikan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan arah pasar dalam jangka panjang. Investor tetap perlu memperhatikan likuiditas dan perkembangan data ekonomi,” jelas Aloysia dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 November 2026.
Dari sisi global, pergerakan bitcoin berlangsung ketika pelaku pasar mencermati hasil pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Perubahan komposisi politik setelah kemenangan Partai Demokrat AS menjadi salah satu perhatian investor dalam menilai arah kebijakan ekonomi dan regulasi ke depan. Perkembangan politik tersebut juga dikaitkan dengan kebijakan pengendalian inflasi dan suku bunga, serta pengaruhnya terhadap minat investor pada aset berisiko, termasuk bitcoin.
Baca juga:Selain itu, pelaku pasar memantau kelanjutan pembahasan regulasi aset kripto di AS, termasuk CLARITY Act serta usulan mengenai pembagian kewenangan pengawasan Securities and Exchange Commission (SEC) dan penguatan perlindungan investor. Pembahasan regulasi tersebut masih berlangsung sehingga bentuk akhir aturan dan dampaknya terhadap industri kripto belum dapat dipastikan. Agenda ekonomi AS berikutnya yang menjadi perhatian adalah laporan ketenagakerjaan, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Investor Kripto Indonesia Capai 23,48 Juta
Di dalam negeri, partisipasi masyarakat dalam ekosistem aset kripto juga menunjukkan perkembangan. Berdasarkan data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor kripto mencapai sekitar 23,48 juta pada September 2026, tumbuh sekitar 1,16 persen. Nilai transaksi kripto pada September 2026 tercatat sebesar Rp30,56 triliun, meningkat sekitar 31,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya. OJK juga mendorong pengembangan aset keuangan digital dan aset kripto syariah agar memberikan manfaat ekonomi serta meningkatkan kepercayaan masyarakat, dengan dukungan transparansi transaksi, tata kelola, pengawasan, peningkatan literasi, dan perlindungan konsumen.
Aloysia menilai pertumbuhan aktivitas pasar perlu diimbangi peningkatan pemahaman masyarakat agar investor dapat menyikapi pergerakan harga secara rasional. “Pertumbuhan partisipasi masyarakat perlu diikuti pemahaman yang semakin baik. Momentum pemulihan sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi, bukan alasan mengambil keputusan karena takut tertinggal (FOMO). Investor perlu melakukan riset mandiri, memahami aset yang dipilih, dan mengatur alokasi sesuai kemampuan menanggung risiko,” tambahnya.
Di tengah dinamika harga bitcoin, investor diingatkan untuk tetap menerapkan strategi investasi yang terukur, salah satunya melalui pembelian berkala atau investasi rutin dengan alokasi dana sesuai kondisi finansial dan kemampuan menanggung risiko. Investor juga disarankan menggunakan dana di luar kebutuhan pokok dan dana darurat, serta melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
Hingga saat ini, pasar masih mencermati perkembangan data ekonomi dan kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai faktor yang memengaruhi arah harga bitcoin. Selain itu, kelanjutan pembahasan regulasi aset kripto di AS dan dampak perlambatan pembangunan pusat data AI menjadi variabel yang akan menentukan sentimen investor dalam beberapa waktu ke depan.












