Gerakan Kecoak Bubarkan Menteri Pendidikan India, Pukulan Telak bagi Modi

Gerakan Kecoak Bubarkan Menteri Pendidikan India, Pukulan Telak bagi Modi
Gerakan Kecoak Bubarkan Menteri Pendidikan India, Pukulan Telak bagi Modi

Sorothari – 28 Juli 2026 | Saat para ‘kecoak’ goyang kekuasaan Narendra Modi, gerakan Cockroach Janta Party (CJP) berhasil memaksa Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mundur dari jabatannya pada 25 Juli 2026. Langkah ini diumumkan Pradhan melalui akun media sosial X, hanya beberapa jam sebelum perwakilan pemerintah dijadwalkan menggelar negosiasi putaran ketiga dengan kelompok mahasiswa. Keputusan tersebut menjadi pukulan telak bagi Perdana Menteri Narendra Modi, yang selama berminggu-minggu berusaha meredam gelombang protes terbesar dalam 12 tahun masa kekuasaannya.

Aksi yang dipimpin CJP ini dipicu oleh skandal kebocoran soal ujian nasional yang meluas. Kebocoran tersebut mempengaruhi ujian masuk program kedokteran (NEET) yang diikuti oleh 2,2 juta siswa. Pemerintah terpaksa membatalkan dan mengadakan ujian ulang, memicu kepanikan dan depresi di kalangan pelajar. Menurut laporan BBC, sedikitnya 20 kasus bunuh diri terjadi di berbagai kota seperti Mumbai, Bengaluru, dan Patna sepanjang Mei dan Juni 2026.

Baca juga:
15 Rekan Kuliah Jokowi Siap Bersaksi di Sidang Roy Suryo dan dr Tifa, Bantah Tudingan Ijazah Palsu

Gerakan ini berawal dari komentar hakim agung yang menyebut para penganggur dan aktivis media sosial sebagai “kecoak dan parasit”. Kelompok mahasiswa membalik ejekan tersebut menjadi lencana kehormatan dan mendirikan Cockroach Janta Party, sebuah parodi dari Bharatiya Janata Party (BJP) milik Modi. Dipimpin oleh alumnus Boston University, Abhijeet Dipke, CJP dengan cepat merebut perhatian publik melalui media sosial, menghasilkan jutaan meme dan video pendek yang mengejek pemerintah.

Demonstrasi massal terjadi di Jantar Mantar, New Delhi, dan meluas ke kota-kota lain, termasuk daerah yang dikuasai BJP. Puluhan ribu anak muda memadati lokasi aksi, menuntut keadilan dan pengunduran diri Menteri Pradhan. Otoritas keamanan India merespons dengan gas air mata, pukulan tongkat, pemutusan jaringan internet seluler, dan penutupan 17 stasiun MRT di pusat ibu kota. Aksi longmarch menuju Gedung Parlemen pada 20 Juli 2026 dibubarkan secara paksa.

Baca juga:
Menag Nasaruddin Ikuti PMKNU di Gresik, Dinobatkan Jadi Peserta Paling Rajin

Meskipun Modi sempat berjanji membentuk pengadilan jalur cepat untuk mengadili pembocor soal, tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh CJP. Aktivis Sonam Wangchuk mengakhiri mogok makan selama 26 hari setelah pengunduran diri Pradhan, namun gerakan mahasiswa memperluas tuntutan mereka menjadi reformasi total sistem hukum, pembebasan demonstran yang ditahan, dan kompensasi penuh bagi keluarga korban.

Pengunduran diri Pradhan disambut gembira oleh para pendukung CJP. Dalam pernyataannya, ia menyatakan tidak ingin situasi dimanfaatkan oleh “kekuatan anti-nasional”. Namun, gerakan ini tidak berhenti. Abhijeet Dipke menegaskan, “Ini bukan akhir. Kami akan bertemu lagi segera.” Ribuan anak muda masih bertahan di tenda-tenda kamp pendudukan di Jantar Mantar, siap melanjutkan perjuangan.

Baca juga:
Menlu Iran Abbas Araghchi Cerita Detik-Detik Hampir Tewas Bersama Khamenei dalam Serangan AS-Israel

Analis menilai peristiwa ini menunjukkan kerapuhan pemerintahan Modi yang selama ini dianggap kebal hukum. Guncangan dari gerakan kecoak ini menjadi alarm bagi rezim nasionalis Hindu bahwa generasi muda India tidak akan tinggal diam ketika hak-hak mereka diabaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *