Oman Usulkan Hormuz Dikelola Bersama Iran dan Negara-Negara Teluk

Oman Usulkan Hormuz Dikelola Bersama Iran dan Negara-Negara Teluk
Oman Usulkan Hormuz Dikelola Bersama Iran dan Negara-Negara Teluk

Sorothari – 29 Juli 2026 | Oman mengusulkan agar Selat Hormuz dikelola bersama oleh Iran dan negara-negara Teluk dalam sebuah mekanisme regional yang bertujuan menjaga stabilitas jalur pelayaran strategis tersebut. Proposal ini muncul di tengah upaya diplomasi intensif yang dilakukan Iran untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat dan memulihkan keamanan di perairan yang menjadi jalur utama pasokan energi global.

Berdasarkan sumber di kawasan Teluk, Oman mengajukan pembentukan konsorsium regional yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk lainnya. Konsorsium ini akan mengelola lalu lintas maritim di Selat Hormuz dengan menyediakan layanan pengamanan bagi kapal-kapal yang melintas. Tidak ada biaya tol yang dikenakan, namun kapal-kapal akan membayar biaya layanan sukarela untuk mendanai perlindungan lingkungan, navigasi, serta operasi pencarian dan penyelamatan. Model ini terinspirasi dari sistem yang diterapkan di Selat Malaka, di mana pengguna selat berkontribusi secara sukarela.

Baca juga:
JD Vance Bongkar Borok Zionis Israel: Ada Upaya Dorong AS Terus Berperang dengan Iran

Dalam proposal tersebut, Oman mengusulkan tiga jalur pelayaran: satu melintasi perairan wilayah Iran, satu jalur internasional, dan satu jalur melalui perairan Oman. Jika disepakati, Iran akan bertanggung jawab atas pembersihan ranjau, khususnya di jalur internasional. Tim negosiasi teknis masih merundingkan detail kesepakatan ini.

Usulan Oman ini didorong oleh situasi keamanan yang tidak stabil di Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Sejak 11 Juli, terjadi eskalasi militer yang dimulai dengan serangan terhadap kapal tanker di selat tersebut. Washington menuding Teheran bertanggung jawab, sementara Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab. Gencatan senjata tak tertulis akhirnya tercapai pada akhir pekan lalu, memberikan harapan bagi solusi diplomatik.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan. Dalam percakapan tersebut, Araghchi menekankan pentingnya memperkuat kerja sama regional dan upaya diplomatik bersama untuk menciptakan stabilitas di kawasan. Ia juga menyalahkan tindakan agresif Amerika Serikat sebagai penyebab ketegangan di Selat Hormuz.

Baca juga:
Komisi III Minta Tim 9 Kejagung Tak Main-Main Usut Kasus Febrie Adriansyah

Di tengah situasi ini, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa negosiasi berjalan baik namun tetap mengancam akan melanjutkan serangan militer. Namun, hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa hanya satu dari tiga warga AS yang mendukung kampanye militer terhadap Iran, angka terendah sejak konflik dimulai. Sebanyak 69 persen responden menilai Trump gagal menjelaskan tujuan AS dalam konflik tersebut.

Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa setiap upaya AS untuk memblokade laut akan dianggap sebagai eskalasi perang. Komando militer Iran melalui pernyataan yang disiarkan Fars News Agency menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan ancaman atau tindakan bermusuhan tanpa balasan.

Pasar keuangan global merespons positif jeda konflik ini, dengan bursa saham menguat dan harga minyak menurun. Para analis menilai bahwa inisiatif diplomasi regional seperti usulan Oman dapat menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia.

Baca juga:
Menlu Iran Abbas Araghchi Cerita Detik-Detik Hampir Tewas Bersama Khamenei dalam Serangan AS-Israel

Perundingan antara Oman dan Iran di Teheran pada akhir Juli lalu menjadi langkah awal dalam merealisasikan proposal ini. Meskipun masih terdapat perbedaan teknis, sumber Al Jazeera menyebutkan bahwa Iran menunjukkan sikap yang lebih fleksibel. Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah mekanisme regional ini dapat diterapkan untuk mengamankan Selat Hormuz dari ancaman konflik berkepanjangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *