Berita  

Gus Lilur Garap Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Desak KH Miftachul Akhyar Mundur

Gus Lilur Garap Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Desak KH Miftachul Akhyar Mundur
Gus Lilur Garap Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Desak KH Miftachul Akhyar Mundur

Sorothari – 29 Oktober 2026 | Pengusaha Nahdlatul Ulama (NU) HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang dikenal sebagai Gus Lilur, tengah merintis kembali jaringan bisnisnya di Vietnam. Dua sektor yang menjadi fokus adalah perdagangan batu bara dan pengembangan budi daya benih bening lobster (BBL). Di tengah aktivitas bisnis tersebut, ia tetap mendesak pengusutan dugaan jual beli suara dalam Muktamar ke-35 NU dan menyerukan agar KH Miftachul Akhyar mundur dari jabatan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kunjungan kerja Gus Lilur ke Hanoi dan Ho Chi Minh City disebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali hubungan perdagangan yang pernah dirintis sejak 2015. Menurut keterangannya, ia menerima undangan dari jaringan mitra bisnis di Vietnam. “Kekuasaan berganti, kekuasaan dipergilirkan. Beberapa sahabat saya dahulu memegang posisi di sana. Lalu berganti. Kini mereka, atau lingkaran mereka, kembali memegang peran. Pintu itu terbuka lagi, dan saya masuk,” ujar Gus Lilur dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).

Baca juga:
Kemenkeu Klarifikasi Peredaran Hoaks Video Menkeu Purbaya Soal Bantuan Dana Hibah

Dalam agenda perdagangan batu bara, Gus Lilur menyebut pembahasan kontrak pasokan telah memasuki tahap lanjutan. Penandatanganan kontrak direncanakan berlangsung pekan depan, dengan spesifikasi batu bara Indonesian Coal Index (ICI) 1 hingga ICI 5 dan skema penyerahan Cost, Insurance and Freight (CIF) Vietnam. Volume pasokan yang dibicarakan mencapai 20 juta metrik ton. Namun, hingga keterangan itu disampaikan, kontrak tersebut belum ditandatangani dan angka tersebut masih merupakan proyeksi, bukan realisasi pengiriman yang telah terkonfirmasi.

Gus Lilur menegaskan bahwa peluang kontrak batu bara Vietnam tidak seharusnya diberitakan sebagai transaksi yang telah selesai sebelum seluruh tahapan benar-benar terlaksana. “Kontrak belum diteken. Kapal belum berlayar. Saya tidak mau dipuji karena sesuatu yang belum terjadi. Nanti saja, kalau barangnya sudah jalan,” ujarnya. Ia menjelaskan, kepastian perdagangan masih bergantung pada kesepakatan harga berdasarkan spesifikasi, jadwal pengapalan, pemenuhan perizinan, serta pelaksanaan kewajiban masing-masing pihak.

Selain batu bara, Gus Lilur juga membangun kembali jaringan kerja sama di bidang budi daya benih bening lobster. Sektor ini menjadi fokus kedua dalam kunjungannya ke Vietnam. Menurutnya, kunjungan tersebut membuka kembali komunikasi dengan jaringan bisnis yang sempat terputus. “Saya tidak sedang menawarkan. Saya yang diundang, dan saya yang ditawari,” kata Gus Lilur.

Di tengah upaya memperkuat perdagangan Indonesia–Vietnam, Gus Lilur tetap menaruh perhatian pada persoalan internal NU. Ia mendesak penegakan hukum atas dugaan praktik riswah atau jual beli suara dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Ia juga kembali menyerukan agar KH Miftachul Akhyar mengundurkan diri dari jabatan Rais Aam PBNU. Menurut Gus Lilur, prinsip keterbukaan harus diterapkan dalam kegiatan bisnis maupun kehidupan jam’iyyah. “Saya tidak sedang menjalani dua hidup. Di dagang maupun di jam’iyyah, ukurannya satu: berani dibuka, berani diperiksa,” tegasnya.

Baca juga:
Polemik Penawaran Advertorial Tempo ke Agrinas, Pengamat Soroti Independensi Media

Desakan kepada KH Miftachul Akhyar muncul di tengah aktivitasnya sebagai Rais Aam PBNU. Pada Sabtu (24/10/2026), KH Miftachul Akhyar menghadiri pelantikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031 di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya dakwah yang mengedepankan kasih sayang dan merangkul umat, bukan memukul atau menjauhi mereka. “Kita harus mencari cara berdakwah dengan merangkul mereka, bukan memukul,” ujarnya. Pelantikan tersebut turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua Umum PBNU Abdul Hakim Mahfudz, dan sejumlah pengurus lainnya.

KH Miftachul Akhyar menjelaskan, semangat kasih sayang dan persaudaraan merupakan nilai penting yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat. Nilai-nilai itu juga menjadi landasan NU sebagaimana diwariskan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. “Oleh karena itu, Hadratus Syekh Raisul Akbar KH Hasyim Asy’ari mengajak kita berkumpul dalam wadah yang diberkahi, yaitu Nahdlatul Ulama, dengan berlandaskan mahabbah, mawaddah, dan ittishal,” jelasnya.

Sementara itu, di Situbondo, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dijadwalkan menghadiri acara puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kantor PCNU Situbondo pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ketua Tanfidziyah PCNU Situbondo KH Muhyiddin Khatib mengatakan, acara tersebut juga akan diisi peresmian gedung NU dan fasilitas aula. “Alhamdulillah, InsyaAllah sudah 90 persen. Hal-hal teknis masih dibicarakan dan kami terus berbenah,” ujarnya. Fasilitas yang akan diresmikan meliputi Aula KHR. As’ad Syamsul Arifin dan ruang rapat KHR. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin.

Kehadiran sejumlah pimpinan PBNU dalam kegiatan tingkat cabang dinilai sebagai momentum penting bagi penguatan organisasi. PCNU Situbondo memperkirakan peserta mencapai 600 hingga 650 orang dari perwakilan sekitar 170 ranting dan 18 MWCNU. Pengamanan melibatkan Banser, GP Ansor, Pagar Nusa, dan kepolisian. KH Muhyiddin juga berpesan agar santri tidak tertinggal dalam penguasaan teknologi digital. “Kalau saat ini sudah masa digital, santri tidak boleh tertinggal dalam soal digitalisasi,” ujarnya.

Baca juga:
Kepala BKN Dorong ASN Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas demi Pelayanan Publik

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari PBNU terkait desakan mundur terhadap KH Miftachul Akhyar. Sementara itu, rencana penandatanganan kontrak batu bara Gus Lilur di Vietnam masih menunggu kepastian jadwal dan pemenuhan persyaratan. Publik akan menantikan perkembangan kedua agenda tersebut, baik di ranah bisnis lintas negara maupun dinamika internal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *