Sorothari – 01 November 2026 | Penggunaan chat GTP di tubuh NK Osijek menjadi sorotan setelah laporan menyebutkan bahwa pernyataan resmi klub konon ditulis oleh kecerdasan buatan tersebut. Informasi ini muncul di tengah gejolak internal yang memanas, menyusul kepergian sport director Kenneth Zandvliet dan meningkatnya ketegangan antara manajemen dengan para pendukung setia. Menurut laporan yang beredar, suasana di klub sangat tidak kondusif, dengan presiden Alexandra Vegh disebut tidak bersahabat terhadap staf yang telah lama mengabdi. Situasi ini memicu pertanyaan besar tentang arah kebijakan klub dan bagaimana teknologi seperti chat GTP digunakan dalam operasional sehari-hari.
Laporan dari media lokal mengungkap bahwa staf klub merasa terpinggirkan dan tidak lagi dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting. Salah satu indikasi yang mencuat adalah klaim bahwa siaran pers resmi klub kini ditulis menggunakan chat GTP, bukan oleh tim humas internal. Hal ini diperkuat dengan adanya informasi bahwa seluruh tim PR telah menerima pemberhentian, dan tugas mereka akan dialihkan ke pihak eksternal yang dinilai lebih hemat biaya. Keputusan ini menuai kritik karena sebelumnya tim humas Osijek pernah meraih penghargaan sebagai press service terbaik pada tahun 2021, sebuah prestasi yang menunjukkan kualitas kerja mereka.
Baca juga:Ketegangan di dalam klub bukan hanya soal penggunaan chat GTP atau perampingan staf. Para karyawan dilaporkan hidup dalam ketidakpastian, dengan rasa takut akan PHK yang datang tiba-tiba. “Setiap hari seperti roulette baru,” ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan kondisi psikologis yang tidak sehat. Staf merasa tidak aman dan terus-menerus bertanya-tanya siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Kondisi ini kontras dengan manajemen sebelumnya yang, meskipun tidak selalu mengambil keputusan terbaik, setidaknya memperlakukan karyawan dengan hormat dan adil.
Di sisi lain, kebijakan penghematan yang diterapkan presiden Vegh dinilai tidak konsisten. Klub disebut mendatangkan tenaga ahli dari Spanyol, Prancis, dan Inggris dengan biaya tinggi, sementara investasi untuk tim senior justru minim. Kebijakan ini dianggap tidak masuk akal karena tanpa pembenahan skuad, prestasi di lapangan sulit diharapkan. Vegh dikabarkan lebih memprioritaskan penerapan kecerdasan buatan dan ilmu pengetahuan, namun banyak pihak menilai bahwa aset terbesar klub tetaplah manusia dan potensinya. Ketidaksesuaian visi ini diduga menjadi penyebab utama keretakan hubungan antara Zandvliet dan manajemen, yang berujung pada kepergiannya.
Baca juga:Dampak dari situasi ini terasa hingga ke tribun. Para pendukung Osijek menyuarakan kekecewaan mendalam dan merasa telah dikhianati oleh pemilik asal Hongaria. Kepercayaan terhadap manajemen merosot tajam, bahkan beberapa suporter yang telah setia lebih dari 50 tahun tengah mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang keanggotaan dan tiket musiman untuk musim depan. Mereka menilai klub telah kehilangan koneksi emosional dengan kota, masyarakat, dan pendukungnya. Jika hasil pertandingan tidak segera membaik, gelombang protes diprediksi akan semakin besar.
Penggunaan chat GTP dalam komunikasi klub menjadi simbol dari pendekatan yang dianggap terlalu teknokratis dan mengabaikan sentuhan manusiawi. Meskipun teknologi kecerdasan buatan dapat meningkatkan efisiensi, penerapannya tanpa mempertimbangkan aspek human relations berisiko memperlebar jurang antara manajemen dan pemangku kepentingan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak NK Osijek maupun Alexandra Vegh terkait tuduhan penggunaan chat GTP dan gelombang PHK yang terjadi. Publik menanti klarifikasi dan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan yang telah terkikis.
Baca juga:Sebagai perkembangan terbaru, sejumlah pengamat sepak bola nasional menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan klub. Mereka berpendapat bahwa inovasi teknologi seperti chat GTP seharusnya tidak menggantikan peran sumber daya manusia yang telah terbukti kompeten, terutama dalam hal komunikasi publik yang membutuhkan empati dan pemahaman konteks lokal. Kasus Osijek menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub lain bahwa modernisasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tradisi yang telah membangun identitas klub.












