ADRO Jadi Rekomendasi di Tengah Tekanan IHSG, Asing Catat Net Sell Rp18,11 Miliar

ADRO Jadi Rekomendasi di Tengah Tekanan IHSG, Asing Catat Net Sell Rp18,11 Miliar
ADRO Jadi Rekomendasi di Tengah Tekanan IHSG, Asing Catat Net Sell Rp18,11 Miliar

Sorothari – 20 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih dibayangi tekanan jual pada perdagangan pekan ini. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sekuritas tetap menempatkan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dalam daftar rekomendasi. Bahana Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak melemah pada Senin (19/10/2026) di rentang 5.000-5.300, dengan saham ADRO, BBNI, ANTM, hingga BBRI masuk dalam jajaran saham pilihan.

Proyeksi itu disampaikan Retail Research & Investment Bahana Sekuritas, Dimas Wahyu Putra Pratama, CTA, dalam riset yang dirilis hari itu. Menurutnya, arah pergerakan indeks masih dipengaruhi tekanan teknikal. “Secara teknikal IHSG Senin 19 Oktober 2026 diperkirakan akan bergerak melemah,” ujar Dimas.

Baca juga:
Saham BBRI Tertekan di Tengah Arus Beli dan Rekomendasi Analis

Meski begitu, sejumlah sektor dinilai masih menarik dicermati pelaku pasar, meliputi IDXTECH, IDXINDUS, IDXINFRA, IDXCYC, IDXPROP, IDXGEALTH, IDXTRANS, IDXBASIC, dan IDXENER. Rekomendasi ini muncul setelah IHSG mengalami penurunan tajam pada Jumat (16/10/2026). Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup di level 5.185,105, anjlok 678,675 poin atau 11,57% dibanding penutupan sebelumnya.

Tekanan jual terasa sejak awal sesi. IHSG dibuka di level 5.393,924 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.404,508 sebelum jatuh ke level terendah yang sekaligus menjadi level penutupan. Pelemahan indeks terjadi setelah MSCI mengumumkan rencana konsultasi pemindahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Deretan saham menjadi pemberat pergerakan indeks. Saham BBCA turun 11,81%, BBRI terpangkas 14,84%, BMRI anjlok 14,82%, TLKM merosot 14,80%, dan AMMN melemah 14,81%. Di tengah tekanan pasar, investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp3.343 miliar.

Kondisi bursa global memberikan sentimen beragam. Bursa Wall Street ditutup melemah akibat tekanan jual pada saham teknologi semikonduktor seiring kekhawatiran tingginya biaya modal kecerdasan buatan (AI) serta potensi pengetatan moneter lanjutan oleh Federal Reserve. Namun, bursa Asia mayoritas menguat ditopang aksi beli murah (bargain hunting) dan penurunan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke level 5,08%. Di pasar komoditas, harga minyak dunia menguat akibat naiknya tensi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Dari sisi domestik, BEI terus membangun komunikasi intensif dengan MSCI dan investor global. Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menegaskan bursa akan menjalankan masukan dari MSCI serta melanjutkan agenda reformasi pasar modal. Saat ini, kapitalisasi pasar Indonesia dalam indeks MSCI turun hingga 55%, dengan bobot menyusut dari 1,16% menjadi 0,43% serta jumlah konstituen tersisa sembilan saham per akhir September 2026.

Baca juga:
Bank Mandiri Beberkan Alasan Kucurkan Kredit Jumbo ke Haji Isam, Saham JARR dan PGUN Jadi Agunan

Tekanan terhadap ADRO juga terlihat pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp182,94 miliar hingga sesi pertama. Saham yang paling banyak dijual asing adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp34,93 miliar, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp25,86 miliar, dan ADRO yang dijual asing hingga Rp18,11 miliar.

Saat itu, IHSG ditutup merosot 2,16% ke 5.814 pada sesi pertama. Hanya 80 saham menguat, 621 saham terkoreksi, dan 89 tidak bergerak. Secara year to date (ytd), IHSG anjlok 32,75% dan tergelincir 10,02% dalam sebulan terakhir. Nilai transaksi saham siang itu mencapai Rp8,57 triliun dengan volume 22,43 miliar saham dan frekuensi 1,09 juta kali. Adapun kapitalisasi pasar IHSG siang itu Rp10.225 triliun.

Dari sebelas sektor di BEI, seluruhnya berada di zona merah. Sektor energi mencatat penurunan terbesar, terperosok 3,71%. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 4,85% ke Rp3.920. Bursa saham Asia juga seluruhnya merah: Hang Seng turun 1,33%, Nikkei terkoreksi 4,52%, Shanghai Composite turun 2,24%, dan Straits Times tergelincir 0,69%.

Meski demikian, ADRO sempat menunjukkan penguatan pada awal sesi Rabu (14/10/2026). Harga saham ADRO bertambah 2,3% menjadi Rp2.570 per saham, setelah dibuka naik 20 poin ke Rp2.540. Saham ADRO berada di level tertinggi Rp2.580 dan terendah Rp2.530, dengan frekuensi perdagangan 1.040 kali, volume 48.001 saham, dan nilai transaksi Rp12,3 miliar. Pada saat itu, IHSG dibuka naik 0,25% ke 5.940 dan menguat 0,67% menjadi 5.965 pada pukul 09.16 WIB. Seluruh sektor saham menghijau, termasuk sektor energi yang naik 0,85%.

Sehari sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melemah pada Rabu (14/10). Secara teknikal, candle terakhir membentuk hammer di area support 5.850-5.800 sehingga membuka peluang technical rebound, tetapi MACD masih menunjukkan momentum bearish. “Jika support ditembus, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan menuju 5.750, sementara resistance terdekat berada di 6.000-6.020,” tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas. Mereka merekomendasikan EMAS, PTBA, dan ERAA.

Baca juga:
IHSG Reli 9 Hari Berturut-turut, ANTM Jadi Buruan Investor Asing

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, merekomendasikan ADRO, ARCI, dan CTRA. Menurut dia, secara teknikal tekanan penurunan IHSG diperkirakan mulai terbatas karena indeks telah mencapai area wave (X) dengan support paling krusial di 5.851, sehingga peluang rebound sementara mulai terbuka.

Pada Selasa (13/10/2026), BNI Sekuritas juga memasukkan ADRO dalam rekomendasi harian bersama BBCA, INDF, KLBF, MAPA, dan ANTM. Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpotensi menguat terbatas ke 5.980-6.000, tetapi investor diminta hati-hati jika gagal break di atas 6.020. IHSG saat itu diprediksi bergerak di kisaran 5.800-6.020.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan ADRO dan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama kebijakan Federal Reserve, harga komoditas, serta hasil komunikasi BEI dengan MSCI. Pelaku pasar diperkirakan mencermati setiap perkembangan untuk menentukan arah investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *